Sumpah Untuk Pulang

Ayu Alfiah Jonas
Karya Ayu Alfiah Jonas Kategori Renungan
dipublikasikan 02 November 2017
Sumpah Untuk Pulang

Tanggal 28 Oktober 2017 kemarin, tepat di hari Sumpah Pemuda, saya diajak teman saya, Muhammad Burhanuddin, untuk menghadiri sebuah pertemuan kecil di bilangan Cipto Cirebon dimana di situ ia diminta menjadi pembicara atas komunitas kecil yang sedang ia perjuangkan, Pemuda Setempat namanya. Pemuda Setempat bergerak di bidang literasi dimana Burhan dan kakak iparnya, Pak Lalan, mengelola sebuah perpustakaan kecil untuk anak-anak di sekitar rumahnya.

Pertemuan kecil itu digagas sebuah komunitas bernama Balik Bae, anggotanya adalah para mahasiswa generasi millenial baik yang sudah lulus atau belum lulus dan sedang merantau guna mencari ilmu ke banyak kota di Indonesia. Yang masih berdomisili di Cirebon pun bisa turut serta. Teman-teman di Balik Bae berkuliah di banyak universitas yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara: Universitas Gadjah Mada, Institut Tekhnologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Pendidikan Indonesia, dan lain-lain.

Dalam bahasa Cirebon, “Balik Bae” bisa diartikan sebagai sebuah ungkapan pendek untuk menyuruh seseorang pulang. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “pulang (balik) saja (bae)” atau bisa diartikan “pulanglah” agar terasa lebih puitis. Balik Bae adalah sebuah wadah penghubung anak muda Cirebon yang sedang merantau atau yang menetap di Cirebon supaya lebih peduli dan sensitif tentang apapun yang terjadi di Cirebon.

Ruang lingkup kegiatan Balik Bae mencakup pendidikan, sosial-politik dan ekonomi. Kenapa? Sebab ketiganya merupakan dasar untuk kemajuan sebuah kota atau negara. Dari tiga poin itu ada satu yang paling penting yakni kesadaran bagaimana sikap perantau yang pulang ke rumah setelah mendapatkan pengalaman hidup di tanah orang. Komunitas Balik Bae mengawal para perantau, menyadarkannya agar kembali pulang dari tanah orang dan membangun tanah kelahiran sendiri. Balik Bae membongkar kesadaran bersama bahwa merantau bukan akhir perjalanan dalam hidup, akan tetapi proses untuk belajar dan mengimplementasikan apa yang didapat di tanah kelahiran.

Sesi sharing pertama diawali oleh pemaparan Aulia Hashemi Farisi, pemuda yang tidak lahir di Cirebon namun merasakan cinta yang begitu dalam pada kota kecil ini. Ia mempresentasikan betapa Cirebon punya banyak keunggulan dan potensi baik untuk dikembangkan terutama energi para pemudanya yang ingin membangun kota udang ini menjadi kota yang unggul di segala bidang. Saya kaget ketika Aulia mengemukakan bahwa di Cirebon berdiri satu Tugu Kemerdekaan, sejarahnya kira-kira begini: Cirebon telah merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945, dua hari lebih lama ketimbang negara Indonesia sendiri. Maka tidak bisa tidak, pemuda Cirebon harus lebih unggul dari pemuda di daerah yang lain. Jujur saja, saya baru tahu soal itu. Kesadaran saya pun bergerak dan merutuki diri sendiri: kemana saja saya selama ini?

Ketua BEM Fakultas Teknik Universitas Diponegoro tahun 2015 ini menjelaskan bahwa sejatinya pemuda ialah bergerak. Hal ini sudah terbukti daam sejarah Indonesia semenjak Budi Utomo berdiri. Budi Utomo diisi oleh para pelajar dan mahasiswa yang sadar akan pentingnya hak asasi manusia. Kesadaran para pemuda di masa itu sudah mencapai hal yang menakjubkan: para priyayi turut serta memperjuangkan rakyat kecil demi melepas belenggu para penjajah. Dari kisah itu, tuturnya, generasi milenial seharusnya bisa belajar menjadi pemuda yang modern, bersedia bergerak cepat mengikuti zaman atau tenggelam dan hilang.

Bergerak yang dimaksud bukan hanya bergerak semata, asal-asalan atau sembarangan. Pergerakan yang dilakukan harus berdasarkan empat peran pemuda di masyarakat yakni sebagai agent of change, iron stock, social control dan moral force. Dan jangan menafikan keberadaan pancasila, dasar negara yang agung. Jadikan pancasila sebagai landasan. Zaman sekarang adalah zamannya karya, teruslah berkarya dan orang akan tahu siapa kita. Bergerak pun tentu harus punya wadah. Maka dari itu, pemuda harus senang berororganisasi dan menemukan orang yang memiliki pandangan dan visi yang sama serta membagi peran dalam berjuang sehingga apa yang dilakukan akan lebih ringan dan memberi dampak serta berkelanjutan (sustainability).

Selanjutnya sesi sharing kedua yakni teman saya, Muhammad Burhanuddin. Pemuda mungil lulusan ITB ini memulai presentasinya dengan data-data dari BPS (Badan Pusat Statistik) kemudian menjelaskan betapa besar potensi Cirebon jika para pemudanya punya kemauan untuk membangun tanah tempatnya dilahirkan. Lewat pemaparan data yang agak mencengangkan, saya mulai merenung. Sudah lama saya keluar dari tanah kelahiran, tanah pertama yang mengajari saya soal hidup, tentang bagaimana bertahan agar tak redup. Terlalu lama saya acuh pada tanah sendiri. Burhan telah bertindak dengan tepat. Ia memulai perjuangan dari hal paling dasar: kebiasaan membaca dari usia dini. Jika membaca sudah menjadi kebiasaan, soal ketiga aspek di atas (pendidikan, sosial-politik dan ekonomi) akan bisa diatasi dengan mudah. Maka bisa disimpulkan gerbang utama untuk mengubah Cirebon menjadi lebih baik adalah di satu bidang yakni pendidikan.

