Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 15 Oktober 2016   21:43 WIB
Lalu yang Datang

"Aku ingin menjadikanmu masa depanku, satu-satunya prioritasku saat ini hanya kau. Aku tau aku tak pantas untukmu dan kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku, tapi kemudian aku berpikir aku mampu menjadi lelaki terbaik untukmu, dengan usahaku."
Jariku kaku, perlu beberapa waktu untukku membalas pesanmu.
"Menjadi sosok misterius, itu juga salah satu usahamu ? " Aku belum berani untuk membalas lebih dari itu.
"Ya, aku tak punya jalan lain untuk kembali mengenalmu. Kau berbeda dengan yang lalu. Jadi, mau kah kau menjadi masa depanku ?"
Ada banyak hal dalam pikiranku, kenapa dan bagaimana sebuah ketidakmungkinan kini kembali padaku. Oh Tuhan, Bukankah aku sudah benar-benar menghapusnya ? Lalu, kenapa Engkau mengantarkannya lagi padaku ? Pilihan macam apa ini, Tentu kedua orangtuaku tak akan menerimanya. Mereka sudah menemukan pilihannya untukku, dan cerita masalalu kami tentu sedikit banyak sudah menggores hati mereka.
"Aku tidak mampu mengambil langkah sebelum kau mengutarakan apa yang kau pikirkan." Pesanmu kembali membangunkan lamunan beratku.
"Kenapa, kau tidak mencari sosok baru ? Kenapa, kau memilih kembali padaku ? Apa yang ada dalam pikiranmu ? " Tanyaku padamu.
"Namamu masih dan selalu tertaut di dalam lubukku. Hatiku selalu berkata bahwa hanya kau jalanku. "
"Lalu, kenapa kau dulu pergi dariku ? "
"Maafkan aku, itulah kebodohanku. Tapi, aku selalu berpikir cara untuk mengupayakanmu kembali padaku."
Emosiku mengantarkanku untuk terus memburumu. "Kamu jahat, Kau tahu ? Butuh banyak waktu untuk hatiku menerimamu bersamanya. Butuh banyak waktu untuk hatiku melepaskanmu bersamanya. Kau bahagia bersamanya, tapi setelah kau berpisah darinya, kau ingin kembali padaku ? So, what should i do ? "
"Tidak, sungguh. Aku tak pernah berpikir untuk menjadikannya masa depanku. Aku ingin kembali padamu sejak dulu, tapi aku tak ingin menyakiti wanita lagi. Cukup kamu, maafkan aku.  Lalu, saat Tuhan memberiku kesempatan untuk kembali padamu. Aku ingin memperbaiki semuanya."
Mataku kelu, nanar membayangkan semua hal yang telah lalu. Lalu ku putuskan sesuatu.
"Kau tahu kan, meskipun aku mau, tak mudah untuk kita bisa kembali. Kau tau maksudku ? "
"Ya, aku sudah memikirkannya. Keluargamu tentu akan menolakku."
"Aku tak bisa mengiyakan atau menolakmu, hidupku tergantung orangtuaku. Aku hanya menjalani apa yang mereka ridhoi. "
Lalu, diluar dugaanku, "Aku akan menemui mereka nanti, ketika aku pulang ke kampung."

---------2 Bulan berikutnya-------

"Aku mau main kerumahmu bersama orangtuaku."
Tak ku balas, karena saat itu yang ku pikirkan hanya orangtuaku. Lalu, dengan hati-hati aku mengatakan pada mereka.
"Bu, Pak, Rendi kembali. Ia sebentar lagi akan sampai dirumah ini, bersama keduaorangtuanya."
Seperti dugaanku, keduaorangtuaku kaget,"Rendi ? Kamu sudah kembali sama dia, nduk ? bukankah akhir-akhir ini kau lebih sering menjalani komunikasi dengan Alif ? Ibu tak pernah mendengarmu bercakap dengan Rendi "
"Tidak bu, saya belum menjalin hubungan apapun dengan Rendi, dan tentang Alif, kami masih berteman." Kemudian, dengan panjang lebar ku ceritakan tentang pertemuan mayaku dengan Rendi.
"Ya sudah nduk, biar saja Rendi kesini wong yo silahturahim. Sudah lama dia ndak main kesini."
"Apa ibu dan bapak sudah memaafkannya ? " lanjutku.
"Apa kamu masih menyukainya ? "
Pertanyaan ibu sungguh diluar dugaanku, aku hanya diam dan sedikit menimpali,"Yang terpenting bukan rasa bu, tapi ridho bapak ibu, hanya itu prioritasku."


