Rintik Hujan Merahasiakan Kenangan

Ayu Alfiah Jonas
Karya Ayu Alfiah Jonas Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 November 2016
Rintik Hujan Merahasiakan Kenangan

 

Hujan kala itu.

Di sebalik gerbang, beberapa orang lalu-lalang membawa jas hujan, payung, cover bag basah kuyup, kardus, plastik, goody bag ramah lingkungan, lain-lain hal, dan harapan. Di depan gerbang, cerita-cerita lain berseliweran. Di bawah atap haltenya, banyak orang menunggu sesuatu. Entah itu jemputan, angkutan umum, atau sekadar berharap hujan reda.

Kadang deras, kadang mereda, kadang-kadang bekerjasama dengan angin, menumbangkan beberapa payung pengguna jalan dan sesekali meniup pintu kotak penjaga parkir yang tak dikunci. Mengundang tawa anak-anak kecil yang sedang bermain-main sebelum hujan tiba, lalu terpaksa berhenti tiba-tiba. Menunjukkan kuasa Tuhan pada mereka: kenyataan memang sering tak sesuai dengan yang diinginkan.

Tiga penjaga loket tiket parkir bersembunyi di kotaknya masing-masing. Satu di antaranya menutup pintu yang tertiup angin kencang bersama hujan. Yang dua tertawa. Pintu mereka tak diterjang angin seperti yang pertama. Bagi mereka, apalagi yang lebih lucu ketimbang saling menertawakan? Bukankan hidup memang untuk saling menertawakan?

Melankolia melulu dikaitkan dengan hujan. Jika bersedih, kau bisa menghirup harum tanah yang meruap sambil sesekali menangis, atau bermain di dalam rintiknya bila sedang bahagia. Beberapa orang memilih berhujan ria sore itu. Dua orang lewat di depan kami, satu payung berdua. Entah sepasang kekasih atau hanya teman yang bertemu di tengah jalan.

Harum hujan tetap khas tak tergantikan, bahkan sebelum aku dilahirkan. Banyak penulis menerjemahkannya sebagai duka, atau bahagia. Kadang-kadang, jika punya cukup banyak waktu, mereka mendeskripsikannya dengan banyak kata-kata: bermakna atau tidak, terserah mereka. Aku sendiri tak pernah mau repot menerjemahkan hujan. Jika dalam hujan terjadi peristiwa, maka aku akan mengabadikannya. Tapi jika tak ada, untuk apa menerka-nerka?

Jam lima belas tepat di Sabtu sore. Kita masih bersama setelah seorang perempuan muda berjalan tergesa, membawa tumpukan buku tebal, dengan riasan wajah yang sama tebalnya.

“Dia cantik, ya.” Ia bergumam, matanya masih mengikuti arah perempuan itu pergi.

“Coba hapus make upnya.” Aku sengaja bilang begitu.

Tawanya meledak. Beberapa orang di depan teras bank itu melihat ke arahnya. “Isterimu kelak akan melakukan itu. Make up, hal yang wajib bagi perempuan.” Lagi-lagi, ia membenarkan letak kerudungnya. Kotak-kotak coklat dengan hanya satu jarum di bawah lehernya.

“Iya, tapi isteriku tidak akan melakukannya di dalam kampus.” Aku mengedipkan mata padanya. “Mahasiswi jaman sekarang memang sering salah kostum. Ke kampus menor kayak mau pergi kondangan.”

Menebak memang pekerjaan paling gampang selain berbohong. Di sana, kau akan menemukan satu sensasi kekonyolan dimana tebakanmu setidaknya ada yang tak meleset. Gara-gara itu, kami jadi saling tertawa. Sama seperti para penjaga parkir yang menertawakan diri satu sama lain. Kali ini kami bebas tertawa. Padahal dunia terus berduka dan kita hanya tetap berusaha untuk berpura-pura bahagia.

Aku berpostur kecil saja. Rambutku ikal dan tubuhku kurus. Selain isi otak, tak banyak yang bisa kubanggakan. Tampangku tidak rupawan, tidak juga punya banyak uang. Hidup yang membosankan. Tetapi hidup memang selalu membosankan, bukan?

Asalku dari pulau yang jika dalam peta memang sejajar dengan pulau ini. Namun untuk sampai ke sana, kau mesti melewati seluas lautan yang jika tak dengan kapal laut, hanya bisa dilewati dengan pesawat udara. Maka aku jarang pulang dan lebih betah berlama-lama di sini: membaca dan menulis, belajar, sebanyak-banyaknya mencerap ilmu.

