Kumpulan Opini tentang "Maraknya Kasus Pemerkosaan dan Tindak Asusila"

Ayin Elfarima
Karya Ayin Elfarima Kolaborasi dengan Anis    EMHA N AUTHOR   Reni Fauziah   Kategori Kolaborasi
dipublikasikan 14 Oktober 2016
Kumpulan Opini tentang

Kompleksitas ‘Si Kunam’ di Indonesia
(Lewat Mata Media dan Realita)

Oleh: Shinta Siluet Hitam Putih

VIVA.co.id  – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin mengatakan, penerapan hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual pada anak, dapat diterapkan dalam kondisi sangat khusus.

"Ya kalau memang korbannya sangat banyak maka jalan terakhir hukumannya adalah kebiri maka hal itu layak diberikan," katanya di sela-sela acara Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin, 23 Mei 2016.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  -- Ide hukuman kebiri semakin menyeruak di masyarakat Indonesia. Hal itu karena banyaknya kasus kejahatan seksual yang terjadi.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) Aceng Zakaria mengatakan, hukum kebiri memang bisa saja diterapkan jika memang ada dasar dan pertimbangan yang jelas. Islam memang mengizinkan penerapan hukum tertentu apabila telah mendapatkan kesepakatan dari para ulama yang ada. "Harus ada persetujuan dari para ulama, apa yang menjadi dasar dan pertimbangan," kata Aceng kepada Republika.co.id, Jumat (20/5).

***************************************************************************

Yaa...sekilas saya membaca berita-berita di atas, pertanyaan yang terbesit di benak saya adalah “Apakah memang separah itu moral ‘Si Kunam’ di Indonesia?”.  Ya, Si Kunam beberapa waktu terakhir ini menjadi sorotan tajam rakyat Indonesia. Semenjak kejadian yang menimpa gadis bernama YY yang mengalami penganiayaan dan pemerkosaan oleh beberapa belas Kunam’ers yang diantaranya masih berusia di bawah umur. Kejadian itu berujung dengan kematian YY yang begitu saja. Beberapa tersangkanya sudah ditangkap dan ada beberapa yang masih buron.

Kisah ini menyiratkan kesan tragis bagi para pembacanya, beritanya sudah memenuhi seluruh media di Indonesia, khususnya news portal baik lokal maupun ranah nasional. YY, YY, dan YY yang menghiasi setiap headline di news portal tersebut beberapa waktu terakhir. Sebenarnya dalam tulisan saya kali ini, saya tidak ingin sepenuhnya men-judge siapa yang harus dipersalahkan dan siapa yang harus diperbenarkan dalam peristiwa-peristiwa miris saat ini. Toh, badan hukum di Indonesia dan pemerintah sudah punya porsi sendiri untuk mengusut kasus ini.

Di sini justru saya lebih melihat bagaimana media mengemas berita-berita terkait dengan peristiwa kekerasan dan pemerkosaan yang berujung dengan kematian akhir-akhir ini.

Dua berita di atas berisi tentang argumen-argumen pemuka agama Islam di Indonesia. Bagi saya, bila memang para pemuka agama dan ulama bilang “iyes” tentang hukuman kebiri bagi Kunam’ers, maka secara tidak langsung peristiwa ini memang benar-benar parah. Tapi yang jadi pertanyaan, bagaimana hukum kebiri atau kastrasi menurut Islam dan budaya yang kita anut? Apakah Islam akan menjadi agama yang sedikit banyak menganut paham Islam barbar? Ah entahlah, saya rasa dengan pemberitaan yang sedemikian kontradiktif seperti ini mampu menimbulkan pro dan kontra dari elemen-elemen Islam sendiri.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Liputan6.com, Jakarta - Kasus pemerkosaan hingga berakhir pembunuhan yang dialami oleh siswi SMP Rejong Belong, Bengkulu bernama Yuyun, jadi perhatian khusus Presiden Jokowi. Jokowi pun menginstruksikan jajarannya untuk menangani masalah kejahatan seksual.

"Presiden sudah menginstruksikan kepada Menko PMK, Mensos, Menteri Perempuan dan Perlindungan Anak serta Menkumham untuk segera memperioritaskan penanganan masalah kejahatan seksual," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (9/5/2016).

Dari kasus ini pun, terangkat kembali hukuman maksimal bagi pelaku kejahatan seksual berupa kebiri. Nantinya, payung hukum untuk hukuman tersebut adalah Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perppu).

