Sepatan, Kesempatan Berbuah Kesan

Muhammad Azhar Pratama
Karya Muhammad Azhar Pratama Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Oktober 2017
Sepatan, Kesempatan Berbuah Kesan

Puji syukur diri ini panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana alhamdulillah nikmat yang telah diberikanNya selama menjalani aktivitas sehari-hari, serta shalawat dan salam tak lupa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya serta segenap keluarga dan sahabatnya yang selalu istiqomah di jalan Allah.
              KKN (Kuliah Kerja Nyata) merupakan bentuk pengabdian sejumlah mahasiswa untuk nusa dan bangsa. 16 mahasiswa diterjunkan ke sebuah lokasi untuk mengembangkan dan memajukan lokasi tersebut. Mereka rela keluar dari hiruk pikuk perkotaan dan terjun merasakan lembutnya kesederhanaan yang masih jauh dari kata modern. Ya, 16 mahasiswa itulah kami yang berasal dari fakultas yang berbeda-beda di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Nama-nama kami adalah Ryanta Abdillah (FAH), Fulki Yuga (FISIP), Irfan Hazri (FU), Fahmi Hanif Winanto (FSH), Caesar Nova Arrasyiid (FIDKOM), Muhammad Azhar Pratama (FST), Elgi Alqawiyyu (FU), Ulfa Nurul Amalia (FEB), Khoiriyah (FU), Wulandari Retno Ningsih (FST), Ratna Sari (FISIP), Dina Ismiyanti (FSH), Dewi Bestari (FDI), Ayu Nadia (FSH), Ayu Rahmawati (FIDKOM), dan Afifah Khairunnisa (FAH). PANAH (Peduli, Aktif, Amanah) Sosial merupakan nama yang kuberikan untuk kelompok ini dibalik gejolak kebingungan dalam pemberian nama. Desa Sepatan terpilih sebagai lokasi tujuan kami untuk mengabdi. Banyak hal yang kami alami dan membuat Sepatan berkesan untuk kami. Hal-hal tersebut termuat dalam beberapa poin dalam kisah ini sebagai sebuah memori pengingat bahwasannya hal ini sangat mengesankan.

Tak Kenal Maka Tak Akan Kenal
16 mahasiswa yang tergabung dalam kelompok KKN PANAH Sosial merupakan mahasiswa yang awalnya tidak mengenal satu sama lain. Pertemuan bermula dari nomor whatsapp yang dicantumkan di lembar pengumuman oleh PPM (Pusat Pengabdian Masyarakat). Semua berkumpul dan saling berkenalan di pertemuan perdana namun saya tidak bisa ikut berkumpul dikarenakan harus melakukan penelitian di Gunung Salak. Rabu sore merupakan waktu yang telah disepakati untuk tatap muka. Pertemuan rutin inilah yang membuat kita seiring berjalannya waktu semakin dekat. Karakter masing-masing anggota hanya sedikit dikenal karena karakter sesungguhnya baru terlihat saat pelaksanaan KKN. Perbedaan karakter mau tidak mau harus kita terima suka maupun tak suka karena kita akan membaur seperti sebuah keluarga yang saing membahu. Beruntung bagi saya dipertemukan dengan keluarga Hj. Kasmini yang antusias mengizinkan tinggal selama sebulan di rumah keluarganya di daerah Sepatan. Ya, karakter masing-masing baru benar-benar terlihat saat pelaksanaan KKN, jadi menurutku sebelum pelaksanaan KKN masih fase adaptasi terhadap wajah baru yang belum dikenal. Aktivitas sehari-hari dari kami yang tak terlihat sebelum KKN dapat terlihat saat KKN.
