Sebelum Cinta

Ayu Pertiwi
Karya Ayu Pertiwi Kategori Puisi
dipublikasikan 16 Juli 2016
Sebelum Cinta

Bukan lagi sejumput, rindu ini sudah melebihi fragmen apapun yang membatasi dimensi sabar.

Aku rindu ingin menggenggam tangannya menapaki terjalnya hari. Rindu bersandar di bahunya melepas lelah, membagi seluruh kesah. Tapi aku paling rindu saat Ia memelukku dalam doa. Doa yang telah lebih dari segala rupa untuk mewakili semua ungkapan cinta yang tak sering Ia kata.

Ia tak pernah pandai menunjukkan cinta. Maka ingin ku sekali waktu selami lautan hatinya. Mengarungi setiap buih yang menghantarkanku pada arti hadir diriku dalam kubangan raksasa itu. Dimanakah Ia menempatkanku saat tak sekalipun Ia mampu berucap cinta? Sungguhkah ada diriku dalam luas gejolak hatinya? Haruskah aku terus meyakini yang tak pernah mampu aku jangkau oleh kedua belah mata?

Ah. Semu. Aku terlampau rindu.

Kalau nanti kami bertemu, sudah tentu aku akan merela semua belenggu. Kalau nanti kami bertemu, sudah tentu aku akan erat memeluk tanpa ragu. Kalau nanti kami bertemu, sudah tentu akan kukatakan aku rindu. Meskipun Ia akhirnya ‘kan berlalu.

Sekali dua kali Ia datang dan pergi menggantung rindu. Lalu semua kembali semu.

Tapi aku tetap rindu.

Semestinya cinta itu seindah rasa yang Engkau tiupkan sebagai fitrah manusia. Semestinya cinta tak membuat kami nelangsa. Semestinya cinta menerbitkan rekahan bahagia. Namun bila cinta ini berakhir semu, mungkinkah Engkau tidak memberikan ridho-Mu?

Dan setelah sekian lama Engkau rentangkan waktu, Ia lalu kembali bersemu. Ia lalu ingin menghampiriku. Lagi. Akankah semu akhir penantianku?

Tapi aku sungguh rindu melebihi setiap lembar kalender yang kusingkap setiap waktu. Kalau sudah begitu, aku tak lagi peduli pada akhir semu. Aku hanya tahu rindu.

Ah. Rindu.

Menatap dalam matanya, merengkuh setiap hangat cakapnya. Andai semua semudah rekaan pena, pasti sudah kugoreskan semua yang indah-indah bersama dirinya. Tapi bukankah percuma bila akhirnya Ia tak pernah menjadi nyata?

Ku rentang lagi sepenjuru harap dalam hati. Lalu terangnya uraian mushaf yang menyejuk di sela jemariku mengukirkan paham yang mendalam, bahwa sebelum cinta halal bagi kami, tiada ada gunanya melelahkan diri mencuri bahagia yang ternyata adalah jatah kami di kemudian hari. Bahwa sebelum cinta halal bagi kami, tiada ada faedahnya membodohi diri sendiri karena cinta seharusnya tanpa noda, dan mencintai semestinya tanpa menodai. Maka sejak hari ini hingga tiba halalku nanti, akan ku buktikan bahwa cinta ini tidak akan ternodai. Bahwa cinta ini sejati, yang tetap terjaga hingga ke alam setelah mati. Dan bahwa Engkau takkan pernah salah memilihkan jodoh terbaik bagi kami selama kami mau bersabar.

Insya Allah.

  • view 184