Antara si Kaya dan si Miskin

Azmi Hafizhuddin
Karya Azmi Hafizhuddin Kategori Agama
dipublikasikan 16 Juni 2016
Antara si Kaya dan si Miskin

Ada banyak perbedaan antara si kaya dan si miskin baik dari segi fisik, sifat, pakaian, sampai gaya berjalan. Tentunya hal-hal tersebut sudah lumrah dan nampak, ada satu hal lain yang menarik dari perbedaan tersebut, apakah itu? Ialah kepekaan sosial.

Banyak orang kaya yang dermawan dan rela menyumbangkan hartanya bagi orang yang membutuhkan, namun dibandingkan dengan orang kaya lainnya jelas orang kaya dermawan masih menjadi minoritas.

Dalam masalah kepekaan sosial orang miskin berada jauh diatas kita. Tolak ukur kepekaan sosial bermacam-macam tidak melulu soal uang yang disumbangkan, banyak hal yang dapat mewakili gerak kepekaan sosial.

Kita ambil contoh jika ada pengemis menghampiri kita, terdapat tiga lembar uang di dompet. Ada yang warnanya merah (seratus ribu) ada juga yang berwarna biru (lima puluh ribu) dan warna abu-abu (dua ribu). Kadang kita refleks mengambil uang berwarna abu-abu agak kucel lalu memberikannya, kemudian berlalu begitu saja tanpa sempat bertanya, kenapa kok tadi susah banget ngasih yang warna merah ya?

Sedangkan disisi lain, orang miskin berani memberikan rejekinya kepada orang lain lebih dari setengah harta yang dimilikinya. Contoh lagi ya, seumpama orang miskin hanya memiliki sepotong roti untuk ia makan tanpa fikir panjang ia berani memotong roti menjadi dua bagian dan memberikan setengah rotinya kepada sesamanya yang juga kelaparan.

Kalau roti itu ibarat uang tiga lembar disaku kita tadi, harusnya kita berani ngasih setengahnya juga ya. Tapi ternyata tidak. Ada apa gerangan?

Saya kira akar dari perbedaan tersebut adalah masalah seputar hubbuddunnya atau cinta dunia. Kita yang sudah merasakan nikmatnya hidup di dunia, makan enak, minum nikmat, pakaian serba bagus ditambah gadget yang gonta-ganti diluar kebutuhan jadi agak takut merasakan hal yang tidak enak. Padahal hidup di dunia hanya sesaat, ibarat menyeberangi jembatan cuma lewat doang. Ada tujuan utama setelah melewati jembatan itu.

Sedang si miskin sudah tau makna hidup itu hanya sesaat, jadi buat apa serakah. Sudah hidup susah kalau serakah pula nanti mau dapat apa. Hilang sudah cinta dunia terganti dengan cinta akhirat. Mereka memilih sabar, hidup berbagi dan peka terhadap sosial.

Lalu apa strategi kita agar tidak hubbudunnya atau cinta dunia?

Ada satu bulan yang Allah siapkan untuk kita agar tidak terus menerus hubbudunnya, ialah bulan ramadhan. Bulan dimana kita ditempa dengan ibadah yang bernama puasa.

Puasa, mengajarkan kita untuk bagaimana merasakan lapar dan dahaga, merasakan apa yang orang miskin rasakan setiap harinya. Dalam sebulan kita dididik agar menjadi manusia yang tidak hanya cinta dunia tapi juga cinta akhirat. Diajari agar menahan hawa nafsu selama puasa, belajar berdisiplin waktu kapan sahur dan kapan berbuka puasa, menjaga pandangan, pendengaran dan ucapan.

Dalam sebulan itu kita dapat beristifadhah atau mengambil pelajaran untuk menjadi manusia yang rabbani yang melakukan segala hal hanya untuk menggapai ridho-Nya. Maka inilah kesempatan kita untuk tidak hanya menjadi hubbudunnya tapi juga hubbulaakhirah, rindu akan pertemuan dengan Sang Pencipta di Firdaus syurga-Nya yang paling tinggi.

Selamat menempa diri, jangan sampai ramadhan kali ini hanya berbekas lapar dan dahaga saja. Mari kita ambil hikmah dari si kaya dan si miskin tadi. Semoga ramadhan ini moment pas untuk kita bermertamorfosis menjadi insan tidak hanya hubbudunnya tapi juga hubbulaakhirah.

 

sumber gambar : http://thumbs.dreamstime.com/z/rich-poor-25732039.jpg

  • view 634