Dirimu adalah Sebenar-Benarnya Pelajaran, Nak

Ayu
Karya Ayu  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Maret 2016
Dirimu adalah Sebenar-Benarnya Pelajaran, Nak

Hallo nak,

Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Kamu adalah sebenar-benarnya pelajaran bagiku. Kamu adalah sebenar-benarnya titik balik hidupku. Dan kamu adalah sebenar-benarnya semangat bagiku.

Sebelum hadirmu, aku merasa biasa. Aku merasa mampu melakukan segala hal yg diberikan padaku. Aku bisa berpergian kemanapun kumau. Aku bisa membeli apapun yg kumau. Aku bisa sesuka hatiku berbuat semauku.

Tapi hadirmu adalah pelajaran baru bagiku.

Aku sadar banyak hal yg harus aku pelajari, banyak hal yg belum aku ketahui, banyak hal yg tak bisa kulakukan. Banyak, banyak sekali. Sampai-sampai aku merasa bodoh, betapa bodohnya aku mendapat titipan semengagumkan dirimu namun aku tak tahu harus berbuat apa.

Aku sadar bahwa hidupku tak hanya sebatas berpergian kesana kemari ataupun berbelanja ini itu. Aku sadar ada saatnya aku harus berbagi untuk orang lain, terutama denganmu. Aku harus berbagi waktu denganmu, mendengarkan ocehanmu yg tak ku mengerti apa maknanya, menuntunmu di langkah pertamamu, mengusap tangismu, dan segala hal kecil yg tentangmu.

Aku sadar selamanya aku tak bisa sesuka hatiku. Aku memiliki tanggung jawab atas dirimu. Tuhan sudah memilihku untuk mentipkan dirimu padaku. Baik buruknya dirimu, berbakti tidaknya dirimu, taat tidaknya dirimu pada Nya, menjadi tanggung jawabku. Tuhan pasti tidak salah menitipkan dirimu padaku, aku yakin aku bisa menjaga amanah Nya dengan baik.

Nak,

Dirimu adalah sebenar-benarnya alasanku untuk tetap berdiri di sini. Aku sadar aku tidak pantas untuk merengek-rengek lagi kepada orangtuaku. Karena akulah yg seharusnya menjadi sandaranmu. Menjadi peraduanmu ketika dirimu sedih, bahagia ataupun kecewa. Menjadi tempatmu mengeluh ketika dunia mulai tak ramah. Aku yg akan menyemangati ketika dirimu kecewa. Aku yg akan menjadi tempatmu pulang ketika dirimu lelah berjalan.

Nak,

Jika nanti dirimu tumbuh menjadi seorang yg besar, ingatlah untuk selalu dimana dirimu berpijak. Tetaplah merendah ketika sekitarmu mulai berlomba-lomba untuk meninggi dengan cara yg buruk. Tetaplah merendah, namun bukan berarti menjadi rendah akal, pikiran dan ilmu. Rendah dirilah, namun berilmu tinggi. Tetaplah sederhana ketika sekitarmu mulai berlomba-lomba untuk bergaya. Tetaplah sederhana, namun bukan berarti sederhana juga caramu berbagi. Hiduplah sederhana, namun teruslah berbagi.

?

  • view 180