Makna Cadar dan Rasa Sadar

Ayu Alfiah Jonas
Karya Ayu Alfiah Jonas Kategori Renungan
dipublikasikan 04 Juli 2017
Makna Cadar dan Rasa Sadar

Cadar merepresentasikan keutuhan. Si pemakai utuh menjadi manusia yang menjaga dirinya dalam bingkai agama. Cadar serupa perisai bagi para muslimah yang merawat tubuhnya dari kepentingan duniawi sekaligus simbol kepercayaan bahwa ia bukanlah siapa-siapa di hadapan Allah SWT. Saudari-saudari kita yang bercadar tidak mengklaim bahwa karena ia bercadar maka ia mendapat derajat lebih baik di mata Tuhannya ketimbang saudari-saudari kita yang gemar membuka aurat dan memamerkannya. Perempuan bercadar telah berhasil menjaga kehormatan dan mempersembahkan seluruh kecantikan hanya kepada Sang Ayah dan Sang Suami, sebuah langkah besar sebagai bekal menuju surgaNya.

Makna Cadar

Berawal dari iklim dan cuaca yang tak bersahabat di jazirah Arab, konstruk budaya di sana mewajibkan para perempuan untuk menutupi seluruh tubuhnya, menghindari terik matahari yang bisa membuat kulit melepuh. Selain itu, makna cadar juga masuk ke Indonesia lewat ajaran agama Islam. Untuk hal ini, setiap Mazhab punya catatannya masing-masing. Ada yang mewajibkan, menganjurkan, memperbolehkan dan ada pula yang bilang tidak wajib.

Karena tidak berasal dari Indonesia dan merupakan hasil adopsi dari budaya Arab dan agama Islam, maka sesuai dengan tujuan utamanya, seharusnya pemakaian cadar menjadi “sakral” jika dikenakan di Indonesia. Cadar tak boleh dipakai sembarang orang kecuali mereka yang benar-benar sudah berkomitmen memelihara diri laiknya perhiasan. Itulah mengapa saudari-saudari kita yang memakai cadar biasanya sangat menjaga pergaulannya. Ia yang sudah bersuami jarang keluar rumah dan bergaul ke tempat-tempat yang tak bermanfaat kecuali untuk kegiatan-kegiatan yang baik.

Namun sayangnya belakangan ini saya menemukan ada pergesaran makna ketika cadar kini hanya ditampilkan sebagai sandang semata. Meski sebenarnya tak ada anjuran wajib memakai cadar dalam Al-Quran, saya menduga ada semacam kepuasan batin ketika saudari-saudari kita yang bercadar sebagai “perhiasan dunia” tak bisa dilihat seorang pun sementara orang lain dapat ia lihat dengan leluasa. Perempuan merasa terlindungi dan menjadi “suci” dengan memakai cadar. Berangkat dari itulah mengapa sekarang lebih mudah menjumpai saudari-saudari kita yang bercadar di tempat-tempat umum sebab mereka telah mendapat pengakuan di masyarakat.

Seiring dengan pengakuan akan keberadaanya, saya melihat ada transformasi besar-besaran (baca: trend) dalam penggunaan cadar. Di lingkungan Ciputat saja saya bisa melihat banyak perempuan bercadar dalam keseharian dengan kombinasi pakaian yang tak lagi berwarna hitam. Sedangkan sebelumnya saya jarang sekali menemukan hal demikian. Mereka menggunakan warna-warna ngejreng seperti khaki, lylac, salem, biru, maroon dan banyak lagi. Semua itu menimbulkan satu pertanyaan dalam benak saya: benarkah pemakaian cadar di Indonesia kini mulai ramah dan bisa diterima masyarakat dengan terbuka? Atau ia justru mulai bergeser fungsinya?