Suara beberapa langkah kaki terdengar dari dapur kami, di ikuti dengan salam lembut seorang laki-laki. Suara ini, dulu seringkali ku tunggu. Ah, ku tepis kenanganku. Lalu, ku jawab salamnya dan ku jabat tangan lelaki itu. Rendi, dan keduaorangtuanya telah tiba di rumah kami. Wajahnya masih sama, hanya saja dia sedikit terlihat lebih tua. Tentu saja, sudah 4 Tahun kami tidak bertemu. Dan keduaorangtuanya pun nampak lebih tua. Aku pun mencuri pandang sekejap di kaca ruang tamu, wajahku pun mungkin nampak lebih tua dari dulu.
Bapak Ibu kami saling berjabat tangan. Aku duduk berdampingan dengan keduaorangtuaku. Dan Rendi duduk berseberangan denganku. Kami sedikit mencuri pandang, sekaligus tertawa kecil ketika keduaorangtua kami saling berkenalan.
Kau mengutarakan maksud kedatanganmu, untuk bersilahturahim dan mengenalkan keduaorangtuanya dengan keduaorangtuaku. Tak ada kata lebih saat itu, hanya sebuah perkenalan.
Waktu itu berjalan lebih cepat, 3 jam kami berbincang. perbincangan yang sangat ringan.

Esoknya, Rendi kembali lagi kerumahku. Tapi, kini ia sendiri. Sembari menunggu keduaorangtuaku, Rendi banyak meledekku.
"Kamu gendutan yah sekarang. Ahh.. ku pikir kamu jadi anak liar sekarang, tapi Alhamdulillah masih sama seperti dulu."
"Anak liar ? koq bisa punya pikiran gitu ? mending aku lah, ada perubahan. Kamu masih sama seperti dulu. Padahal hidup di ibu kota, masih gitu-gitu aja ih"
"Kamu sering mbolang ga jelas sih."
Belum sempat ku balas ledekanmu. Lalu, ibuku datang disusul oleh bapakku. Wajahnya seketika nampak lebih tegang.  Kemudian, dengan tenang ia utarakan maksud kedatangannya.
"Buk,Pak, Kedatangan saya disini  untuk memohon maaf untuk segala khilaf yang telah saya lakukan pada anak bapak dan ibu. Dan tentu itu juga sangat menyakiti hati bapak ibu. Tolong, maafkan saya pak bu."
Bapak dan Ibu hampir bersamaan menjawab,"iya. sudah kami maafkan, yang lalu biarlah berlalu dek. Yang penting sekarang tali silahturahim jangan sampai putus lagi."
"InsyaAllah pak bu, Alhamdulillah kalau seperti itu."
Kemudian obrolan berlanjut, di dominasi oleh Rendi dan Bapak. 2 Jam berikutnya Rendi pamit.


Malam harinya, HPku berdering. Ku kira itu Alif, tapi ternyata Rendi.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Reta ya ? ."
"Yaa.. Ini Rendi ? Kamu masih pakai nomer yang ini yah ?"
"Iyaa, ini nomer pemberianmu. Sejak dulu tak pernah ku ganti. Sengaja sih ." Jawabmu centil.
"Euh... ada apa Rend ?"
"Aku pengen ngomong serius sama kamu, Aku udah kerumahmu, sepertinya keduaorangtuamu tak membenciku, Apa itu berarti, kau mau ngasih aku kesempatan ?"
"Jawabanku tetep sama Rend, Semuanya tergantung orangtuaku."
"Aku belum bisa memintamu ta, Kerjaanku belum pasti, aku belum mapan. Aku masih kerja di loketting, dan itu kontrak."
"Hhahaah, yang nyuruh kamu minta aku siapaaa coba..." Jawabku sekenanya.
"Kamu, ngasih aku waktu sampai kapan ? Aku akan usaha nyari kerja yang sekiranya mampu buat kamu bahagia."
Aku terdiam sejenak," ehmmmm... "
"Kamu pengen nikah bulan apa tahun berapa ?" Tanyamu seketika.
"Aku pengen nikah tahun depan."
"Baiklah, beri aku waktu sampai akhir tahun ini. Jika aku belum dapet kerja yang bagus, kamu boleh sama yang lain. Tapi, aku pasti dapatkan kerjaan bagus sebelum akhir tahun ini."
"ahahah... Rendi... Rendi... Semangat deh buat kamu. "
"Besok, aku balik ke ibukota. Pamit yah."
"Oke, hatihati yah."