Sepatan menyatukan berbagai karakter kita, tanpa adanya KKN ini kita tak akan pernah mengenal satu sama lain. Saya merupakan tipikal orang yang rajin bangun pagi, apabila tidak begadang hingga Subuh. Jadi dapat terlihat bagaimana laki-laki di kelompok ini begitu sulitnya dibangunkan pada waktu Subuh untuk melaksanakan ibadah shalat, ibarat mereka dikalahkan ayam milik Bu Hj. Kasmini. Mungkin hanya sebagian kecil yang terbiasa bangun lebih pagi. Namun, kadang keburukan membuahkan kesan manis untuk diceritakan dalam selembar kertas. Tidak hanya sahabat-sahabatku melainkan diriku pun memiliki keburukan yang dapat mereka nilai. Disinilah diriku bisa mengenal mereka.
Fulki Yuga, mahasiswa Sosiologi yang merupakan penggerak dari kelompok ini. Orang yang paling respect terhadap anggotanya. Memiliki kemampuan interaksi sosial serta komunikasi yang sangat baik. Irfan Hazri, merupakan ketua himpunan jurusan Ilmu Tafsir & Hadits yang handal dalam mengatur kelompok sehingga arah tujuan sesuai target. Ciri khas Irfan ini adalah logat orang Sumatra (Riau) dan yang paling diingat adalah selalu optimis terhadap apa yang diucapkan tanpa pikir hasil. Ryanta Abdiillah, mahasiswa Sastra Arab, yang pandai menulis dan dikenal dekat dengan berbagai orang. Dialah ketua kelompok KKN PANAH Sosial. Ryanta memiliki pengalaman sosial di lingkungan rumahnya sehingga dapat ditularkan ke Sepatan. Fahmi Hanif Winanto, mahasiswa Ilmu Hukum, merupakan orang yang dalam kondisi tidak ada kerjaan sering mengucapkan hal-hal yang tidak jelas demi adanya suasana yang tidak kaku, meski sering tak direspon. Namun, saat kondisi kami semua bekerja, dialah orang paling paling membantu dan bergerak karena jiwa kepeduliannya yang sangat tinggi. Caesar Nova Arrasyiid, dipanggil Aras, mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Penyiaran, paling handal dalam membuat video dokumenter dan bisa tahu banyak hal melalui media sosial. Elgi Alqawiyyu, satu jurusan dengan Irfan, orang yang seharusnya paling kalem namun sukses kami hilangkan, dialah yang memberikan suasana berbeda dari semua laki-laki di kelompok kami. Untuk yang anggota perempuan, saya tidak bisa menejlaskan secara rinci.
Bagi saya yang harus dikoreksi dari sahabat-sahabat saya disana adalah etika. Hal yang terbiasa dilakukan di rumah atau kosan seharusnya tidak dibawa, namun hal tersebut tidak terlalu dipermasalahkan. Tidak terlalu penting bagaimana karakter yang terpenting adalah bagaimana saya bisa saling dekat satu sama lain dan saling bekerjasama dengan yang lain.


Keramahan Warga Tarikolot
Kelurahan Sepatan memiliki 4 RW dan RW 03 menjadi tujuan KKN PANAH Sosial untuk melaksanakan KKN. RT 01 yang merupakan termasuk ke dalam Kp. Baru Tarikolot menjadi markas utama KKN 055. Satu hal yang paling penting dari pelaksanaan KKN adalah kedekatan saya dengan warga yang tinggal disana. Dengan adanya sosialisasi dan kedekatan yang terjalin maka memudahkan saya dan rekan-rekan untuk melaksanakan program kerja yang sudah dicanangkan. Keluarga Hj. Kasmini memiliki peranan penting bagi keberlangsungan KKN. Menurut Ketua RT setempat, Pak Ahmad Kholil yang sering disapa Pak RT Alek, keberadaan mahasiswa KKN merupakan hal yang sering dinantikan terutama untuk program kerja yang melibatkan semua warga. Keramahan warga Tarikolot terlihat saat setiap harinya pasti hampir selalu ada yang mengunjungi rumah Bu Hj. Kasmini yang juga tempat tinggal sementara. Selain itu, antusiasme anak-anak di daerah tersebut sangat tinggi dengan kehadiran kelompok KKN 055. Sapaan ceria mereka selalu menghiasi langkah kaki kami saat berada di luar rumah. Apalagi saat mereka mengikuti bimbingan belajar, tak ada hentinya mereka meminta ilmu dari, bahkan antusiasme yang tinggi tersebut membuat saya sempat kewalahan menghadapi mereka. Remaja Tarikolot merupakan salah satu elemen yang tak pernah lepas dari kami. Kedekatan KKN PANAH Sosial dengan remaja Tarikolot terlihat jelas saat bekerjasama memerankan drama teater yang menjadi tradisi disana. Berkat kerjasama tersebut remaja Tarikolot kembali menjadi lebih solid dan semangat membangun desanya kembali meningkat. Bahkan hingga selesai KKN, hubungan erat dengan remaja Tarikolot tak pernah lepas sekalipun.