Di tempat ini berlangsung transaksi ilmu. Ilmu, yang disebut-sebut salah satu amalan yang tetap mengalir bahkan setelah kau meninggal dunia, rupa-rupanya jadi tujuan utama setiap orang yang menginjakkan kaki di tempat ini. Tak mengelak, aku sendiri ke sini untuk alasan itu.

Sayangnya, sejumlah teman—aku bahkan bisa menyebutnya banyak atau hampir semuanya—memandang pendidikan hanya sebagai investasi. Mendapat ijazah untuk dijadikan modal mencari kerja di kemudian hari. Hanya bekerja bagi mereka. Sebagian lain masih merasa ilmu perlu dibagi-bagi. Hanya saja, sebagian itu—jika dihitung—jumlahnya sangat sedikit. Dan kita tak perlu menunggu kesadaran mereka sebab memang harus ada yang idealis dan pragmatis. Yang apatis dan kritis. Tapi tidak dengan gadis di depanku.

Jika menunggu adalah waktu luang yang didapatkan dengan tidak sengaja, maka aku dan dia harus menikmatinya.

“Sejarah membawaku ke tempat ini.”

“Sejarah?”

“Kau pernah membayangkan? Mungkin saja Pak Harun Nasution pernah duduk di tempatmu. Persis di situ.”

“Atau Cak Nur.”

“Ya. Dan mereka mungkin saja berbincang seperti kita saat ini.”

Ia menahan tawa. Barangkali membuat kesimpulan aku ini gila, atau sungguh-sungguh membayangkan apa yang kubilang itu nyata.

“Jauh dari tempat ini, tempatku bermula, pendidikan tak dijungjung lebih tinggi daripada sekolah menengah.”

Kita sering memulai obrolan dari beberapa kenyataan, lalu menariknya ke pemikiran. Percakapan demi percakapan saling kita cermati, mengkritisi satu sama lain, menguatkan pendapat masing-masing. Kami bahkan kadang bertengkar di sela-sela perdebatan.

“Ah, sudahlah. Ayo pulang.” Ajaknya kemudian.

“Tapi masih hujan...” Awan memang masih hitam.

“Hujan tak akan membuatmu mati. Percayalah.” Ia menatapku.

Akhirnya, kami pun berjalan bersama melewati pintu kecil, yang lebih akrab disebut sebagai Pintu Doraemon. Dari luar tembok, aku melihat gedung-gedung dalam tempat itu nampak gagah dan menakjubkan.

“Lihat. Betapa gagahnya!”

Ia tak menggubris. Justru bergumam, “percuma gagah kalau pikiran-pikiran di dalamnya tak sama gagah.”

Detik tak berhenti saat itu, namun terasa amat lambat bagiku.

Aku melihatnya berjalan pelan menembus becek jalanan. Tasnya penuh. Mungkin berisi buku-buku tebal atau hasil pungutan sisa konsumsi acara tadi. Kemarin, ia berkeluh kesah banyak mahasiswa yang tak punya hobi membaca. Ia sendiri jarang membaca namun selalu menyempatkan meski selembar dua lembar. Sebelumnya, ia terus mengeluh mengenai sistem pendidikan negeri ini. Jauh sebelum dua hal itu, ia sibuk mengkritisi hal yang menurutnya tak sesuai dan mencoba memberi solusi.

Aku berjalan mengikutinya pelan-pelan. Khawatir di tengah jalan ia mengamuk lantaran tiba-tiba melihat banyak mahasiswa cekakak-cekikik dan melalaikan tugas-tugas mereka.

Langkahnya padat dan tegap. Mencerminkan kegigihan dan optimisme dari dalam dirinya. Aku mengikutinya dari jarak dua jengkal jejer manusia. Sabtu sore selalu terlihat ramai. Waktu merayakan cinta katanya: begitu lirik sebuah lagu dangdut. Tapi bagi kami, setiap waktu adalah ancaman bagi diri sendiri: sudah seberapa besar bakti kami untuk negeri?

Hujan rintik-rintik bersetia membasahi bumi. Menerjemahkan rasa sekaligus menyimpan kenangan dalam dada kami masing-masing.

 

Tjipoetat, 30 April 2016