Siapa Perempuan Dibalik Tirai itu?

Ayue Rahmi
Karya Ayue Rahmi Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 11 Maret 2016
Siapa Perempuan Dibalik Tirai itu?

Jika kita hendak bertanya, siapa gerangan perempuan di balik tirai itu? Ia lah gadis penjual susu.

Malam telah gulita. Madinah sudah tertidur dengan lelapnya, kecuali seorang saja. ditelusurinya jalanan Madinah dan setiap lorong sempit disana. Sudah menjadi kebiasaannya berjalan mengendap-ngendap sambil memasang baik-baik indera pendengar dan penglihat, kalau-kalau ada temuan penghuni rumah yang masih terjaga karena lapar, sakit, atau barangkali akan menemukan para kelana yang terlantar. Lelaki itu hendak memastikan bahwa tidak ada urusan umat yang luput dari perhatian. Ia adalah Umar bin Khattab.

Tidak lama lagi fajar akan menampakkan diri, adzan Shubuh segera berkumandang ke seantero negeri. Disandarkannya sejenak tubuh besarnya itu pada sebuah dinding rumah yang hanya dihuni oleh ibu yang sudah tua bersama seorang anak gadisnya. Lirih, terdengarlah percakapan dua orang perempuan itu olehnya. ?Ambillah susu dan campurkan saja dengan air. Sesungguhnya engkau di tempat yang Amirul Mukminin dan hulubalangnya tidak melihatmu?. Lantas anak gadis itu berkata, ?Aku bukanlah seorang yang menaati sang khalifah ketika beliau dihadapanku, lalu melanggarnya ketika beliau berlalu. Jika Amirul Mukminin tidak tahu, Tuhan nya pasti tahu.? Mendengar percakapan ini, berurai air mata Umar.

Kisah ini tentu sudah sering kita dengar. Bahwa ia tidak semata berakhir dengan pernikahan anak gadis penjual susu dengan anaknya Umar bin Khattab, Ashim. Disinilah mulanya, darah kejujuran berlebur ketaatan akan melahirkan ketaatan-ketaatan berikutnya, membentuk keturunan yang baik dan mulia. Dari pernikahan itu, Khalifah Umar dikaruniai seorang cucu perempuan bernama Laila, yang kelak menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, lalu dari rahimnya lahirlah seorang pemimpin hebat dan perkasa; Umar bin Abdul Aziz namanya.

?

Jika kita hendak bertanya, siapa gerangan perempuan di balik tirai itu? Ia lah Istri Mutsanna binHaritsah.

Setelah syahidnya Abu Ubaid bin Mas?ud dalam memimpin Perang Jisr; perang diatas jembatan sungai Eufrat dalam penaklukan Persia, sisa pasukan di Irak di pimpin oleh Mutsanna bin Haritsah. Meski dalam keadaan terluka, ia mampu membalaskan kekalahan pasukan muslim sebelumnya terhadap pasukan Persia pada pertempuran Buwaib di dekat Kuffah. Namun, sebelum pasukan Sa?ad bin Abi Waqqash tiba, Mutsanna telah syahid.

Debut terbesar Saad bin Abi Waqqash dalam karir militernya ialah kesuksesannya membawa pasukan Islam memenangi pertempuran melawan tentara Persia dalam Perang Qadisiyah, di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Perang tersebut menandai runtuhnya kedaulatan Persia yang cukup super power kala itu. Sa?ad memimpin 30.000 pasukan yang berkemah di Qadisiyah melawan 120.000 pasukan Persia dibawah panglima Rustam.

Ada kisah menarik dalam peristiwa ini. Saat Mutsanna meninggal dalam pertempuran, ia mengamanahkan istrinya untuk tidak menjanda dan menikah dengan Sa?ad bin Abi Waqqash. Hal ini dilakukannya karena ia tahu bahwa Sa?ad akan menjadi komando pasukan perang berikutnya, sedang istrinya adalah seorang perempuan yang cerdas dalam strategi perang. Bersama Sa?ad, kecakapan bersiyasah membumbui ketaatannya telah membuka jalan kemenangan umat Islam, atas izin Allah swt.

?

Jika kita hendak bertanya, siapa gerangan perempuan di balik tirai itu? Ia lah Khadijah binti Khuwailid.

Kecemburuan level tertinggi, jatuh pada seorang perempuan yang Allah salami. Saudagar cerdas, dermawan, dan berbudi. Suatu hari Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, ?Sampaikan salam dari Allah dan dariku untuk Khadijah. Kabarkan juga kepadanya bahwa tersedia untuknya sebuah rumah di surga yang terbuat dari berlian. Di dalam rumah itu tidak ada kegaduhan dan rasa lelah?.

Ada yang ingat cerita tentang turunnya wahyu pertama?. Pada saat itu Rasulullah pulang dengan gemetar. Ia menemui Khadijah dan minta diselimutkan. Khadijah lalu menyelimutinya hingga rasa takutnya hilang. Rasulullah menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya dan berkata ?aku benar-benar takut?. Khadijah yang cerdas lagi bijaksana lantas menenangkannya ?Allah tidak akan mencelakaimu. Sesungguhnya engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim; memikul beban orang yang kelelahan; menolong orang yang kesusahan; menghormati tamu; dan membantu para penegak kebenaran.?

Keberadaan Khadijah turut menyulut kecemburuan Aisyah. Sampai-sampai Rasulullah marah dan berucap, ?Demi Allah, tidak akan ada yang lebih baik darinya. Ia beriman saat orang lain kafir. Ia percaya padaku saat orang lain mendustkakanku. Ia membantuku dengan hartanya saat orang lain tidak. Dia melahirkan anak-anakku dan yang lain tidak.?

Sebuah syair pernah ditulis untuk Khadijah, ?Dengan sabar ia bela kebenaran, dan dengan sabar ia bela nabi akhir zaman??

***

Sungguh, ada banyak perempuan-perempuan di balik tirai, di sepanjang masanya. Islam telah hadir memuliakan perempuan dengan kodrat dan norma. Yang Allah telah sejajarkan antara keduanya--Laki-laki dan perempuan-- dalam urusan pahala (Al-Ahzab: 35). Semoga bisa menjadi penyemangat kita bersama untuk senantiasa merefleksikan diri pada suri teladan sholihah dimanapun berada. Jika kelak ada yang bertanya, siapa perempuan di balik tirai itu, pastikan ia adalah kita. :)

Keep inspiring, Muslimah....!

  • view 187