Dibalik kedekatan kami dengan warga, ada 3 tokoh yang sangat menginspirasi, yaitu Ibu Hj. Kasmini, mas Suhartono (anak Ibu Hj. Kasmini), dan mas Ahmad Bainuri (keponakan Ibu Hj. Kasmini). Sosok Ibu Hj. Kasmini yang sering kami sapa Bu Haji merupakan sosok panutan yang berharga bagi anak-anaknya. Semua anak-anaknya bisa dibilang sukses dalam karir masing-masing. Meski hanya bisa berjumpa dengan anak-anaknya pada waktu libur saja beliau tak patah arang dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Usia senja bukanlah penghalang. Sisa hidupnya dihabiskan untuk memantau suksesnya anak-anak beliau. Ditemani kawanan ternak miliknya dan rindangnya pohon-pohon yang berbuah, seolah membuat kehidupan bu haji seolah bermakna. Ya, kehebatan yang saya kagumi dari beliau adalah daya ingat yang tinggi meski sudah semakin dimakan usia. Semangat hidupnya seolah melunturkan senja hidup. Keberadaan kami pun mengingatkan beliau dikala masa lalu rumahnya masih banyak anak-anak, sehingga kepergian kami setelah selesai KKN memunculkan kesedihan diantara kerut wajahnya. Sungguh sosok ibu yang tangguh. Selain bu haji, ada mas Suhartono, atau sering saya sapa mas Tono yang merupakan anak dari bu haji. Mas Tono adalah seorang anggota polisi di bandara Soekarno-Hatta. Beberapa bulan sebelum kedatangan kelompok KKN 055, mas Tono mengalami musibah, kakinya patah sehingga harus dilakukan psikoterapi. Alhamdulillah setelah kami datang, mas Tono sudah dapat kembali berjalan tanpa bantuan tongkat meski masih terlihat sedikit pincang. Satu hal yang harus saya kagumi dari mas Tono adalah semangatnya dalam membangun kampung halamannya. Kedatangan kami membuat mas Tono kembali bergairah dalam menanamkan semangatnya kepada warga, terutama remaja. Mas Tono berdiri di garis terdepan dalam membangun kembali remaja dan Kp. Baru Tarikolot hingga akhirnya tradisi disana yaitu drama teater dapat bisa berlanjut setelah cukup lama vakum. Dibalik rasa sakit di kakinya dan kendala untuk bertugas, mas Tono cukup bersyukur atas hikmah dari kondisi kakinya. Mas Tono lebih memiliki waktu untuk keluarga dan lebih sering menyempatkan waktu untuk kembali ke kampung halaman untuk bertemu kelompok KKN 055. Mas Tono sosok yang penting dan berperan besar dalam keberlangsungan program kerja kami untuk menciptakan desa yang lenbih baik. Dialah sosok yang memotivasi saya untuk terus bergerak dan jangan takut akan kegagalan, mengajarkan saya sebuah keikhlasan karena semua ujian pasti ada hikmahnya. Mampu mempererat hubungan saya dengan warga. Agenda drama teater, perlombaan 17 Agustus, program fisik kami, serta bantuan sosial untuk anak yatim tak lepas dari peranan mas Tono. Rasa cintanya terhadap keluarga dan kampung halaman seolah tak terjatuhkan oleh segala rintangan. Dan satu hal yang pasti dari mas Tono, tak pernah melupakan Allah SWT. Rasa cintanya kepada Allah SWT seolah