Surat untuk Nona

Ayu Wae
Karya Ayu Wae Kategori Lainnya
dipublikasikan 04 Januari 2017
Surat untuk Nona

Seketika, saat kau memilih untuk bahagia bersamanya di atas lukaku, aku jatuh. Kau tau, apa yang kurasakan saat itu jauh lebih menyedihkan dan dramatik dari yang kau bayangkan, nona. Ah, itu sudah biasa barangkali, banyak sekali bukan, wanita sepertiku ? yang di khianati oleh lelakinya, demi mencari kesempurnaan yang lain. Nona, bukankah kau wanita yang punya pilihan ? Aku sempat membaca kedilemaanmu kala itu.
"Harus pilih yang mana, dua orang yang bahagia diatas luka satu orang atau, satu orang bahagia lalu dua yang lainnya tidak."Ah ... nona, saat itu aku percaya padamu. Kau tak akan memilih bahagia di atas luka, karena kau juga punya hati yang rapuh sama sepertiku. Ku pikir kau akan menasihatinya, karena kau lebih dewasa daripada kami, nona. Tapi, ternyata tidak. Kau memilih bahagia bersama lelaki yang sudah memiliki pasangan. Karena kau pikir lelaki itu akan terluka dan kau juga terluka karenaku ? ah...Kau tahu nona ? Aku juga pernah ada di posisimu dua kali waktu. Saat dimana aku terlanjur jatuh dalam hati seorang lelaki, lalu baru ku ketahui lelaki itu sudah memiliki wanita disisinya, aku selalu memilih mundur. Karena jujur, aku tak sanggup tersenyum di atas luka wanita di seberang sana. Dan kau tahu nona ? Lelaki-lelaki itu, juga akan mundur ketika kita mundur. Mereka kembali ke hubungannya, memperbaiki apa yag perlu diperbaiki. Dan aku ? Aku lebih memilih menemukan lelaki lain yang hatinya benar-benar kosong. Tapi kau tidak, waktu itu. Kau berseberangan denganku.
Hari-hariku memburuk, seketika. Yang ku temui hanyalah ruang kosong 4 x 4 m. Keluargaku jauh, temanku belum sebegitu banyak. Aku hanyalah gadis berumur 19 tahun kala itu, yang belum memiliki kematangan dalam berpikir. Berhari-hari, ku habiskan malamku dengan meratap di hadapanNya. Tak ada tempat untukku membagi kisahku, tak ada nasihat yang kudengar dari mimik yang lain. Aku hanya bisa, membagi yang kurasa dengan menulis. Sampai suatu kali, aku membacamu lagi, nona...
"Kasihan lelaki yang disalahkan atas apa yang tidak ia lakukan, Wanita itu terus saja menulis hal hal menyedihkan di blog dan medsos lainnya untuk mencari simpati. apa yang salah jika seorang lelaki tak lagi nyaman ?"
Simpati ?Apakah tdk wajar jika seorang gadis labil yang tak punya cukup teman, yang dikhianati oleh semangatnya melampiaskannya dengan menulis ? Sungguh, aku tak menginginkan itu, aku tau aku labil saat itu. Tapi Nona, kau benar-benar tak memahami kondisi kami. Selama 4 tahun, kami habiskan banyak waktu bersama. Tak hanya dalam membagi bahagia, tapi kami banyak berjuang untuk masa depan kami. Bahkan, untuk masuk ke perguruan tinggi yang sama, kami sudah banyak mengorbankan apapun. Hingga, takdir memisahkan kami. 1 tahun kami lalui itu dengan sederhana, dia sering merengek agar aku segera pulang. Komunikasi kami berjalan dengan baik, hingga sampai di suatu masa waktuku untuknya menjadi terbatas. Tugas-tigas kuliah begitu menyita waktuku. Kata orang, jarak dan rindu seringkali membuat pertengkaran kecil bagi pasangan ldr. Aku baru menyadarinya, yah ... kami mulai sering bertengkar untuk sesuatu yang kecil. Kami sama-sama menuding bahwa kami mulai berbeda. Ku pikir, sesuatu yang seperti itu bisa diperbaiki. Tapi, pepatah yang spesial akan kalah sama yang selalu ada. Ternyata ada benarnya juga. Aku tak selalu ada untuknya, dan tanpa ku sadari ketiadaanku membuat celah dihatinya untuk tertarik pada yang lain(yang selalu ada). Kau, nona... perempuan yang jauh lebih dewasa dari kami, yang selalu ada untuknya, dan yang bisa mengisi kekosongannya karena kesalahan kecilku.
Aku akhirnya bisa benar-benar melepasnya denganmu, karena seluruh kesibukanku. Hari-hariku mulai berbeda, kuhabiskan banyak waktuku untuk memperbanyak kawan. Kubunuh setiap lukaku dengan semua aktivitasku. Hingga, aku menemukan seorang pengganti. Berkatnya juga lah kekecewaanku padamu, sebagai sesama perempuan, hilang. "Sudah, doakan saja mereka bahagia, tak ada yang lebih baik untuk hati kita selain benar-benar menerima dengan segala bentuk penerimaan, jangan buat hatimu keruh karena kau tak mampu memaafkan, sekalipun mereka tak pernah meminta maafmu." katanya. Baik, kemudian aku benar-benar memaafkan, walau tanpa melupakan. Aku menerima, bahwa ada perempuan baik yang mampu menerimanya dan mencintainya lebih dariku.
Hingga suatu waktu, takdir kembali mempertemukan dan mempersatukan kami. Lelaki yang tak kau pilih untuk menjadi imammu itu, kini kembali padaku. Lalu, aku kembali kecewa padamu, nona. Aku tak memilihnya sebagai pilihan terakhir, yang mau tidak mau aku hanya bisa bersamanya. Aku memilihnya di antara pria pilihan kedua orangtua, dan pria yang tertarik menjadikanku makmumnya. Lalu, pilihanku tertuju padanya, karena dia lelaki yang berkualitas. Aku kembali memilih mendampinginya. Aku memilih untuk bersama-sama, berjuang untuk masadepan kami yang bahagia. Lihatlah nona, dua orang yang sempat berpisah lewat dirimu, kini kembali juga lewat dirimu. Lelaki yang kau tinggalkan itu, dan wanita yang sempat kau buat terluka itu, kini bersama, bisakah kau doakan kami agar hidup kami bahagia ? Terimakasih nona...

  • view 134