***************************************************************************

Yang kedua, Presiden rencananya akan menindak tegas kasus ini. Presiden katanya akan menandatangani Perpu tentang hukuman untuk para pelaku tindak asusila. Banyak memang berita di media yang mengangkat berita ini, bagaimana ketegasan Jokowi yang dalam mengambil langkah Radikal dalam Perlindungan Anak. Ini sebuah komitmen yang serius tentunya.

Walaupun memang banyak pihak di luar sana masih skeptis dengan adanya Perppu ini –karena mau tidak mau hukuman kebiri ini masih saja jadi perdebatan antar berbagai pihak di luar sana. Entah itu dari sisi agama, kebudayaan, stigma sosial dan lainnya.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

BERITA 1 :

POJOKSULSEL.com, JAKARTA – Pemerkosaan dan pembunuhan sadis terhadap Eno Parinah (19) mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan. Sebagai bentuk keprihatian dan dukungan kepada Eno Parinah, netizen membuat Fanpage Facebook ‘1jt doa untuk alm.eno farihah agar tersangka d hukum sesuai perbuatannya.’

...Selain itu, fanpage yang dikelola oleh Raditya Maulana (admin) juga memposting sebuah puisi untuk Eno Parinah. Puisi tersebut dibuat sendiri oleh Raditya Maulana pada Jumat malam (20/5/2016).

Hingga kini, puisi berjudul “Jeritan hati dr surga,,??” itu sudah disukai 368 orang dan dibagikan 34 kali.

Berikut puisi untuk mengenang Eno Parinah berjudul ‘Jeritan Hari dari Syurga’ yang ditulis Raditya Maulana.

 

“Jeritan Hati dr Surga,,??”

 

Mlm ini adlh mlm dmna azalku mnjmput..

Yah. . Tpat’y d jam 23:30 tdak sdkitpun ada firasat, klo prtmuan itu akan mnjdi mlm trakhirku..

Dunia yg dlu aku knal bgtu indah, kni brbah mnjdi sbuah neraka, krna kkjaman k’3 laki2 yg brhati iblis..

Dengan secara Tiba2 slah Satu dr k’3 iblis itu menarik tangan kuu dengan kasar, dn dari belakang, seorang yang lain menyergap. Membekap mulutku menghalangi suara teriakanku yg hampir kehabisan nafas.

**************************************************************************

Masuk ke inti.

Pada berita ini, media dengan cantik membingkai suatu peristiwa yang berentet, menyusul berita-berita lain di belakangnya. Banyak berita mengenai dukungan rakyat terhadap kasus Eno. Tangisan yang diumbar, kalimat belasungkawa terekam dan terucap, hingga mereka dengan rela meluangkan waktu untuk membuat sebuah puisi dengan diksi-diksi manis nan haru di setiap baitnya. Memang begitu media, hal yang justru dianggap tidak penting akan menjadi penting karena sorotannya bertubi-tubi.

Bukan berarti menurut saya peristiwa bela sungkawa ini tidak penting. Penting, namun terlalu lebay menurut porsinya. Kalau dalam Islam ada istilahnya ber-tabayyun, yang sebenarnya memang proses dalam dunia jurnalistik juga. Tabayyun artinya meng-kroscek kebenaran. Nah dalam berita ini, sosok korban ‘dikemas’ dalam sosok wanita yang kalem, sementara ketiga pelaku sosok bengis si Iblis. Hingga akhirnya berujung dengan jeritan dari ‘surga’, yang kini tak terdengar di telinga manusia. Apakah memang seperti itu?? Wallahu A'lam Bishawab.

****************************************************************************

Berita 2 :

FAJAR.CO.ID, BANTEN – Kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Eno Parinah (19) masih menjadi perbincangan banyak orang. Tak sedikit yang ingin tahu bagimana kisah pertemuan pelaku dengan Eno Parinah hingga terjadi pembunuhan sadis itu.

...saat RA masuk ke kamar Eno, dia menyaksikan gadis cantik itu hanya mengenakan celana pendek dan baju seksi. Karena sudah melakukan komunikasi mesra sebelumnya, RA pun langsung memeluk dan mencium mesra Eno Parinah.

