HAZELNUT COFFE

Ayu Widia
Karya Ayu Widia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Januari 2017
HAZELNUT COFFE

HAZELNUT COFFE

Merapikan Makna, Menata Kenangan

“ La… bila harus ada satu jawaban, dirimu lebih memilih mencintai apa dicintai?”, Dan pertanyaan itu menggema dihatiku berulang kali.

 

Wajah kuyu semesta Minggu pagi, setelah hujan semalaman penuh  menyongsong   mendung  kemudian membawa sisa-sisa angin malam yang masih enggan menguapkan hangat pada cahaya mentari pagi. Semilir dingin itu membuatku engan beranjak memilih asyik memaku diri diranjang busa.

Meski mataku terpejam namun pikiranku sedang terjaga, potongan-potongan kenangan bergulir bergantian membuatku gamang. Aku mencoba merangkai makna-makna dari irisan-irisan episode kemarin, namun belum berhasil kudapat, tambah pusing. Sementara diluar mentari mulai memenangkan cahaya hangatnya melawan hawa dingin, pergulatan selesai  sinarnya menerangi semesta yang tertawan gelap nan menggulita, dahsyat betul memang.

Ritual bermalasan ini harus segera kuakhiri pikirku, sejurus kemudian aku beranjak dari ranjang dan melipat selimut tempatku bersembunyi tadi malam. Sepertinya hujan petir semalam adalah perpaduan harmonis dengan suasana hatiku yang sedang berkecamuk, sama-sama gaduh dan membuat mengaduh. Diluar langit sedang memuntahkan amarahnya imbasnya semalaman aku sulit sekali terlelap dengan hati yang begitu gerimis.

>>>>> 

Kini aku sedang berdiri mematung di depan cerek yang airnya hampir mendidih, berniat membuat hazelnut coffe dengan kopi yang tidak terlalu kental. Suara berisik air yang mendidih membuyarkan lamunan dengan sederet caci maki atas ketidakberdayaanku memaknai makna, segalanya benar-benar berantakan didalam keluhku sambil menarik nafas panjang seolah  ingin menghabiskan seluruh persediaan oksigen dibumi, berharap seluruh penghuni bumi turut mencecap sesakku.

Segera kuracik hazelnut coffe dengan perpaduan krim instan plus coklat granualle yang tak terlalu banyak juga kopi yang tak terlalu kental, takut gemuk. Mahir benar aku meraciknya sendiri sekarang, tanpa dia….. ahh lagi-lagi dia, tiba-tiba tubuhku lemas segera kutarik kursi lalu duduk bersandar dan meletakkan gelas coffe di meja setelahnya, tak mencicipinya sama sekali, malas.

Mengingat sudah tiga hari ini aku tak nafsu makan, hanya sesekali memasukkan kudapan yang tersedia didalam kulkas hanya  mengganjal perut dan menghindari rasa pahit di lidah. Batinku sudah pahit, tak ingin pula aku menambahnya dengan mencecap pahit di lidah.  Hazelnut coffeku mulai berubah suhu, merayap dingin tapi masih lebih dingin tubuhku yang sesekali menggigil.

Tak kusentuh sama sekali cairan di gelas itu, takut asam lambung naik, aku hanya menginginkan nostalgia meraciknya saja ( begini-begini aku masih waras, masih peduli dengan diriku tak mau memperburuk kondisi tubuh). Nostalgia yang ternyata masih menyisakan pedih dan Tanya, harusnya tak terus begini.

>>>>>>>> 

Semua berawal dari sebulan lalu, disaat duniaku serasa berhenti berputar kala aku dan ‘dia’ tetiba saja hening tanpa kata sembari menatap gelas hazelnut coffe masing-masing  yang masih menguarkan uap panas.

