Terang Bulan

Azmi Robby
Karya Azmi Robby Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Januari 2017
Terang Bulan

 

Terang bulan purnama menyinari jalan pulang ketika listrik seluruh komplek padam. Tanggal 15 Juni, tepat tengah bulan. Hawa dingin selepas hujan menusuk punggungku yang hanya tertutup oleh kemeja panjang bau keringatku. Selepas sampai,malam ini aku ingin segera mandi, makan lalu berbaring. Lelah sekali, sungguh.

Kembali, ku mengadah kelangit. Si Bulan terus  bersinar. Awan-awan disekelilingnya seperti tak mau menutupi jalur cahayanya. Bayangan tubuhku semakin jelas. Rambut tak karuanku terlihat semakin aneh tercerminkan oleh bayangan. 

Aku sampai di tempat aku tinggal. Kost paling murah di penjuru kota besar ini. Kamar sempit, bau, lembab. Yah, yasudah. Menikmati, adalah jalan satu-satunya agar aku tidak stress. Aku tidak mau ke-stress-an ku bertambah. Dengan tugas akhir kuliahku yang mandeg. Hutang dengan ibu kost karena sudah 3 bulan belum dibayarkan. Ayah yang akan segera pensiun tahun ini. Memang, hidup. Terasa memusingkan jika dipikirkan. Tidak usah dipikirkan?. Cobalah sendiri. Aku berani bertaruh, akan selalu ada sesuatu yang bisa membuatmu kembali memikirkan hal-hal yang memusingkan itu. Memuakkan.

Selesai mandi. Ku coba bereskan sesampahan yang berserakan dikamarku. Kaleng minuman ringan, plastik minimarket, wadah mie instan. Dan sampah-sampah yang tak sempat kubereskan karena terlalu sibuk dengan kuliah. Suasana penat menjalar terasa olehku. Lalu kubuka jendela kamar. Seketika cahaya bulan menyeruak masuk kamar lembabku. Angin di kamarku terasa lebih kencang. Menerbangakan debu-debu yang sedang nyaman bersemayam di tirai kamarku.

Kuingat potongan demi potongan masa lalu. Ketika aku tidak harus se-stress ini memikirkan apa yang akan aku lakukan besok. Ketika semua terasa menyenangkan walaupun itu sebenarnya adalah hal yang menyedihkan. Lalu ku perhatikan kembali bulan yang sama itu, tiba-tiba aku teringat.

“Bulanya terang ya Bi, bulat sempurna.”

“Haha, iya benar. Sama seperti yang di film tadi.” Lalu disepanjang perjalan pulang kau terus mengoceh tentang bulan terang diatas. Kamu menjadi mendadak melankolis malam itu.

Refleks, aku bongkar lemariku. Berharap bisa menemukan buku itu. Ku cari dengan tidak sabaran. Lemariku semakin acak-acakan. Baju yang sudah terlipat rapi dari laundry sudah hilang berubah menjai bentuk yang amburadul. Lalu ku beranjak menuju kolong ranjang. Tanganku merasa menyentuh banyak sekali jaring laba-laba dan debu. Segera kutarik kotak pertama yang kusentuh. Kotak kardus penuh debu itu kubuka dengan cepat membuat debu-debu berterbangan disekitar muka. Lalu kutemukan buku itu. Kubuka perlahan, dan aku menemukanya.

Saat ini,

Ketika kau memandang purnama

Percayalah aku dan kamu memandang purnama yang sama

Berterimakasih akan banyak hal

Tentang kamu dan aku

Mensyukuri semua kesempatan

Pertemuan aku dengan kamu

Semoga, sang pencipta purnama itu

Mengizinkan aku

Memandang purnama itu bersamamu

Dari satu bingkai jendela yang sama

 

Teringat malam itu ketika aku menuliskanya khusus untukmu. Setelah tiga purnama terlewat semenjak malam itu. Aku senang bukan main waktu itu. Kamu juga terlihat senang ketika aku memberikan puisiku itu

Mungkin kamu tidak mengetauhi betapa aku menjadi terobsesi terhadap bulan purnama. Aku mencari tahu banyak hal tentang bulan purnama. Ku baca banyak literatur tentang itu. Sampai aku mengulang-ngulang lagu keroncong koleksi Ibuku yang kebetulan berjuduk ‘Terang Bulan’ bagiku waktu itu yang dimaksud oleh lagu itu adalah purnama. Aku tidak memikirkan jika aku salah waktu itu. Aku teramat bersemangat. Ku lakukan tanpa komando hanya untuk membuatmu selalu tertarik ketika aku memberimu kabar bahwa purnama telah tiba.

Setelah banyak purnama terlewati. Akhirnya waktu yang berhasil membuatku berhenti untuk mengatakan bahwa purnama telah tiba padamu. Atau mungkin aku yang terlalu sering mengatakanya kepadamu. Menceritakan dengan melas ketika purnama itu terhalang awan gelap. Bercerita dengan riang ketika cahaya purnama itu mampu menyilaukan. Hingga akhirnya kau bosan.

Kini, kamu jauh disana. Ingin sekali aku mengabarkanmu bahwa purnama telah tiba. Aku senyum-senyum sendiri mengahadap jendela, masih menatap si Bulan. Kubuka lembar selanjutnya yang kosong dari buku lusuh itu. Perlahan ku tuliskan.

Saat ini,

Ketika aku menatap purnama

Aku percaya, kamu disana menatap purnama yang sama

Berterima kasih pada waktu

Akan momen seperti ini

Lalu berharap,

Tentang pertemuan aku dan kamu

Semoga si pencipta purnama itu

Masih memegang doaku tempo hari

”Memandang purnama itu bersamamu

Dari satu bingkai jendela yang sama”

Kamu harus tahu, ketika suatu saat aku lupa namamu. Aku akan mengingatmu dengan nama Si Bulan. Aku mencintaimu dari jauh. Dan aku hanya butuh satu kejadian untuk selalu mengingatmu. Cukup satu. Satu.

 

  • view 115