Eno Parihah dan RA terlibat ciuman panas. Bahkan, tangan RA sudah blusukan ke bagian intim Eno Parinah. Tiba-tiba, Eno Parinah langsung menutup celananya dan menolak berhubungan badan karena takut hamil.

Penolakan Eno Parihah membuat RA sakit hati. Pasalnya, nafsu birahinya sudah sampai di ubun-ubun.

**************************************************************************

Pada berita yang kedua ini, media seakan kontradiktif dengan peristiwa Eno. Pemberitaan ini menjadikan  Eno sebagai objek pemberitaan. Sosoknya dikemas sebagai seorang wanita yang nakal, suka bawa masuk laki-laki bukan muhrim, dan suka berpakaian seksi. Dari sini bisa kita lihat, media lagi-lagi berusaha menggeser mind opinion pembaca, bahwa Eno itu yang salah, salah siapa pakai baju seksi? Salah siapa nakal? Saya siapa ciuman?

Saya tidak bermaksud menjudge, namun dalam dalam teori ada namanya Analisis Wacana, dimana perempuan itu selalu jadi objek berita, lemah, dan wajib jadi sorotan para pria. Ya, seperti berita ini.

Jadi begini benang merahnya, melirik kasus "Maraknya Kasus Pemerkosaan dan Tindak Asusila", saya rasa media justru ibarat ‘racun pertama’ atas tergesernya mind opinion pembaca. Nah pergeseran ini bikin masyarakat itu gamang, siapa yang harus dipersalahkan dari kasus ini? Siapa yang harusnya jadi dalang utama? Padahal dalangnya ya media itu sendiri. Alangkah baiknya bila media bisa lebih ber-tabayyun juga terhadap berita yang akan ditulisnya sehingga masyarakat yang masih awam tidak hanya menyalahkan satu pihak saja.

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan narasumber berita saya. Beliau adalah ketua Pemberdayaan Perempuan, di salah satu kecamatan di kabupaten di tempat saya merantau sekarang. Beliau mengatakan bahwa memang banyak sekali kasus tindak asusila di desanya, yang akhirnya berujung pernikahan dini. Data yang ada menunjukkan bahwa dari 100 pasangan muda yang sudah menikah, 70 pasangan sudah memutuskan bercerai. Apa alasannya? Sudah Bosan berumah tangga! Mirisnya, dari angka tersebut, 70% menikah karena “kecelakaan” di usia dini.

Saya sempat tercenung, kata beliau, dari 10 pasangan calon pengantin yang sedang ‘diospek’ (atau istilahnya ‘pembekalan’) beberapa hari menjelang hari pernikahan, ada 7 pasangan yang mengakui sudah pernah melakukan hubungan badan dengan pasangannya – entah itu pasangan yang mana.

Ada satu kasus lagi, seorang siswi SMP mengaku diperkosa, setelah diinterogasi, si Adek ngaku, “Saya waktu itu ijin pulang ke rumah sebentar, mau ambil barang yang tertinggal, tapi saya mampir rumah cowok saya, cuma 15 menit buat ‘begituan’...” Kalau dilogika, sudah separah itu ‘pergaulan’ di desa –itu desa pelosok, bagaimana dengan yang kota?? Segampang itu? Senekat itu? Seolah memang namanya kehormatan bisa saja diberikan dengan sebegitu mudahnya.

Terlepas siapa yang harus disalahkan bila ada kasus tindakan asusila yang sedang merajai kolom-kolom headline di news portal. Alangkah baiknya bila kita membaca berita yang berisi kasus asusila, tindak pelecehan, dan lainnya yang bersifat tabu, baiknya kita ber-tabayyun dulu. Jangan lihat siapa yang harus disalahkan, tapi liat kronologi real peristiwa tersebut. Alangkah baiknya jangan men-judge sepenuhnya terhadap para Kunam’ers, dan tidak juga men-judge korban yang digosipkan ‘binal’.

Kita sudah seharusnya jadi pembaca berita yang smart, sudah seharusnya jadi pembaca, pendengar, dan penikmat berita yang memang beritanya benar-benar menyajikan fakta.

Untuk para pelaku media, ada baiknya kalian ber-tabayyun dulu sebelum membuat berita, apalagi berita tindak asusila seperti ini --demi kebaikan mind opinion khalayak juga.

Bila memang para pembaca atau Inspirator bertanya, jadi apa solusinya agar tindakan asusila ini berkurang intensitasnya? Maaf, bukan kapasitas saya memberikan solusi. Karena, memang kapasitas saya melihat dari sisi media saja, sisi Jurnalistiknya juga.