tak terhingga. Satu lagi nama yang menginspirasi dan berpengaruh terhadap kerja kelompok KKN 055 di Sepatan adalah mas Ahmad Bainuri yang seri saya sapa mas Babae. Tanpa adanya mas Babae kami mungkin belum tentu bertemu dengan remaja-remaja, bu haji, dan mendapatkan tempat tinggal yang layak. Mas Babae merupakan salah satu remaja Kp. Baru Tarikolot yang bekerja sebagai salah satu staff di Kantor Kelurahan Sepatan. Dialah jembatan penghubung kami dengan kelurahan serta warga Kp. Baru Tarikolot. Sosok remaja yang paling dekat dengan kami. Dia tak segan untuk membantu semampunya dalam hal apapun. Tak jarang kami selalu meminta saran kepadanya mengenai birokrasi di daerah sana. Tak jarang juga kelompok KKN 055 bermain bersama, berlatih sepakbola, memancing bersama, dan ikut serta mensukseskan perlombaan 17 Agustus. Mas Babae sosok pemuda yang tak ragu mengulurkan tangannya dibalik segudang kesulitan kami.
Ketiga sosok tersebutlah yang sangat menginspirasi. Tanpa adanya mereka bukan hal yang tak mungkin saya dan rekan-rekan memiliki banyak kesulitan dalam pelaksanaan KKN. Saya sangat bersyukur bisa mengenal mereka. Keluarga yang tangguh yang tak termakan oleh zaman. Kekurangan kami seolah tertutupi. Mereka bagian dari kami, pelengkap kami.



Keceriaan KKN dan Anak-Anak

Warna dari KKN di Sepatan adalah anak-anak. Mereka seolah menjadi pelangi yang menghiasi keseharian kami. Senyum dan ceria wajah mereka menghapus letih kami. Saya bahkan sempat kewalahan dalam menghadapi keceriaan mereka. Dimulai dari anak-anak yang masih berpendidikan PAUD hingga yang baru masuk SMP. Dua hal yang membuat kami dekat, pengajaran di SDN Sepatan 3 dan TK Nururrohmah, serta program Bimbingan Belajar di tempat tinggal saya dan reekan-rekan KKN. Melihat anak-anak SD kegirangan membuat saya senang. Tak jarang siswa/i SD hampir selalu meminta foto. Momen-momen ini sangat antusias ingin dilakukan mereka. Sangat menyenangkan juga siswa/i mengikuti instruksi saya. Saya hampir selalu bermain games bersama, yang menuntun pada edukasi. Senyum ceria mereka turut menghibur saya. Tak pelak, kepergian kelompok KKN 055 di penghujung hari KKN mengundang kesedihan bagi mereka. Banyak yang mengeluh supaya kami bisa tetap hadir di SD. Hari terakhir perpisahan dengan mereka dihias dengan sebuah hadiah, yaitu foto-foto bersama kami yang dihadirkan di mading baru mereka. Meski beberapa dari mereka tak kuasa untuk membendung air mata. Namun, bagi kami mereka adalah kenangan berwarna yang menghiasi KKN kami. Saya belajar untuk menjadi seorang kakak dan guru bagi mereka. Tidak berbeda jauh dengan siswa/i di SDN Sepatan 3, Rumah Bimbel pun mengalami hal yang sama, namun disini saya lebih kerepotan. Anak-anak yang mengikuti bimbel rata-rata berasal dari Kp. Baru Tarikolot. Meski tanpa matahari yang menyinari dan malam hari menyelimuti, namun keceriaan anak-anak tersebut seolah