Rasa Sadar

Kesadaran menutup aurat bagi perempuan adalah wajib dan sesuai dengan Al-Quran. Sangat bisa dimaklumi apabila ada rasa bangga dalam diri saudari-saudari kita yang bercadar sebab ia telah membentuk dirinya menjadi perhiasan yang tak dipamerkan. Ada yang mengiyakan dengan mentah sesuai ajaran dalam lingkungannya, ada pula yang menjalankan dengan penuh kesadaran atas kemauan sendiri setelah melewati beberapa pertimbangan. Memutuskan memakai cadar, bagi saya, berarti memutuskan untuk tidak memamerkan apa-apa kepada siapapun di mana pun dan kapan pun dalam kehidupan di dunia.

Lima tahun ke belakang, orang-orang masih ketakutan melihat perempuan bercadar yang dianggap berkaitan dengan pemahaman Islam radikal. Namun sekarang kita semua bisa melihat dengan gamblang, pemakaian cadar semakin dipermudah dengan munculnya banyak brand yang menyediakan gamis dan cadar warna-warni. Anak-anak muda berbondong-bondong membeli cadar dan melakukan apa yang mereka sebut sebagai hijrah, sebuah pertaubatan dengan cara memakai cadar. Saudari-saudari kita yang bercadar telah menemukan kemudahan untuk mulai masuk ke dalam situasi sosial yang tak lagi kaku.

Ruang Yang Tak Tepat

Tiga bulan belakangan, Indonesia seolah kebanjiran perempuan bercadar. Berangkat dari kegagalan saya memahami fenomena perempuan bercadar, dengan pengetahuan agama yang pas-pasan ini, saya mengambil kesimpulan mengenai ketenarannya: makna cadar dan rasa sadar tak bertemu di ruang yang tepat.

Kini perempuan bercadar sangat mudah ditemukan di jalan-jalan, kedai kopi, bahkan di mall-mall besar sekali pun. Cadar yang dulu hanya dipakai kalangan tertentu dan kerap dituduh sebagai teroris bagi pemakainya kini bisa dipakai mahasiswa biasa tanpa banyak curiga. Mereka bisa berjalan kemana pun dengan cadar yang semakin stylish dan ramah. Berfoto di pantai, di gunung-gunung, di banyak tempat wisata dan mengunggahnya di media sosial. Tak ada yang mempersoalkan itu. Orang-orang justru semakin berbondong-bondong memakai cadar dan berlomba eksis di media sosial.

Marilah sejenak kita berpikir dengan logika sederhana. Perhiasan yang ditutup dengan cadar tentu akan menjadi mulia di akhirat kelak. Jika perhiasan telah ditutupi dengan tanpa celah kecuali kedua mata dan telapak tangan lalu mengapa tetap memamerkannya kepada khalayak dengan mengunggah foto di media sosial? Apa yang ditutupi justru dipamerkan. Saya tidak menemukan unsur dakwah sama sekali di sana. Bagi saya, mengunggah foto perempuan bercadar dengan produk endorse di media sosial adalah kapitalisasi cadar. Sama sekali tidak ada tujuan menyebarkan Islam melainkan hanya menunggangi ajaran agama Islam untuk mengeruk keuntungan semata.

Hal inilah yang sangat saya sangsikan. Tega-teganya cadar—yang bagi saya pribadi “sangat sakral”—dieksploitasi dengan menjadikannya sebagai pendamping produk yang diendorse. Sungguh sayang seribu sayang. Pemahaman tentang cadar tidak diletakkan di atas kepentingan agama melainkan dunia semata. Bekal menuju akhirat malah disalah gunakan untuk kepentingan dunia. Makna cadar yang tertanam dalam pikiran tidak bertemu dengan rasa sadar dalam pelaksanaannya. Saya sangat takut, suatu saat nanti—seperti halnya jilbab—cadar hanya akan digunakan untuk kepentingan fashion semata. Dan saya jauh lebih takut jika umat Islam di Indonesia mewajarkan fenomena itu.

Coba lihat di akun sosial media Anda, sudah ada berapa foto endorsement saudari-saudari kita yang bercadar telah Anda lihat hari ini?

April, 2017

  • view 107