Analogi :

  • Kunam berasal dari bahasa Malang (Bila dibalik yang sama dengan, ‘Manuk’)
  • Manuk berasal dari bahasa Jawa (yang artinya yaitu ‘Burung’)

*Saya memilih kata ‘Burung’ sebagai kiasan saja, anggap saja sebagai pengganti kata alat kelamin para pelaku pemerkosaan dan pembunuhan.  Saya berharap agar mengurangi risiko pergeseran makna bagi pembaca tulisan saya yang absurd ini dan tidak menganggap saya seorang wanita yang suka hal-hal tabu. Hehe. Terkesan sarkasme memang, tapi ya beginilah tulisan saya dengan otak tumpul saya.

***Maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan dan cenderung kasar, beginilah saya...ngomong asal njeplak lambe (baca: mulut)

 

*****

 

Apa yang Lebih “Enak” daripada Miras?

Oleh: Anis Ekowati

Pada kesempatan kali ini, saya tidak ingin beropini panjang ala peneliti atau mereka yang memang ahli  di bidangnya. Anggaplah saya sebagai mahasiswi yang masih awam, yang jika ditanya pendapat tentang kian maraknya tindakan asusila, akan memberikan pandangan yang ‘gitu-gitu aja’.

Kita pasti miris melihat pemberitaan adik kita Yuyun dan Eno –yang pastinya selalu ada nama-nama lain yang menjadi korban. Dalam hati terbesit ‘Kok tega sih yang ngelakuin. Hukum aja seberat-beratnya. Kebiri aja. Hukum mati sekalian biar sepadan!’

Yap, saya bisa memahami tentang masyarakat yang langsung merespon demikian. Apalagi jika dikaitkan dengan hukum. Bukan hanya hukum positif, tapi juga agama. Kita semua sepakat bahwa tindakan amoral para pelaku wajib diadili dengan ‘seadil-adilnya’.

Namun saya tidak akan membahas tentang hukum dan peradilan.

Saya tertarik pada bahasan tentang apa yang menyebabkan mereka melakukan demikian. Jika dalam pemberitaan kita mengetahui bahwa pelaku berada di bawah pengaruh minuman keras, ada hal lain (lagi) yang perlu kita perhatikan. Pertanyaannya adalah: Mengapa mereka minum-minuman keras? Abaikan sejenak tentang budaya setempat atau aspek agama. Pertanyaan lanjutannya: Tidak adakah yang lebih baik untuk dilakukan dibanding minum-minuman keras?

Ketiadaan ‘pegangan’ barangkali menjadi penyebab tindakan menyimpang, di samping faktor pergaulan dan lingkungan sosial yang bermasalah.

Pegangan tidak hanya berkutat masalah ketaatan pada agama, bisa juga seseorang kehilangan ‘pegangan’ karena merasa stress bin jenuh dengan lingkungannya. Contoh gampangnya begini. Kita paham bahwa modernisasi (apa sih modernisasi?) semakin menimbulkan kompetisi pada setiap individu. Kejenuhan terhadap tuntutan kehidupan membuat sebagian orang melakukan pelampiasan yang mungkin tidak-pada-tempatnya.

Pelampiasan dalam artian positif bisa tentang penyimpangan atau kenakalan remaja. Pernah denger kasus seorang anak SMA yang cemburu lalu membunuh temannya? *lupa namanya siapa* Kasus yang demikian tentu lebih dari sekadar kenakalan remaja.

Ok, skip soal ini.

Berpegang pada nasihat kuno bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, maka kita pasti setuju bahwa tindakan preventif lebih baik dibanding ‘pemulihan’ pasca-kejadian. Mencegah para pelaku agar tidak bertindak sadis bin kejam tentu akan lebih baik dibanding mengadili dan merehabilitasi, juga melakukan terapi bagi korban maupun keluarga korban.

Tindakan preventif apa yang bisa dilakukan?

Karena sekarang sedang musim Sensus Ekonomi, eh, bukan. Ada gagasan yang ingin saya sampaikan yang berhubungan tentang ekonomi –karena salah satu penyebab seseorang stress biasanya bermula karena masalah ekonomi.

