Yang Teringat

Azizah Himawati
Karya Azizah Himawati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 November 2016
Yang Teringat

Nanti, entah di belahan bumi mana, bersama siapa diri kita akan menghabiskan masa tua...

Yang Teringat

        Terbayang bahwa tidak ada lagi yang bersisa selain kenangan masa muda. Tak ada lagi raut wajah bersemangat yang menyambut datangnya pagi sembari menyeruput teh pahit kesukaanmu. Cangkir teh itu masih utuh. Bahkan, setiap pagi aku minta cucumu menyiapkan teh pahit di meja yang sama. Meja yang kita beli dulu kala, sebulan setelah kau mengucap akad di depan ayahku. Seminggu setelah aku menginjak tanah ini. Ah, konyol barangkali. Manapula kamu akan meminumnya? Bukankah kini di rumah ini hanya bersisa aku, anak bungsumu, dan dua cucu cantikmu?

        Time flies so fast, Dear

        Menghabiskan lima puluh tahun bersamamu mengajariku banyak hal. Tentang Tuhan, tentang syukur, tentang ikhlas. Dan tentang kebaikan yang sampai kini terbawa pada anak cucumu.Hari ini, setiap pagi. Hanya ada aku si badan tua yang duduk di balik jendela, sembari sesekali memandang bingkai foto di sudut meja.

        Kupandangi lekat-lekat bingkai abu-abu. Itu fotomu, dulu. Foto wisudamu, dan aku ada di ujung sana. Tak nampak, hanya sedikit mendongakkan kepala karena tertutup teman-temanmu. Ah, lekat dalam ingatanku. Gembiranya hari itu. Semua teman-temanmu berebut berfoto denganmu. Barangkali, untuk membekukan kenangan selagi masih sempat bersama. Dan semenjak wisuda itu, aku banyak kehilangan kabarmu.

         Aku masih melanjutkan studiku di kampus yang sama, dan kamu entah ke mana. Menghilang tanpa kabar. Hendak menghubungimu? Aku mah apa atuh, itu kata-kata jaman dulu semasa kuliah. Lagipula, siapa aku. Hanya mahasiswa tingkat satu yang beberapa kali bertemu denganmu dalam beberapa forum. Dan kamu, mahasiswa tingkat akhir yang tetap bersibuk ria dengan seabrek agendamu sembari menyelesaikan skripsi.

        Hingga, tepat tiga tahun setelah wisudamu. Itu hari wisudaku. Entah darimana, sepucuk surat datang dititipkan kepada temanku. Maryam. Aku masih menyimpan surat itu. Sebagaimana begitu aku berhati-hati menjaga cangkir teh pahitmu.

Kepadamu,

Gadis yang dulu diam-diam  mencari-cari kabarku

Hai, ini hari wisudamu, kan? Selamat ya.

Oya, kutulis surat ini jauh-jauh hari. Takut tak sampai padamu hari ini. Surat ini menempuh jarak yang terlampau jauh.

Maaf ya, aku tak bisa datang di hari wisudamu, sebagaimana dulu kamu malu-malu datang ke wisudaku.

Ngomong-ngomong, impianmu masihkah seperti dulu?

Ah, aku ingat benar. Empat tahun lalu, saat aku mengisi di suatu forum, kamu dengan lantang berucap "Doakan saya hadirin, semoga suatu hari bisa mengunjungi New Zealand!"

Dan serempak seisi ruangan mengaminkannya. Termasuk aku.

Masih ingin ke New Zealand?

Mintalah izin pada ayahmu untuk pergi ke sana.

Sebentar lagi, jika Allah mengizinkan, seseorang akan membawamu ke negeri itu.

 

New Zealand, 1995

Dariku,

Yang akan mewujudkan mimpimu

 

Hari ini, setelah lima puluh tahun menghabiskan waktu bersamamu di tanah ini. New Zealand. Entah bagaimana, begitu luar biasa Allah mewujudkan mimpi hambaNya. Aku dulu begitu mendamba untuk menginjakkan kaki di tanah ini. Dan Allah mengabulkannya. Dan dulu, aku banyak merapal doa, semoga suatu kali masa, aku bisa bertemu lagi denganmu. Dan Allah mengabulkannya.

        Barangkali, sudah waktunya aku pulang. Pulang ke tanah di mana aku dilahirkan. Tanah tempat kali pertama aku berjumpa denganmu. Sejauh apa kita pergi, Indonesia selalu jadi tempat kembali. Di sana cintaku bertemu, di sana cintaku kan pulang. Di sana, kelak nisanku akan ada di sampingmu. Menunggu sang waktu membawa kita kepada keabadian. Aaamiin.

 

Usai ditulis.

Kebumen, 25 Nov 2016

Habis ndengerin musik instrumen MP4 yang videonya mengenai Tanah New Zealand, tiba-tiba kepengin nulis aja. Hiks.