Seleksi

Azmi Hafizhuddin
Karya Azmi Hafizhuddin Kategori Budaya
dipublikasikan 14 Juni 2016
Seleksi

Ketika kita akan masuk kedalam sebuah sekolah atau lembaga pendidikan tentu hal yang paling pertama dilakukan adalah seleksi masuk. Sekolah umpamanya selalu mengadakan test bagi calon muridnya agar tersaring bibit-bibit unggul guna matang dalam pendidikan nantinya yang kemudian menghasilkan murid yang sesuai visi dan misi sekolah tersebut.

Seleksi memang sangat dibutuhkan melihat karakter anak-anak sekarang yang beraneka ragam. Sekolah berhak menentukan siapa yang lolos atau tidak di lembaga pendidikannya.

Namun yang menjadi permasalahan adalah, sistem penyeleksian tersebut apakah bersih ataukah ada campur tangan kepentingan dalam sebuah lembaga pendidikan. Melihat tujuan utama seleksi sangat urgen, maka bila ada campur tangan kepentingan tertentu yang tidak sesuai dengan kaidah pendidikan didalamnya tentu akan mengganggu keintensif-an seleksi, jika seperti itu maka inilah yang dinamakan bibit penyakit.

Saya menemukan di beberapa lembaga pendidikan dalam penyeleksian calon siswa ada cara ilegal yang tidak sengaja menjadi halal bagi lembaga tersebut, katakanlah kepentingan diluar area kependidikan mengontaminasi jalannya seleksi.

Karena sebuah kepentingan tersebut terjadilah nepotisme, suap menyuap, jalur relasi dan lain sebagainya dengan dalih kesejahteraan dana yang akan didapat jika meloloskan calon siswa tersebut, atau pamor yang akan diraih setelahnya, nama baik yang terangkat, relasi yang didapat dan eksistensi lembaga nantinya.

Saya sengaja mengangkat pembahasan ini bukan semata menganak tirikan calon siswa yang secara akademis tidak sampai pada nilai minimal kelulusan. tapi semata-mata hanya menyinggung soal moral lembaga pendidikan dan hak calon siswa yang sudah memenuhi kriteria dalam seleksi namun pupus karena tidak punya relasi dan tidak bayar uang pungli.

Jika hal tersebut dihalalkan, kemudian bagaimana dengan hak para calon siswa yang sudah memiliki kemampuan sesuai target lembaga pendidikan namun tersingkirkan oleh nepotisme, suap menyuap dan lain sebagianya. Apa tanggungjawab penguji akan hal tersebut? Sejak kapan dunia pendidikan dikuasai oleh uang dan kekuasaan? Apakah kita rela pendidikan diperbudak perbuatan tak bermoral tersebut?

Maka dari itu seleksi harus bersih dari penyakit-penyakit yang dilakukan bapak ibunya, anak tidak akan berkah ilmunya jika bapak dan ibunya memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan dengan cara yang tidak jujur. Imam syafi'i saja terlahir dari keluarga miskin ketika ibunya membawa syafi'i kecil berguru kepada imam malik, imam malik seorang guru sekaligus penguji calon muridnya tak pernah mengenal hal tersebut, imam malik tak mempersoalkan biaya atau apapun bahkan terkadang imam malik lah yang membantu muridnya jika murid tersebut memiliki kendala sarana dan prasarana dalam belajar.

Lembaga pendidikan sangat rentan tercemari dengan hal diatas, mau tidak mau lembaga pendidikan harus tegas dalam membuat keputusan jika ada salah satu dari elemen lembaga yang bertindak kotor. Jangan sampai orang-orang baik yang tergabung dalam lembaga pendidikan diam melihat kekacauan ini, yang kemudian terkontaminasi baik secara langsung ataupun secara tidak langsung. Kebenaran harus ditegakkan.

 

sumber foto : http://seputarkampus.com/wp-content/uploads/2016/04/ujian.jpg

  • view 130