tak terlihat padam. Bahkan ada pula orang tua yang juga ikut mengajari bimbel. Anak-anak tak segan meminta untuk diajari pelajaran yang masih sulit untuk mereka. Setidaknya hal ini membantu mereka menghadapi mata pelajaran di sekolah. Hari terakhir pertemuan bimbel sebagai perpisahan pun menjadi momen untuk saling bersenang-senang. Canda tawa dari wajah mereka dibalas dengan hal yang sama. Bahkan ada diantara mereka yang memberikan kenang-kenangan, sebagai pengingat betapa sayangnya mereka terhadap kami. Malam terakhir bersama mereka tak akan bisa hanya diungkapkan dalam selembar kertas. Hanya do’a yang bisa mengiringi kita satu sama lain menuju jalan kesuksesan. Masa depan anak-anak di Kp. Baru Tarikolot masih sangat panjang dan kami harus bersyukur bisa menjadi salah satu bagian dari proses hidup mereka walau hanya sesaat. Sekecil apapun peranan kami, dapat menjadi bekal hidup untuk mereka menata masa depan yang cerah. Surat kecil dari mereka untuk kami akan sangat berharga untuk kami.



Antara Drama Sungguhan dan Cinta yang Berbayang
Cerita mengenai kelompok KKN 055 tak lepas dari gejolak internal. Jenuh selalu membahas gejolak program kerja, gejolak mengenai persahabatan sangat menarik untuk diceritakan. Drama yang terjadi tak hanya sebatas drama teater Tarikolot diatas panggung, melainkan drama persahabatan yang seolah menjadi kenyataan entah sungguhan atau tidak. Satu hal yang pasti yaitu cinta yang semu tak terlihat. Berawal dari candaan belaka, namun hal itu justru menjadi titik awal sebuah cerita antara dua insan. Tak jarang cerita KKN dimanapun tak lepas dari yang namanya rumor pasang-pasangan dan kedekatan dua insan manusia. Hal tersebut juga terjadi di dalam tubuh kelompok KKN. Bahkan kisah “cinta segitiga” pun terjadi. Namun semua itu hanyalah kisah yang berbayang, tak tahu kebenaran sesungguhnya dari hati terdalam. Tidak hanya hal itu, bahkan ada kedekatan anggota kelompok dengan remaja Kp. Baru Tarikolot. Sungguh hal yang sulit dihapus dari memori pikiran. Melihat, merasakan,dan mengekspresikannya menjadi hal yang lumrah buat kami. Terkadang antar sesama laki-laki di kelompok saya bisa menjadi musuh satu sama lain, yaitu di arena games sepakbola. Sindiran tak henti-hentinya kami keluarkan untuk menyerang satu sama lain. Itulah pemanas sekaligus pencair suasana dengan mengesampingkan amarah. Cara saya bisa saling dekat satu sama lain. Ya, begitulah sebuah proses hidup. Sambil menghela nafas secara pelan-pelan dan sedikit tersenyum sepi, penulis cerita pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Seburuk apapun konflik yang dihadapi dalam kelompok KKN 055 baik dengan tempo yang tinggi maupun rendah, semuanya bisa menyelesaikan dengan rendah hati demi menjunjung tinggi silaturahim. Tak peduli problem disana sini, semua penyelesaian berujung dengan sebuah kebaikan yang harus diambil sisi positifnya.