Lewat data stastistik, Burhan menjelaskan bahwa dalam rencana pembangunan Jawa Barat, Cirebon dipersiapkan untuk menjadi kota metropolitan, kota budaya dan kota sejarah. Kabupaten Cirebon sendiri akan mengandalkan sektor pertanian, industri dan pariwisata selama rentang waktu 2011 s/d 2031. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Cirebon sendiri di tahun 2014 adalah sebesar 65,53%, dalam artian penduduk yang menikmati pembangunan dan pendidikan. Sisanya yakni kurang lebih 35% masih tertinggal.

Setelah melihat apa yang terjadi di lapangan, Burhan menyimpulkan jalan apa yang mesti pemuda lewati untuk membangun kota Cirebon. Pondasi pembangunan yang mesti dimaksimalkan yakni pendidikan, ekonomi dan politik. Namun bagi Burhan, faktor yang paling dominan adalah politik. Sebab di sanalah pembangunan ditentukan akan mengarah kemana. Meski begitu, Burhan bergerak dari hal paling dasar atas itu semua yakni dalam ranah pola pikir. Ia bergerak di bidang literasi, pendidikan agar bisa menjaga moral, etika, pengetahuan, keterampilan dan membuat orang yang kelak memegang peranan penting di masyarakat.

Sayang seribu sayang, presentase pendidikan di Cirebon pun masih sangat menggiriskan. Tercatat 26% penduduknya tidak punya ijazah dan 34% dari mereka hanya lulusan SD. 19%nya lulusan SMP dan sisanya SMA kejuruan, gelar diploma atau sarjana. Kami yang berada di situ seketika menggigil menyadari bahwa kami yang bisa mengecap bangku kuliah ternyata hanya 3% dari bagian persentase tersebut. Dari data itu Burhan mendambakan sistem pendidikan seperti apa yang dikonsepkan oleh Paulo Freire dimana pendidikan seharusnya bisa menjadi tempat masyarakat untuk bisa berpikir kritis dimana kedudukan siswa dan guru seharusnya adalah sebagai subjek yang sama-sama belajar mengkaji persoalan dan realita.

Sistem pendidikan ini disebut sistem pendidikan diferensiasi yang mana setiap individu dilatih atau diberi pembelajaran sesuai dengan bakat dan para guru memposisikan diri sebagai subjek yang sama-sama belajar dan mengkaji persoalan di masyarakat. Burhan percaya, literasi menumbuhkan rasa ingin tahu dan keinginan untuk terus belajar dan menemukan alternatif ilmu yang sama sekali tidak bisa difasilitasi dalam kelas. Saya yang sedang menumbuhkan minat dalam membaca buku pun sepenuhnya mengangguk.

Apa yang Balik Bae lakukan butuh energi yang besar bukan hanya dalam waktu yang sebentar akan tetapi merupakan rencana jangka panjang yang dampaknya akan sangat bermanfaat dalam pembangunan dalam lima atau sepuluh tahun lagi. Maka kegiatan-kegiatan dalam Balik Bae harus didukung bukan hanya secara materi semata akan tetapi juga semangat dan daya juang yang terus tumbuh-berkembang di dalamnya.

Setelah kedua pembicara selesai, satu per satu dari kami mengemukakan pendapat masing-masing. Beberapa bahkan membagi pengalaman di dunia pergerakan. Dalam pertemuan itu saya sendiri merasa ditampar dengan tamparan yang sangat keras. Selama di perantauan, saya hanya pulang di Hari Raya Idul Fitri saja itupun hanya tiga sampai lima hari lamanya. Tak ada hal yang membuat saya harus pulang dan melakukan hal-hal penting. Setahun belakangan, saya mulai sering pulang ke rumah. Selain merasa asing di perantauan, saya juga merasa kerinduan yang mendalam kepada Cirebon, tanah kelahiran yang bertahun-tahun telah saya tinggalkan.

Dan sejak saat itu saya memantapkan diri dan berjanji pada diri saya sendiri, saya bersumpah untuk pulang ke Cirebon dan melakukan sesuatu. Di Balik Bae, saya merasa mendapatkan wadah untuk bergerak lebih jauh dari jangkauan tangan saya. Apa yang ingin saya lakukan tentu tak berdampak besar jika ditangani sendirian. Harus ada medium lain untuk bergerak lebih luas dan nyata: Balik Bae adalah jawabannya. Kita bisa saling membantu satu sama lain untuk bekerja, melakukan hal-hal positif demi membangun kota Cirebon tercinta. Balik Bae mengguncang kesadaran saya untuk memberikan kontribusi lebih bagi kota Cirebon. Pertumbuh-kembangan Cirebon tak bisa lepas dari peran pemudanya. Balik Bae siap mengawal Cirebon dan menjadikannya lebih baik lagi. Pemuda-pemuda di Cirebon ada, bergerak dan selalu siap menjaga.

Kita berbeda pandangan dan perantauan, tapi kita bisa bekerja sama untuk membangun tanah kelahiran! Salam damai millenial. Salam eksekusi :)

Kedua komunitas bisa dihubungi melalui instagram @balikbae & @pemudasetempat_

  • view 450