LSI Denny JA Sebut Persaingan Ketat Tapi RINDU Juara

Ayu Rahmah
Karya Ayu Rahmah Kategori Politik
dipublikasikan 22 Juni 2018
LSI Denny JA Sebut Persaingan Ketat Tapi RINDU Juara

LSI Denny JA memang mengatakan belum bisa memutuskan siapa yang benar-benar dapat menjadi juara di Jawa Barat. Dengan kata lain, seolah dia ingin mengatakan: hasil pemenang tunggu tanggal mainnya. Sebab dari temuan terbaru LSI pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum (RINDU) dan Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi (dikenal sebagai 2DM atau Deddy-Dedi) bersaing ketat dalam perolehan suara.

Meskipun begitu, menurut survei LSI yang berlansung sepanjang 7-14 Juni 2018, tak dapat dipungkiri bahwa kandidat RINDU menjadi pilihan yang tertinggi dalam temuannya. Pasangan RINDU unggul di atas pasangan Deddy-Dedi dan pasangan dari kandidat-kandidat lain seperti TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) dan Sudrajat-Syaikhu (Asyik).

Pasangan RINDU memperoleh angka elektabilitas 38 persen. Sedangkan pesaing terdekat, pasangan Deddy-Dedi hanya meraih angka elektabilitas 36,6 persen. Cerita lama dari TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) dan Sudrajat-Syaikhu (Asyik). Keduanya tetap tak beranjak jauh perolehannya. Dua pasangan ini tak dapat mengejar ketertinggalan dari RINDU dan Deddy-Dedi yang unggul jauh. Masing-masing pasangan Hasanah dan Asyik ini hanya meraih angka 7,7 persen (Hasanah) dan 8,2 persen (Asyik).

Oleh sebab itu, LSI meyakini bahwa persaingan sebenarnya di Pilgub Jawa Barat hanya dua pasangan yakni RINDU dan Deddy-Dedi. Hingga hasil survei ini, LSI Denny JA tak berani mengambil kesimpulan tetapi juga tak dapat menampik fakta bahwa pasangan yang tertinggi masihlah pasangan RINDU.

***

Temuan ini menunjukkan betapa posisi RINDU tak tergoyahkan di puncak. Meski pun pasangan nomor satu ini mengalami penurunan dan pasangan nomor empat, Deddy-Dedi merangsek mendekati dan memangkas ketertinggalan dari RINDU, tetapi tak dapat merubah keunggulan. Persaingan dua kandidat Jabar ini menarik menunjukkan betapa ketatnya pilgub Jawa Barat.

Fakta keunggulan ini mengungkapkan suatu hal yang menarik. Pertama, Deddy Mizwar sebagai petahana rupanya tak mampu keunggulan dirinya. Padahal, berkaca pada pilkada Jawa Tengah misalnya, petahana biasanya lebih unggul. Dengan segala modal politik dan modal sosial yang dimilikinya selama menjadi pejabat di periode sebelumnya, seharusnya Deddy Mizwar dapat merawat para pemilihnya dengan baik.

Faktanya justru Ridwan Kamil yang sejatinya hanya seorang walikota Bandung, sebuah ibu kota Jawa Barat, yang justru meroket. Sosoknya sebagai walikota Bandung, sosok yang akrab dengan milenial, pemimpin yang inovatif dan terbukti membuat banyak perubahan besar di Bandung, mengalahkan sang petahana. Apa yang salah dari petahana?

Kedua, Deddy Mizwar adalah sosok artis yang sejatinya dengan tingkat ketenarannya dapat meraih simpati dan dukungan dari masyarakat Jawa Barat. Dalam berbagai survei, tingkat popularitas Demiz (panggilan Deddy Mizwar) justru selalu tertinggi mengalahkan kandidat-kandidat lainnya. Tetapi tingkat popularitas itu tak dapat menolong apa-apa dalam persaingannya dengan Ridwan Kamil. Tingkat popularitas berbanding terbalik dengan tingkat elektabilitas. Biar kata Demiz paling unggul secara popularitas, kenyataannya dia keok secara elektabilitas.

Para pengamat justru memandang yang dapat mendongkrak pasangan Deddy-Dedi ini justru tak lain wakilnya, Dedi Mulyadi, seorang Bupati Purwakarta. Di panggung-panggung debat, Dedi Mulyadi justru tampil bersinar. Ini berbanding terbalik dengan Deddy Mizwar yang justru tampil kurang meyakinkan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari panelis maupun dari kandidat-kandidat lain. Ingat ketika Demiz justru berbalik dan berjalan ke arah lain menghindar saat terjadi debat dan dicecar oleh Ridwan Kamil.

  • view 46