Salam Rindu Untuk Ayana

Azmi Robby
Karya Azmi Robby Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 April 2017
Salam Rindu Untuk Ayana

           

Ayana,

Cinta pertamaku, apa kabar?. Aku rindu sekali. Aku merindukan suaramu saat kamu mengucapkan selamat tidur pada setiap malamku.

Aya,

Malam ini dingin sekali. Hujan menghujam deras dari siang tadi. Selama enam jam, langit konstan menjadi gelap. Sang mentari tak bisa apa-apa karena terhalang oleh pekatnya awan. Lalu kini, malam telah menjadi lebih gelap tanpa adanya aliran sinar rembulan.

Aya,

Apa kabar kamu disana?. Pasti sudah bahagia bersama cinta sejatimu kan?. Aku cemburu tentu saja Aya. Walaupun aku belum sempat menjadikan kamu milikku. Tetap saja, perasaan ini selalu jujur dan tidak akan pernah bisa dimanipulasi. Aku tidak bohong Aya, aku masih mendambakan kamu. Menjadikan kamu pasangan ku adalah cita-citaku. Kamu harus tahu itu!.

Aya,

Tepat pada pukul 00.00 nanti, aku akan berulang tahun untuk yang ke 25 kalinya. Sudah 6 kali aku ulang tahun tanpa hadirnya kamu . Pada ulang tahunku nanti, aku akan mengharapkan cinta sejatiku akan segera datang. Tapi, tenang saja. Perasaanku terhadapmu akan selalu sama. Kamu harus yakin dan percayai hal itu. Harus. Kamu adalah yang pertama. Walaupun bisa jadi tak sama bagimu terhadapku.

Aya,

 Apakah kamu masih ingat makanan kesukaanku?. Kalau aku, tentu saja masih hafal betul makanan kesukaanmu. Aku juga masih ingat kapan waktu kamu untuk minum cokelat hangat. Warna apa yang kamu suka.  Sepatu apa yang kamu suka untuk dipakai dihari Senin. Pelajaran apa yang kamu suka. Siapa guru yang paling membuatmu jengkel. Banyak hal Aya. Banyak hal yang selalu aku ingat tentang kamu. Terlalu banyak kenangan yang kamu simpan dalam memoriku. Pada malam ini kenangan-kenangan itu berhamburan keluar tak terkendali.

Aku mengingat hari itu. Hari perdana hatiku meleleh karena senyum lembutmu. Senyum yang sederhana tapi mampu mengalahkan kalimat-kalimat romantis para pujangga. Menusuk tepat ditengah hati, tepat sasaran. Saat itu, kamu datang ke ruang klub musik sebagai anggota baru. Waktu itu kamu rambutmu masih sedagu , belum bisa diikat. Dengan malu-malu kamu mengucapkan salam, lalu masuk ke studio musik sekolah dengan menunduk. Langkahmu kecil-kecil, lucu.

Kamu berdiri dengan malu-malu didepanku. Teman-temanku hanya berbisik-bisik tentang betapa manisnya dirimu. Kamu memperkenalkan diri. Kamu jadi yang pertama memperkenalkan diri dari beberapa orang anak baru disampingmu. Nama lengkapmu Lhaksmiwati Ayana, kamu anak bungsu dari 5 bersaudara, kamu lahir di Jepang tapi besar di Bandung, kamu suka musik jazz, kamu murid kelas 10 A. Aku masih hafal gesturmu saat itu. Saat itu pula, hatiku berdesir untuk yang pertama kali. Sebagaimana yang kamu tahu Aya, sampai kelas 11 aku belum pernah sekalipun jatuh hati kepada perempuan apalagi berpacaran. Akhirnya, saat kamu memperkenalkan diri dihadapanku waktu itu. Aku baru mengerti bagaimana maksud keindahan senyuman wanita dipuisi cinta yang aku baca.