“lucu ya”, ucapku memecah keheningan

“tadi kita masih membagi tawa dan senyum kita satu sama lain, sebelum setelahnya segalanya berubah,  berubah menjadi pelit, baik aku maupun kamu akan menjadi pelit berbagi kehangatan yang sama seperti kemarin dan siap membangun tembok pembatas dimana akulah yang harus membangun tembok itu lebiih tinggi”,

‘Dia’ hanya menunduk tak berani menatapku, sedangkan pandanganku  dengan buasnya memburu mencari matanya , kali ini aku terlampau berani  menghadang matanya.

Waktu berjalan mundur, mengurai 45 menit sebelum akhirnya aku dan dia memilih diam saling menanti respon.

Pintu café terbukakulangkahkan kakiku memasuki tempatku dan dia berjanji bertemu. Kuedarkan pandanganku menyapu ruangan yang mulai ramai pembeli sedang bau gurihnya kopi tak kalah mendominasi, sebelum kutemukan sosoknya melambai dari  bilik pemesanan mengisyaratkanku untuk mendekat. Kini dengan sigap dia membukakan pintu pembatas yang bertulisakn staff only saat aku hanya berjarak beberapa meter darinya.

“melihat saja ya, kali ini kubuatkan special sesuai pesanan, porsi besar juga boleh, gratis”, selorohnya.

“ seperti biasa sajalah kak, resep rahasiamu dan racikan pertamamu yang anti gagal itu saja hahaha”, jawabku bergetar mencoba mencairkan kekakuanku sendiri.

Dia tersenyum, aku terpana, selalu begitu.

Dia meracik permintaanku dan aku memperhatikanya lekat-lekat, seperti biasanya.

 Kini dua gelas hazelnut coffe menanti untuk saling dinikmati, kami duduk saling berhadapan. Aku menunduk memainkan krim diatasnya dengan sendok kecil yang dia sediakan, dia hapal kebisaanku memainkan krim-krim itu. Dan lagi-lagi dia tersenyum.

Terasa, Aku menangkap senyumannya dari ekor mataku, tak berani menatapnya langsung dari jarak sedekat itu, berdebar-debar, selalu begitu.

Dia menarik nafas siap, bersiap mengatakan sesuatu.

Kalimat yang sebenarnya sudah aku tau pasti, cepat atau lambat akan segera terlontarkan dari mulutnya sendiri.

Dan waktu itu sekarang, disini, ditempat ini. Ya Tuhan.

Benar-benar sekarang, waktu yang  dimana  selalu aku harapkan untuk tidak terjadi,berharap  di skip saja dari pesona waktu yang selama ini setia menyenangkanku.

Waktu yang selalu kupersiapkan rencana pelariannya, tapi saat ini disini aku tak bisa kabur, tertawan matanya, terkunci keadaan, tersebab pilihanku sendiri.

“Aku akan menikahinya sebentar lagi”, singkatnya.

Kalimat yang paling pahiiit diantara banyak pembendaharaan  kosakata yang ada di dunia ini.

Keheningan merambati meja kursi pelanggan nomer  5 ini sementara hazelnut coffe berangsur dingin tak tersentuh.

“aku tetap kakakmu, tenang saja naila”, lontarnya kemudian, membalas balik tatapan memburuku tadi , sejenak mata kami bertemu.

Segera aku mengalihkan pandangan, seperti ada air mendidih  panas terasa hingga dipelupuk mata, di sudut  hati ada banyak kaca pecah berantakan.

“bukan itu mauku kak, untuk apalagi? Diawal  memang semuanya telah berbeda, seharusnya dulu aku tak meneruskan rasaku. Nantipun juga akan lebih berbeda lagi, bukan milikku meski hanya sekedar sesemu kemarin-kemarin, karena segala tentangmu adalah bagian dari dirinya dan miliknya, aku tetap tak akan mendapatkan apa-apa, sama saja”, ucapku dalam hati setangah berteriak-teriak merutuki nasibku, umpatanku terasa mengema di telingaku yang hanya bisa kudengar sendiri.