Keesokan harinya, ku ceritakan perbincangan kami pada Ibu dan Bapak. Kemudian, dengan tenang ibu berkata,"Semua terserah kamu, Pilihan yang ada di antara kamu sama-sama mengharuskanmu menunggu. Alif sudah mapan nduk, tinggal nunggu dia naik pangkat. Alif dan Rendi sama-sama pemuda yang baik. Hanya saja, Alif belum terlalu kau kenal. Sedangkan Rendi sudah tentu kau hafal semua perangainya. Semuanya terserahmu."
"Bu, Pak, Alif adalah pilihan kalian. Apakah kalian ridho jika ternyata aku lebih memilih Rendi daripada Alif ?"
"Nduk... nduk... yang menjalankan kehidupan itu ya kamu sendiri. Bapak Ibu cuma bisa meng aamiini jika itu kami pandang baik untukmu."

-------1 Bulan berikutnya-------

Seusai pembicaraan itu, aku hanya mampu terus meminta petunjuk padaNya. Hingga suatu pagi, ada pesan masuk dari Rendi.
"Assalamu'alaikum, Ta Alhamdulillah aku ketrima di ******* , tapi maaf aku belum bisa meminangmu dalam waktu dekat ini. Karena aku harus pendidikan terlebih dahulu. Kalau sekiranya atasanku sudah mengizinkanku untuk pulang kampung, saat itu juga aku akan meminangmu."
"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah. Apakah Bapak Ibumu sudah tau tentang rencanamu ?"
"Kemarin, waktu ku ajak berkenalan. Aku sudah menyampaikan maksudku. Mereka setuju."
Tak ku balas pesan dari Rendi, Pikiranku tiba-tiba tertuju pada Alif. Ya, Alif adalah pemuda pilihan keduaorangtuaku. Dia baik, sopan, dari segi penampilan Alif jauh lebih menarik. Tapi, Alif sedikit sukar memberi kepastian. Suatu kali, aku bertanya padanya tentang sebuah kepastian. Tapi dia menjawab," dik, orangtua kita sudah sama-sama setuju, tapi maaf aku belum bisa memberimu kepastian apapun, karena kuliahku belum selesai dan untuk bisa menikah aku harus naik pangkat dulu."
Baiklah Tuhan, ku ikuti saja alurmu. Bukankah Tuhan akan mempermudah langkah manusia yang memiliki niat baik?
Sejak saat itu, komunikasi antara aku dan Rendi semaakin intens.


-------3 Bulan berikutnya--------
Rendi datang kembali ke rumah ini. Tanpa panjang lebar, ia mengutarakan pada kedua orangtuaku untuk diberikan izin meminangku. Kedua orangtuaku pun memasrahkan semua jawaban padaku.
"Iya bu, pak... saya bersedia."
"La itu lo dek Rendi, Retanya mau, pesennya Ibu, Jangan diulangi lagi ya kesalahan yang lalu. Dijaga baik-baik anak ibu ini."
"Iya bu. Alhamdulillah, besok lusa keluarga besar kami mau sowan kesini untuk acara khitbah."


Oh Tuhan, Dia selalu punya rencana terbaik diantara yang terbaik. Kejutannya selalu indah. Dan benar, Jodoh akan bertemu dengan mudah, ketika sudah waktunya. Jalannya mungkin tak selalu mudah, Tapi Tuhan selalu menyertakan tanganNya untuk membuatnya terasa mudah. Oleh karenanya, tak ada alasan untuk kita berburuk sangka terhadap ketentuanNya, karena hikmah pasti menyertai setiap ketentuanNya.

Karya : Ayu Wae