Setelah semua anggota baru memperkenalkan diri. Kamu menghampiri temanku yang berada disampingku, seketika aku mendadak kikuk. Kamu menyalaminya, mengajak kenalan. Kamu orang yang ramah. Lalu setelahnya, kamu menghampiriku. Mendekat dengan malu-malu. Aku tambah kikuk. Kamu menyodorkan tangan. Lama, aku membalasnya. Aku terdiam dulu sesaat itu. Kamu lalu tiba-tiba tersenyum padaku, dan semua hal dalam detik itu terasa berhenti. Aku kaget bukan main, hatiku luluh bersamaan.

“A, Aris, Aristo Sudrajat”. Akhirnya aku berbicara dan membalas jabatan tanganmu.

“Bagus, bagus nama kakak”. Ah kamu, kamu membuat aku lebih grogi.

“Aku panggil Kak Aris aja?” Tanyamu.

Aku hanya mengangguk. Lalu kamu tersenyum lagi. Untung saja, aku bisa membalas senyummu yang kedua itu.

Haha, lucu memang jika aku ingat kejadian itu. Setelah kejadian itu kamu makin terlihat nyaman jika sedang berdialog denganku. Hari demi hari aku makin jatuh hati padamu.

Aya,

Aku memang tidak pernah mengatakan bahwa aku cinta kamu. Perasaanku berubah menjadi sayang bersama makin dekatnya hubungan kita. Perhatianmu padaku mampu sedikit menggantikan sosok ibu yang telah hilang dari hidupku. Bagiku yang piatu, kamu adalah wanita yang paling bisa memahamiku. Disisi lain aku merasa bersalah karena tidak pernah mengajakmu untuk menjajaki hubungan yang lebih jelas. Seperti berpacaran. Aku tahu dari temanmu kalau kamu terasa seperti mempunyai hubungan yang tidak jelas denganku. Sempat beberapa kali, temanmu itu memaksaku untuk menembakmu. Tapi tidak tahu mengapa aku malah menjadi lelaki super tidak mengerti. Sampai akhirnya waktu mencemooh diriku ketika kamu pergi, aku baru menyadari kesalahanku. Itu adalah, kesalahan yang sampai sekarang masih membebani hatiku. Bersemayam terus menerus sejak 6 tahun lalu.

            Aya,

            Hujan akhirnya mereda. Tapi tidak dengan perasaan rindu ini. Kilas balik tadi membuat perasaan ini makin nyaring berteriak. Aku kembali menginginkan kamu. Aku makin ingin kamu. Dan aku makin menyesal karena tidak pernah menjadikanmu kekasihku. Menyesal karena tidak pernah menyatakan bahwa aku cinta dan sayang padamu.

            Aya,

            Menurutku, cinta dikatakan atau tidak dikatakan akan tetap cinta. Sama denganku padamu. Jika aku mengatakan ataupun tidak mengatakan aku cinta kamu. Semua tidak akan berubah bukan? Aku tetap mencintaimu, dan aku percaya hal itu. Mungkin kamu bisa merasakan perasaanku yang tulus lewat caraku memperhatikanmu, bagaimana caraku untuk memperdulikanmu, lalu seperti apa aku menjaga perasaanmu. Tapi sepertinya hal itu belum bisa mengabulkan semua keinginanmu. Semua itu hanya pikiran naifku tentang hubungan, perasaan kita berdua.

Aya,

            Aku merindukanmu bersama harum bunga yang disirami  hujan. Aku menginginkan kamu kembali kehadapanku. Lalu aku akan berjanji setia mencintai kamu. Menjadikan kamu satu-satunya pemilik hatiku ini. Bersama-sama berjalan berbahagia, sehidup semati. Lalu, apapun yang kamu mau aku akan berusaha menjadi lelaki yang  bekerja keras untuk mengabulkanya.

 

Aya,

            Apakah kamu rindu juga padaku?.

            Esok, jika sempat aku akan berkunjung ketempatmu. Akan aku bawakan rangkaian bunga yang harum untuk kamu. Jika mungkin kamu bisa menghitung mundur ketika aku akan meniup lilin.

            Selamat malam, tidurlah yang tenang disamping cintamu itu, Ayana.

 

 

            Bersambung.

 

Ilustrasi dibuat oleh Mahasiswa DKV Telkom. Bisa dikepoin lewat instagramnya  @fadl.in.

  • view 136