Mereka yang Kita Lihat

Azmi Fathul Umam
Karya Azmi Fathul Umam Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Agustus 2016
Mereka yang Kita Lihat

Mereka yang kita lihat begitu nyaman dengan kemapanan dimiliki: tempat tinggal yang sangat layak, kendaraan yang mewah, perusahaan yang bercabang dan sebagainya, tidak senyaman yang kita lihat seperti hari ini. Kita tidak menyaksikannya di hari-hari yang telah lalu. Pada hari-hari yang begitu membuat mereka tidak nyaman. Siang jadi malam, malam jadi siang. Banting tulang kesana-kemari, beberapa sempat dipatahkan kenyataan, tapi mereka tetap pada idealismenya, hingga sampailah mereka pada hari sebagaimana yang kita lihat sekarang ini.

Mereka yang kita lihat begitu kokoh menempati suatu jabatan; pemimpin perusahaan, eksekutif muda, pejabat, dan sebagainya, tidak sekuat yang kita lihat seperti hari ini. Kita tidak menyaksikannya di hari-hari yang telah lalu. Pada hari-hari yang membuat mereka hampir putus asa menjalani hidup. Jatuh-bangun mempertahankan idealisme, dikhianati orang-orang, tapi mereka tetap teguh pendirian, hingga sampailah mereka pada hari sebagaimana yang kita lihat sekarang ini.

Mereka yang kita lihat begitu mudah berbagi kepada yang lain; menjadi relawan, aktivis, dan sebagainya, tidak sebegitu mudah seperti yang kita lihat hari ini. Kita tidak menyaksikannya di hari-hari yang telah lalu. Pada hari-hari yang membuatnya takut menjalani hidup. Bagaimana mereka menghabiskan siang dengan penyesalan dan malam bergelut dengan pikirannya sendiri, tapi kemudian mereka berhasil berdamai dengan hati dan pikirannya, hingga sampailah mereka pada hari sebagaimana yang kita lihat sekarang ini.

Mereka yang hari ini kita lihat begitu bahagia dengan kehidupannya; keluarga, jabatan, pekerjaan, status sosial dan sebagainya, percayalah, tidak sesederhana yang kita lihat. Sebelum sampai pada hari ini, mereka telah menghadapi berbagai macam kesulitan. Pergumulan hati dan pikirannya. Dengan orang-orang yang dicintainya. Disakiti mungkin hingga dikhianati. Dijatuhkan harapan, dipatahkan kenyataan. Namun mereka adalah orang-orang yang teguh pada impian dan idealismenya, hingga kenyataan tidak sanggup lagi untuk menghadang mereka. Mereka telah tahan uji. Mereka telah layak untuk mendapatkan apa yang mereka perjuangkan, hingga mereka sampai pada hari sebagaimana yang kita lihat sekarang ini.

Seperti itu dan (akan selalu seperti) itu perjalanan hidup manusia. Sebetapa pahit pun hari-hari yang kita jalani, hadapilah, nikmati perjalanannya, tugas kita adalah berproses, berjuang. Soal hasil biar Tuhan dan semesta yang menilai, apakah perjuangan kita sungguh-sungguh atau hanya berpura-pura.

  • view 210