Memories

Azma Zahara
Karya Azma Zahara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2016
Memories

Aku kaku, membisu. Ada nafas yang tertahan dan dunia yang serasa berhenti berputar. Sudah berminggu-minggu kau tanpa kabar. Ku pikir kita hanya perlu waktu dan ruang untuk diri kita sendiri. kenangan kita bersama berputar seperti film di dalam pikiranku.

?

Kau ingat, dulu di waktu salju pertama turun dan kau melamarku di restoran tempat aku bekerja ?aku adalah milikmu dan kau adalah milikku. Jadilah teman hidupku , aku berjanji akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia?katamu dengan gugup walupun sudah melatihnya puluhan kali. Dinginnya salju tak lagi mengganggu, ku rasakan kehangatan yang melingkupi hatiku. Aku mengangguk, dan kau menahan diri untuk tidak berteriak girang di tengah-tengah tamu restoran.

?

Kau ingat,dulu ketika aku pertama kali bertemu keluargamu. Aku gugup dan kau berkata ? semuanya akan baik-baik saja, sayang.? Kau tahu betul karakterku yang kaku dan pemalu, berharap cemas keluargamu akan mengerti hal itu. Pertemuan itu berjalan lancar walaupun tidak terlau baik. Kau tatap mataku dan tersenyum, ? sudah ku bilangkan, semuanya akan baik-baik saja, kau pilihanku dan aku tidak salah? ku rasakan pipiku terasa panas dan merona.

?

Kau ingat, ketika pertama kali kau mengecup lembut bibirku di hari setelah kita menikah,?aku mencintaimu? bisikmu di telingaku. Aku tahu, kau telah terlalu lama menunggu hal ini terjadi dan aku menyukainya. Ku rasakan bau mint dari bibirmu dan ku balas ciumanmu dengan canggung. Kita bersatu, aku menerima kamu seutuhnya dalam diriku. Pada hari itu, aku resmi menjadi wanitamu.

?

Kau ingat, ketika aku memintamu pulang cepat hari itu. Ada kejutan yang tuhan beri untuk keluarga kecil kita . Ku siapkan makan malam yang istimewa dan memutar lagu kesukaan kita. ? ada apa ini, sayang?? katamu, dengan wajah heran setelah kita selesai makan malam. Lalu, ku berikan surat keterangan dokter, kau membacanya dengan perlahan. Aku positif hamil!. Betapa menggelikan ekspresimu saat itu, kau pikir ini lelucon. Kau baca sekali lagi surat itu lalu tersenyum bahagia. Sebelum tidur, kau berkata padaku ?terima kasih telah menjadikanku seorang ayah? dan mengecup lembut kening dan kelopak mataku, malam itu kita habiskan dengan berpelukan sepanjang malam.

?

Kau ingat, ketika musim dingin aku jatuh sakit. Kandunganku melemah, dan terus mengalami pendarahan. Kau mengambil cuti bekerja dan terus menemaniku di rumah sakit. Aku keguguran, kau mencoba tersenyum dan menggenggam lembut tanganku. Itu membuat hatiku sangat sakit, pandanganku mengabur karena air mata yang tidak kunjung berhenti. Kau tarik aku ke dalam dekapanmu dan ku rasakan rambutku basah oleh air mata yang sedari tadi kau tahan. ? tak apa sayang?, katamu di sela-sela isak tangis kita.

?

Kau ingat, setelah keguguran, aku selalu murung. Terlalu banyak kenangan di rumah ini yang membuatku teringat kembali dengan bayi kita. ?ayo kita pindah rumah ke desa, sayang. Aku akan bertani dan menghabiskan banyak waktu di rumah menemanimu? kau berkata padaku dengan nada antusias. Aku menyetujuinya. Dan setelah tiga tahun waktu yang kita lewatkan di desa, kita pindah rumah lagi di kota kelahiranmu. Di sana kau bertemu lagi dengan teman masa kecilmu dan mantan pacarmu.

?

Kau ingat, sejak kita pindah kau perlahan mulai berubah. Ada yang salah dengan dirimu, dan aku tak tahu apa itu. Aku merasa saat kau bersama ku, hati dan pikiranmu melayang entah kemana. Dan pada suatu malam di musim dingin, kau pulang dalam keadaan mabuk setelah pergi entah kemana. Aku marah padamu, ini pertama kalinya kau menyentuh kembali alkohol sejak kita pacaran. Lalu, malam berikutnya kau pulang dengan bau parfum wanita di sekujur tubuhmu dan noda lipstick di lehermu, aku jijik denganmu. Kita bertengkar hebat malam itu, kau bahkan tidak membantah saat ku tuduh kau selingkuh dengan mantan pacarmu,kau hanya berkata? aku lelah!?. Aku berang, dan kau pergi begitu saja dari rumah.

?

Kau ingat,malam itu aku sangat khawatir dengan keadaanmu. Di mana kau tinggal, bagaimana makanmu, apakah tidurmu nyenyak, kau bahkan lupa membawa obat dan vitaminmu. Aku cemas, tidak bisa menghubungimu. Namun, ku terobos badai salju untuk mencari di rumah temanmu yang ku kenal dan menghubungi temanmu di tempat tinggal kita dulu. Kau menghilang begitu saja selama berminggu-minggu tanpa kabar.

?

Kau ingat, beberapa menit lalu kita berpapasan di jalanan kota. Kau bergandengan dengan wanita lain, aku hancur!. Ku tatap wajahmu. Aku seperti tak mengenalmu, tapi itu kau! Ku menangis, kau tetap tak acuh dan pergi berlalu. Aku tidak melakukan apapun untuk mencegahmu , walaupunku tahu itu akan menjadi saat terakhir bagi kita dan kenangan kita yang semakin jauh tertinggal di balik punggungmu.mungkin kau tak ingat, namun aku selalu ingat bahwa kau telah menjadikanku wanita paling bahagia di dunia. Dan akan selalu ku ingat.[]

  • view 118