Trimakasih mas

Ayu Wae
Karya Ayu Wae Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Februari 2017
Trimakasih mas

Aku adalah gadis lugu yang baru saja meninggalkan jejak-jejak nakalku di usia belia. Saat itu juga, pertama kalinya aku mengenal dan menerima tentang bahasa cinta. Masa putih abu, kau untuk pertama kalinya memberiku suntikan yang luar biasa.

Aku adalah gadis yang secara akademik menengah, tapi karenamu, untuk pertama kalinya aku ingin menjadi lebih dan yang terbaik. Nilai-nilaiku sejak saat itu selalu sempurna. Tak pelak, kita kemudian saling bersaing dalam mahligai cinta usia belia dengan nilai dan prestasi.

Aku adalah gadis lemah, yang sebentar-sebentar merasa pusing dan lemah tak berdaya. Dan hai, lagi lagi mas... Kau membuatku melampaui apa yang ku bisa. "Ah mas, aku ga kuat ikut Pramuka, mas aja lah." kataku waktu itu.
"Udah, ikut aja, biar qt bs sama-sama terus. Kamu biar kuat fisiknya." Yakinmu waktu itu. Dan, sejak saat itu pula, hingga kini ku geluti organisasi itu. Yah, Organisasi yang membuat gadis pendiam dan pemalu di masa lalu, menjadi gadis yang terbuka macam sekarang. Trimakasih Mas !

Aku adalah gadis rumahan, anak mamah. Yang dari lahir, tak pernah beranjak dari belai kasih mamah, atau pergi lebih dr 5km dari rumah. Namun, ketika niatku belajar jauh dari rumah ialah karena ingin dekat denganmu, tak sesuai rencanaNya. Hanya aku yang ditakdirkan belajar di luar kota kali itu, olehNya. "Mas, aku ga bisa hidup di perantauan sendirian, aku tetap di kota ini saja lah."  rajukku.
"Ah dek, kamu beruntung berkesempatan belajar di luar kota, jangan dilewatkan. Aku kecewa kalo kamu ikut kuliah dg ku di kota ini. Pertimbangkan masa depanmu nanti." oh.. baiklah mas. Dan benar, selama 4 tahun aku mampu bertahan di perantauan tanpa siapapun pada awalnya, hingga ku temukan dan ku ciptakan banyak keluarga baru di perantauan.

Aku adalah gadis pasrahan, yang apabila orangtuaku berkata tidak, maka aku akan mundur dengan segera. Namun, lagi-lagi dengan gagahnya kamu membuatku mengerti. "Pengen sih mas ikut Pramuka lagi, tp sm bpk ibu ga boleh, disini beda sm kota kita katanya."kataku padamu.
"Dek, Pramuka itu sama aja, lambangnya sama dimanapun kamu berada, bener sih qt emang harus patuh sm ortu. Tapi, terkadang nekat itu perlu lo untuk hal-hal yang positif, asal adek tau porsinya." Dan sejak saat itu, aku selalu meyakinkan kedua orantuaku dg baik baik. Bahwa semua pilihan kegiatanku, tak akan tetap membuatku terlupa untuk menjaga diriku sendiri di kota orang.

Aku adalah gadis penuh kebimbangan, yang sering ragu dengan kemampuanku sendiri dan yang terlalu rumit untuk memilih. Aku masih ingat betul, di masa-masa krusialku, kau berdiri tegap menggandengku walau aku tak tau tujuanku. Dengan langkah yang tegap dan pasti kau mengantarkanku pada hal-hal yang sangat mengejutkan. Disaat teman-teman semester tua seumuranku sedang asyik dengan karya tulisnya masing-masing, aku pergi keluar provinsi. Saat itu juga aku sudah memilih, baiklah, aku lulus tahun depan saja. Karena saat itu, aku lebih mementingkan pengalaman organisasiku. Dua minggu pasca kegiatan, kau menanyakan kabar karya tulisku. Dengan tenang dan jurus beribu alasan ku paparkan padamu, bahwa kali ini aku memilih mengecewakan kedua orangtuaku dengan lulus tahun depan. Tapi, kau terus meyakinkanku bahwa aku bisa lulus tahun ini. "Yaelah mas, cuma keajaiban aja yang bisa nglulusin aku tahun ini, sidang ujian skripsi krg 3 bulan lg." batinku.
Dan benar, keajaiban datang. Kamu datang ke kota ini, dengan membawa banyak kata mantra. "Buruan dikerjakan dek, sedikit pun tak masalah di mulai dari malam ini nanti, kamu pasti bisa menyelesaikannya dengan baik dan lulus tahun ini, aku yaqin banget kamu bisa." Aku masih ingat tatapan matamu waktu itu, ada semacam harapan besar yang kau pantulkan pada mataku. Hingga rasanya aku benar-benar termantrai. Dan akhirnya aku benar-benar mampu lulus tepat waktu, dg banyak ketidakpercayaan dari orang-orang sekitarku. Banyak dari mereka yang berkata, " Koq bisa lulus mbak ? edaan/gilaa!"
"Keajaiban ini mah," kataku, enteng. Keajaiban itu melalui kamu mas. Trimakasih Mas.

Aku adalah gadis yang barangkali sering berkata aku tak mampu. Aku sepertinya tak bisa. Tapi, kamu mas adalah orang yang selalu berkata lain. Meskipun dunia jg mengatakan tidak padaku, tapi kamu selalu berkata iya. Kamu bisa, kamu mampu dek.
Trimakasih mas, karena memandangku dengan cara yang berbeda. Trimakasih mas, karena kata-kata positifmu membangkitkan kemampuanku. Trimakasih mas, karena kau percaya padaku melebihi rasa percayaku sendiri pada diriku.

 

  • view 97