Setelah Enam Tahun Berselang

Ayu Pertiwi
Karya Ayu Pertiwi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Juli 2016
Setelah Enam Tahun Berselang

The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong

• Mahatma Gandhi •


Aroma daging masak telah terkuar ke sepenjuru restoran yang hanya seluas beberapa petak itu saat kita memilih untuk duduk di sudut luar balkon. Lewat speaker yang terpasang di sudut dinding bagian atas, lagu itu mulai mengalunkan bait demi bait kalimat cinta.


Aku terkekeh. Mencintaimu? Mungkinkah aku mulai mencintaimu?


Hari itu baru ketiga kalinya kita berjalan bersama. Kalau sekedar kagum, aku memang mengakuinya sejak dulu. Aku selalu mengagumimu sebagai pribadi yang lembut hati. Tapi cinta? Entahlah. Hatiku masih dipenuhi kenangan akan pengkhianatan.


"I love you." ujarmu yang terus menatap lekat ke arah dua mataku, merengkuh jemariku yang masih malu.

Aku hanya tersenyum. Ragu.

Lagu itu terus mengalun. Setiap kali rasa itu datang aku buru-buru mengusirnya pergi. Aku tidak boleh mencintaimu. Seolah setiaku hanya untuk dirinya, sang pengkhianat itu. Seolah kebersamaan kita hanya sebatas rasa nyaman, sebatas semangat dan kekuatan yang selalu kau tanamkan. Tidak mungkin bisa lebih dari itu. Kau hanyalah sahabat di mataku.

Aku hanya tersenyum.

Menikmati setiap senyummu, setiap ceritamu, setiap jentikkan jemarimu, bahkan setiap kali kau menggigiti bibir bawahmu.

Memang kurasa ada sesuatu yang berbeda, tapi entah apa. Yang aku tahu, aku selalu tertarik pada setiap ceritamu tak peduli seremeh apapun itu. Aku selalu larut di dalamnya, juga teduh matamu.

Lagu itu masih mengalun.

Ku kan setia menjagamu, bersama dirimu, sampai nanti akan slalu bersama dirimu.

Untuk yang kesekian kali aku kembali mendengus geli. Rasaku pada pengkhianat itu seolah terus mengintimidasi.

Aku pun sadar betul batasan di antara kita. Kalau tidak kubatasi sendiri perasaan itu, pasti aku juga yang akan tau rasa nantinya. Kita terlalu berbeda.

Kata siapa hal-hal seperti ini hanya terjadi dalam sinetron?

Pada kenyataannya memang latar belakang itulah yang berpotensi mengganjal perasaan kita, saat ini ataupun di kemudian hari. Bibit, bebet, bobot. Kenyatannya aku tidak selayak yang selalu kau kira selama ini. Terutama dari keluargamu yang begitu terpandang. Dan kenyataannya semua ketakutan itu sungguh terjadi dalam hidup kita, di saat aku telah meyakini bahwa perasaan itu tidak mungkin lagi bisa kubatasi, disaat aku berani mengakui bahwa aku mencintai.

Meskipun demikian, aku tetap memilihnya - pengkhianat itu. Mungkinkah aku mencintainya lebih darimu?

Aku tidak pernah melihat benci di matamu. Matamu masih seteduh biasanya. Aku tidak pernah melihat amarah di sana, kau tetap menentramkan jiwa. Tak sekalipun kau pernah mempersalahkan keputusanku. Keputusan yang ternyata kusesali seumur hidupku.

Enam tahun telah berlalu. Aku mendengar lagi lagu itu.

Sampai nanti, akan s'lalu bersama dirimu..

Aku teringat hari-hari dimana kau tetap di sampingku meskipun aku selalu sibuk menerima telepon darinya, hari-hari dimana kau tetap mengutamakan kebahagiaanku di atas segalanya, tak pernah mempertanyakan apapun selain hal-hal yang membuatku bahagia saja. 

Baru kusadari kalau teduh matamu itu hanya untukku. Baru kusadari matamu begitu berbinar setiap kali memandangku, hanya saat memandangiku. Bahkan saat kau memalingkan wajahmu setiap kali layar di telepon genggamku menampilkan nama orang yang paling tidak kau sukai. Aku baru menyadari kalau itu bukanlah wajah marahmu, melainkan ketakutan.

Kau begitu takut kehilanganku, bukan?

Baru kusadari kalau kau adalah wujud ketulusan itu sendiri. Ketulusan yang membuatku begitu tertarik dengan setiap remeh ceritamu.

Kini setelah enam tahun berselang, yang tinggal hanyalah penyesalan. Barangkali Tuhan ingin menghukum setiap kejahatan yang pernah kulakukan padamu hanya demi pengkhianat sepertinya. Pengkhianat yang terus kubela, yang selalu kuanggap hanya alpa. Nyatanya pengkhianat tetaplah pengkhianat. Nyatanya apa yang selama ink kubela tidak membuat dirinya berubah dari sifat dasarnya.

Andai kau melihatku sekarang, mungkinkah kau akan menertawai kebodohanku telah memilihnya sebagai pendamping hidupku?

Kini saat Ia membuangku untuk yang kesekian kali, mungkinkah kau akan datang menguatkanku lagi seperti enam tahun yang lalu?

Ah, rasanya hanya mimpi..

Andai bisa ku ulang waktu semudah memutar ulang lagu dari playlist ini, aku ingin mengulangnya sekali saja. Sekali saja. Tepat di saat kau menatap lekat kedua mataku. Di saat kau rengkuh jemariku. Kalau bisa sekali saja ingin kukatakan, "I love you, too."


Aku, kritikus terbaikmu

  • view 179