Televisi

Nurul Azizah
Karya Nurul Azizah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Februari 2016
Televisi

Belasan tahun silam, ketika saya masih duduk di bangku taman kanak-kanak; saya, Bapak, Ibu dan dua kakak saya akan berkumpul di aula tengah selepas waktu maghrib. Ibu pasti akan menyiapkan sajian wajib kala maghrib: secangkir teh untuk Bapak dan sepiring gorengan sederhana khas anak kampung. Kami akan duduk mesra di tikar tipis dari anyaman yang telah lapuk di beberapa sudut.?

Angling dharma dan misteri gunung api akan menjadi tontonan yang wajib 'ain. Kala itu tentu saya tak mengerti apa maksud dan jalan cerita sinema laga tersebut. Yang saya tahu hanyalah: selepas maghrib saya akan duduk dipangkuan Bapak dengan sarung putih kotak-kotaknya ditemani ibu dan dua kakak saya. Saya seringkali melihat wajah lelah bapak dengan sepeda onthelnya ketika memasuki teras, namun ketika matahari telah kembali ke peraduan, tak kulihat wajah lelah Bapak. Seolah beban dan letihnya Bapak luruh selepas ia duduk bersila dengan sarung putih itu.

Ribuan purnama bergulir, beragam cerita mengukir. Bapak telah kembali ke pangkuan Sang Khaliq, kedua kakak saya telah menemukan hidup sendiri, dan saya pun jauh ada di tanah rantau ini. Ibu? Ia masih setia duduk di aula tengah, selepas maghrib, menunggu kami kembali. Mungkin.