Drama Teater Pemersatu Dua Pihak
Budaya yang ada di Kp. Baru Tarikolot yang melekat di masyarakat adalah teater Tarikolot. Budaya ini sempat vakum selama satu tahun sebelum pada akhirnya kehadiran kelompok KKN 055 dan mas Tono ke lingkungan Kp. Baru Tarikolot kembali membangkitkan semangat masyarakat untuk menyaksikan teater. Ya, inilah yang membuat semua masyarakat sangat antusias menyaksikannya, bahkan hingga berdesak-desakan. Teater Tarikolot pun menyatukan dua pihak, mahasiswa KKN dan remaja Tarikolot. Berawal dari rencana kami yang ingin memperkuat budaya di Kp. Baru Tarikolot, mas Tono pun ikut serta mendorong para remaja untuk bisa saling bahu membahu dalam drama teater. Meski dihantui waktu yang sedikit untuk latihan, namun profesionalitas dan pengalaman dari remaja Tarikolot sedikit terlihat dari kemampuan memerankan tokoh-tokoh dalam drama teater. Niat baik untuk membangkitkan budaya ini sangat disambut baik oleh para remaja. Drama teater kali ini menceritakan pejuang bersama warga di Kp. Tarikolot yang berusaha menghadapi penjajah dari Belanda. Tentunya saya mendapatkan peran di naskah drama ini. Latihan demi latihan kami lakukan setiap malam sambil melawan rasa kantuk yang terus menghampiri hingga larut malam. Kami semua dan remaja disamping harus mempersiapkan teater harus berpikir untuk mempersiapkan agenda perlombaan peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus. Hingga pada akhirnya drama teater yang berlangsung sehari setelah perlombaan peringatan 17 Agustus dapat terlaksana. Meski mendapatkan kendala perihal tidak mendapatkan tempat tampil, namun ternyata bukan penghalang yang serius. Tak butuh panggung, hanya kemampuan dekorasi saja sudah cukup. Akhirnya penampilan kami berlangsung di halaman dekat bengkel milik salah satu remaja. Kesederhanaan tersebut ternyata tak menyurutkan warga untuk antusias hadir menyaksikan penampilan gabungan kelompok KKN 055 dan remaja Tarikolot. Beralaskan terpal dan dekorasi seadanya, penampilan drama teater ditonton sebagian besar warga Kp. Baru Tarikolot. Tanpa peduli sesempurna apa penampilan kami, yang penting menghibur seluruh warga yang menyaksikan penampilan kami. Malam itu malam yang penuh dengan tepuk tangan. Acara puncak dari kami semua di KKN bersama seluruh warga. Itulah momen yang dapat dibilang bersejarah bagi saya, kerjasama kami dengan remaja Tarikolot yang mempertahankan tradisi turun temurun.
Banyak hal berkesan sebab Sepatan membuat kehidupan saya terasa lebih indah dengan ikatan kebersamaan yang kuat. Interaksi kami dengan warga asli Tarikolot sangat erat dan melekat satu sama lain. Satu bulan dirasa waktu yang terlalu pendek untuk kehidupan bersama kami di Sepatan. Perpisahan dengan warga bukanlah sebatas kepergian, melainkan jalan kembali kesana, membangun rasa rindu dari kedua belah pihak. Semakin panjang waktu tak jumpa, semakin meningkat gejolak rindu yang ada di hati. Sepatan memiliki kisah kasih berkesan, yang dibungkus dengan persahabatan. Canda tawa tak akan bisa terelakan. Hanya Allah yang bisa mempertemukan kami lagi, biarlah waktu mengiringi penantian dari pertemuan tersebut di masa yang akan datang.
Sepatan memiliki banyak potensi yang luar biasa. Segi perekonomian yang ditunjang dengan mata pencaharian warganya sebagian besar pedagang serta suasana sederhana yang masih menaungi memiliki potensi dalam perkembangan di Kp. Baru Tarikolot. Harapan tingg saya terbangkan bersama Sepatan sebagai daerah yang terus menjadi tradisi dan menjaga kesederhanaan ditengah-tengah kemajuan teknologi yang ada.

  • view 38