Setelahnya perbincangan itu terasa berada di tengah-tengah ruang hampa, melayang-layang kosong tak memiliki rasa apa-apa, hampa benar-benar hampa. Suasana memang telah mencair, disamping usahaku sekuat tenaga  mengubur patah hatiku. Obrolan berlanjut sampai akhirnya aku memutuskan pamit, meninggalkan hazelnut coffe yang masih utuh sambil membawa pergi kepingan-kepingan yang hancur untuk kusimpan sendiri .

…………..

Aku masih ditempat tadi, duduk menenggelamkan wajah dilipatan tangan persis seorang murid yang tertidur dikelas tak kuat menahan kantuk,  dengan wajah kuyu dan rambut yang terurai liar aku menarik nafas panjang berali-kali.

…………………

Waktu kembali kurasakan berputar mundur, aku sedang mencoba mencari-cari dan mengacak-acak memori waktu-waktu itu beberapa tahun silam, nahhh akhirnya ketemu.

……………….

Latarnya masih ditempat yang sama, selalu disana, seperti sudah ditakdirkan tertitah beribu kenangan, sudah pantas mungkin bila dicatat sebagai salah satu sejarah.

“ Laa…. Bila harus ada satu jawaban, dirimu lebih memilih mencintai apa dicinta?i”, tanyanya sembari merebahkan dirinya di kursi pembeli nomer 5 tempatku menikmati hazelnut coffe dihadapannya.

“rumit sekali, itu soal ujian? Wajib dijawab ya?”, tanyaku sekenanya.

“jawab dong, harus, coba apa?”,

“quiznya punya bobot berapa poin kak?”, jawabku masih dengan bercanda sembari diam-diam memaksa otakku sendiri mempersiapkan jawaban.

“hmmmmmmmm”

Huh lagi-lagi mengeluarkan jurus pamungkasnya itu, ucapa hhmmm yang selalu kubenci, benci karena aku terlalu tersihir untuk memenuhi apa perintahnya, hmmmmm satu kata ajaibnya yang membuatku takluk dan tak ingin mengelak lagi, membuatku , ah entahlah seperti ada keinginan untuk tidak mengecewakannya, juga tak ingin didiamkannya.

Hmmm, kata-kata yang selalu tak bisa ku elak darinya entah mengapa.

“rumit kak”, jawabku , kemudian hening sejenak

“lebih enak mencintai kali ya kak, lebih menyenangkan Karena ekspresinya benar-benar hidup, menurutku”,

Dia hanya menganguk-angguk dengan tatapan semu kosong dan dahi yang berkerut membentuk beberapa lipatan seperti berfikir keras menelaah sesuatu…

“kenapa kak?”

“hmmmmm”

Huh lagi-lagi kata-kata itu, batinku

“tapi tak ada yang mengenakkan berada didua posisi itu La”, jawabnya sembari berkaca-kaca entah mengapa.  Aku hanya sedang lekat memperhatikan sikap dan tanyanya yang mendadak aneh itu, tak mengerti arahnya kemana.

“Lebih melegakan jika 2nya sama-sama ada kan la?”, Tanyanya meisterius.

“hmmm iya memang benar kak itu yang jauh lebih baik kan ya”, jawabku mengiyakan membeo belum menyadari sesuatu kala itu.

………………………………………………………

Tetiba saja percakapan itu ikut andil menambah kengiluan, namun untuk pertama kalinya setelah hajatnya 3 hari lalu, aku merasa butuh mengisi perut secepatnya.

Aku beranjak dari kursi tempatku menyusun dan merapikan makna serta membungkus kenangannya  lalu berlalu meninggalkan  hazelnut coffe yang jelas sudah dingin namun tetap utuh itu…lagi… .

Kali ini tanpa hati yang tak utuh.

Dariku .. Naila.

 

_”Karena yang mencintai yang paling sakit” (NAILA)_

_”Dicintai juga menyakitkan” (KAK)_

 

_”Mencintai dan dicintai adalah perjalanan rasa menuju arah kasih dari cinta sejati, tak terlepas dari rasa sakitnya, semua adalah tentang proses yang akan dinamai menemukan”

 (Penulisnya Naila dan Kak- Ayu Widiananda)

  • view 100