Begini, pemerintah sebaiknya menyediakan lebih luas ruang bagi para remaja (atau khususnya ‘kelompok’ para pelaku yang ada dalam bahasan tulisan ini) untuk lebih membuat diri mereka berkarya secara produktif. Entah mau ditampung dalam balai pelatihan atau disediakan ‘wahana’ pekerjaan lainnya. Intinya: mereka bisa sibuk dalam pekerjaan dan tidak stress alias bahagia dalam kegiatannya.

Yup, ini hanya pengalihan ‘fokus’. Jangan biarkan mereka terpancing untuk ‘berfokus’ pada hal-hal yang menyimpang, amoral, atau asusila lainnya.

Ada berapa banyak potensi mereka yang akan berguna dalam dunia perekonomian? Tentu besar. Ledakan penduduk yang mempunyai dua sisi, tentu selalu memberikan harapan bahwa jumlah penduduk yang besar akan mampu menyumbang pada perbaikan hidup, bukan malah membebani. Nah, coba hitung berapa ‘nilai jual’ yang bisa dihasilkan mereka ini?

Atau boleh juga jika kita bandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk ‘mengurusi’ keseluruhan masalah ini. Mulai dari berkas-berkas dan serangkaian proses peradilan, biaya tempat dan pegawai rehabilitasi, atau pengeluaran lain yang perlu dilakukan pasca-kejadian.

Mana yang memberikan ‘keuntungan’ lebih antara memberdayakan dengan memulihkan mereka? Saya akan memilih opsi pertama.

Demikian, gagasan absurd saya :D

 

*****

 

Sex Education for Teenagers

Oleh: Emha N. Author

Selama ini, jika kita berbicara mengenai seks, maka yang terbesit dalam benak sebagian besar orang adalah hubungan seks. Padahal, seks itu artinya jenis kelamin yang membedakan pria dan wanita secara biologis.

Seksualitas menyangkut beberapa hal antara lain dimensi biologis, yaitu berkaitan dengan organ reproduksi, cara merawat kebersihan dan kesehatan; dimensi psikologis, seksualitas berkaitan dengan identitas peran jenis, perasaan terhadap seksualitas dan bagaimana menjalankan fungsinya sebagai makhluk seksual; dimensi sosial, berkaitan dengan bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar manusia serta bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pandangan mengenai seksualitas dan pilihan perilaku seks; dan dimensi kultural, menunjukkan bahwa perilaku seks itu merupakan bagian dari budaya yang ada di masyarakat

  • Tantangan yang dihadapi remaja

Saat ini, kita banyak dibanjiri oleh berbagai informasi yang bisa dengan mudahnya didapat. Baik melalui media cetak, media elektronik ataupun yang terbaru melalui dunia maya atau internet. Informasi-informasi tersebut dapat berupa hal yang positif maupun negatif. Salah satu informasi negatif yang banyak menjadi perhatian adalah informasi mengenai konten-konten dewasa, yang dapat diakses oleh semua orang dengan mudah terutama melalui internet.

Dikhawatirkan dengan banyaknya arus informasi tanpa batasan tersebut dapat merubah persepsi remaja mengenai seks dan seksualitas. Keluarga dan sekolah merupakan tempat yang tepat bagi remaja untuk mendapatkan informasi yang benar mengenai pendidikan seks, karena biasanya remaja mengambil contoh dari prilaku orang tua dan orang dewasa lain di sekitarnya.

Memang sampai saat ini banyak orang yang masih merasa tabu untuk membicarakan masalah seks tersebut dengan sesama orang dewasa apalagi dengan anak-anak. Tetapi yang harus disadari adalah, biasanya remaja akan mencari panutan dari orang tua, jadi apabila orang tua hanya diam saja tanpa memberikan informasi yang tepat mengenai seksualitas, maka remaja dapat memperoleh informasi yang salah dan menjerumuskan mereka dalam bahaya.

  • Pendidikan seks untuk remaja

Banyak orang tua dan orang dewasa lain, masih merasa tabu untuk membicarakan masalah seks dan seksualitas dengan anak-anaknya. Sebagian lebih memilih untuk tetap diam dan berasumsi bahwa anak-anak mereka akan memperoleh informasi yang mereka butuhkan lewat sekolah ataupun media. Sebagian lagi ada yang mempercayai bahwa membicarakan masalah seks dengan anak-anaknya akan sama saja dengan mendorong mereka untuk mencoba melakukan hubungan seks. Yang seharusnya para remaja tersebut harus diberitahu mengenai faktor tanggung jawab terhadap tubuh mereka serta masalah kesehatan yang mungkin terjadi.

