Masuk Syurga Bersama Keluarga

Azis Azzura
Karya Azis Azzura Kategori Agama
dipublikasikan 28 Oktober 2016
Masuk Syurga Bersama Keluarga

Keturunan

Pada setiap khutbah (baik Jumát maupun majelis ilmu lainnya) hal yang sulit saya lakukan sebagai jamaah adalah fokus. Seringnya, fokus hanya berlangsung barang lima sampai tujuh menit. Sisanya, fokus beralih pada otak saya yang masuk fase gelombang teta alias masuk alam bawah sadar alias tidur dalam posisi duduk sila. 

Tapi, beberapa khutbah memang mampu menahan fokus saya dari awal hingga doa penutup. Salah satunya terjadi saat Idul Adha 1437 H lalu. Riwayat keluarga Ibrahim adalah salah satu riwayat yang jadi favorit saya. Dan hari itu, referensi panutan dalam keluarga bertambah, selain Ibrahim ada keluarga 'Imran, Adam dan Nuh. 

Pertama, tentang Adam. Qabil dan Habil, keturunan Adam, tercatat sebagai pelopor terjadinya tragedi, pionir praktik penghilangan nyawa manusia. Lalu, Kan'an, keturunan Nuh, dianggap kafir karena tidak taat perintah-Nya yg diturunkan lewat sang ayah sebagai Nabi. Dua contoh tersebut mewakili pesan bahwa keturunan tidak selalu membawa derajat orang tua menjadi lebih baik.

Bersama dua sosok lainnya yaitu Keluarga 'Imran dan Keluarga Ibrahim, Adam dan Nuh tercatat dalam Al-Quran sebagai persona yg "melebihi segala umat pada masanya masing-masing". Lalu, meski saya belum dalami ikhwal keluarga 'Imran, tapi sy sedikit tahu keluarga Ibrahim karena seringnya disebut dalam berbagai khutbah terutama saat Idul Adha. Ibrahim sendiri sebagai persona adalah Nabi. Selain itu, Ia dianggap sosok panutan dalam keluarga, salah satunya karena mampu menjadikan dua keturunannya, Ismail dan Ishaq, sebagai Nabi. 

["Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, Keluarga Ibrahim dan Keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain" (Q.S. Ali Imran [3] : 33-34)]

Delapan Syarat

Untuk mendengar riwayat keluarga Ibrahim detail sampai pada perjuangannya hingga melahirkan ritual ibadah Haji, emosi saya sudah campur aduk; haru, bangga sekaligus bikin saya berharap bisa belajar memimpin keluarga seperti Ibrahim. Namun, untuk masuk syurga bersama keluarga, ada syarat yang harus dipenuhi. Amanat dalam QS. Ar-Ra'd [13] : 18-21 menyebutkan bahwa kita bersama keluarga besar bisa bertemu di surga 'Adn, asal dapat memenuhi delapan syarat. Khotib masih memberi contoh Ibrahim sebagai sosok yang identik dengan delapan syarat di bawah ini:

Pertama, memenuhi seruan Tuhannya; 

Kedua, memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian; 

Ketiga, menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan;

Kempat, takut kepada Allah;  

Kelima, sabar;

Keenam,  mendirikan Shalat;  

Ketujuh,  menginfakkan sebagian rezeki secara sembunyi atau terang-terangan.

Kedelapan, menolak kejahatan dengan kebaikan dalam pergaulan sehari-hari. 

Kini, saya dapat pemahaman baru tentang keluarga. Menjadi harmonis di dunia, adalah harapan setiap keluarga. Tapi impian paripurna setiap keluarga adalah bisa menghuni syurga bersama-sama. Aamiin. 

 

  • view 199