Topik mengenai masalah seks sebenarnya mulai dapat dibicarakan sejak dini apabila dilakukan secara terbuka, akan tetapi tidak ada kata terlambat apabila itu belum dilakukan. Buku dapat dijadikan alat penolong untuk membicarakan masalah tersebut, apabila orang tua masih merasa canggung untuk membicarakan masalah seks. Pendidikan seks untuk remaja sebaiknya juga mengangkat masalah mengenai gambaran biologi mengenai seks dan organ reproduksi, masalah hubungan, seksualitas, cara melindungi diri serta ancaman penyakit menular seksual.

  • Kenapa pendidikan seks penting untuk remaja

Para remaja dapat memperoleh informasi mengenai seks dan seksualitas dari berbagai sumber, termasuk dari teman sebaya, lewat media massa baik cetak ataupun eletronik termasuk di dalamnya iklan, buku ataupun situs di internet yang khusus menyediakan informasi tentang seks dan seksualitas. Sebagian informasi tersebut dapat dipercaya, sebagian lainnya mungkin tidak. Jadi pemberian pendidikan seks pada remaja sebenarnya adalah mencari tahu terlebih dahulu apa yang telah mereka ketahui mengenai seks dan seksualitas, menambahkan hal yang kurang serta membenarkan informasi yang ternyata tidak sesuai. Informasi yang salah tersebut seperti misalnya informasi bahwa berhubungan seksual merupakan salah satu pembuktian kasih sayang dan apabila berhubungan seksual cuma sekali saja tidak akan menyebabkan kehamilan atau bahwa penyakit AIDS sudah ada obat penyembuhnya. Tanpa adanya informasi yang tepat, maka akan dapat menjerumuskan kehidupan remaja.

Pendidikan seks sendiri merupakan suatu proses untuk memperoleh informasi dan membentuk sikap serta keyakinan mengenai seks, identitas seksual serta hubungan. Pendidikan seks juga dapat membantu remaja untuk memiliki kemampuan sehingga mereka dapat bertindak sesuai apa yang mereka yakini dengan percaya diri. Hal ini berarti juga dapat membantu mereka untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan seksual, ekploitasi seksual, terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan serta penularan penyakit seksual serta HIV dan AIDS.

  • Peran serta orang tua dan masyarakat

Seperti yang telah disebutkan di atas, para remaja tersebut dapat memperoleh informasi mengenai seks dari berbagai sumber, baik yang dapat dipercaya ataupun yang tidak dipercaya, yang bersifat baik atau bersifat menjerumuskan. Sehingga dengan pemberian informasi mengenai pendidikan seks yang tepat dari orang tua kepada remaja mengenai apa yang terjadi dan apa yang mungkin terjadi dapat membantu remaja untuk lebih berpikir jernih mengenai pilihan hidup mereka.

Pendidikan seks di sekolah juga dapat memberikan peran penting dalam hal peningkatan pengetahuan, tingkah laku dan sikap yang sesuai bagi para remaja. Selain itu peran serta masyarakat secara luas juga diperlukan supaya tercipta iklim pemberian informasi terutama mengenai pendidikan seks yang tepat dan sesuai untuk remaja.

*****

 

 

Thumbnail by  Reni Fauziah


  • Jonri Pangaribuan
    Jonri Pangaribuan
    10 bulan yang lalu.
    okee

  • Dinan 
    Dinan 
    11 bulan yang lalu.
    Thumbnail Mba Reni Fauziah bagus, keren!

    Opininya juga lumayan, dari sisi media, preventif, dan pendidikan seks usia dini.

    Memang susah menggabungkan menjadi 'satu' opini bila ada tiga kepala yang menyumbang ide dengan ciri khas masing-masing.

    Opini bebas sesuai dgn keinginan penulisnya, tapi bukankah ada baiknya bila 'membekas' dikit pada pembaca?
    *mulai ngelantur.

    Salut ...

    • Lihat 3 Respon

  • 31 
    31 
    11 bulan yang lalu.
    Wow..
    Kalian cerdas..sarapannya apa sih..

    • Lihat 12 Respon

  • Anis 
    Anis 
    11 bulan yang lalu.
    Sensus Ekonomi udah selesai akhir Mei lalu