Namaku Riana

Ayin Elfarima
Karya Ayin Elfarima Kolaborasi dengan 31    Anis    Chairunisa Eka    Kategori Kolaborasi
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Namaku Riana

Namaku Riana. Akan kukisahkan tentang hidupku yang gelap padamu. 10 tahun yang lalu hidup serupa permen loli untukku, manis dan berwarna pelangi.

Semua orang menyayangiku, gemas padaku. Mereka bilang wajahku lucu, cantik dan menggemaskan. Aku bidadari untuk papa dan mama.

Namaku Riana, aku gadis kecil kesayangan papa.

---

Selamat ulang tahun kami ucapkan…

Tiup lilinnya… tiup lilinnya sekarang juga.

Lagu riang itu masih terngiang di telingaku. Tepuk tangan riuh, wajah-wajah yang tersenyum. Bahagianya hari itu. Kau tahu, aku meniup api lilin yang menyala itu seketika, padam hanya sekali hembusan. Mama bilang, aku boleh mengucapkan satu keinginan sebelum meniup lilin angka 5 itu. Tapi aku tak meminta apapun. Untuk apa? Aku sudah memiliki semua yang membuat iri gadis kecil seusiaku di mana pun. Jadi aku hanya ingin cahaya lilin itu padam sekali tiup. Permintaan yang bodoh. Kau tahu kenapa? Karena segala hal yang kusebut bahagia ikut padam bersama nyala lilin yang kutiup saat itu.

Aku masih ingat, dia bukan sesiapa, bukan keluargaku.

“Nah, yang ini ya, mas, tolong diganti aja talangnya,” pesan papa kepada Bagong, lelaki yang kerap dipanggil untuk memperbaiki atap-atap rumah yang bocor di daerah kami.

“Oke pak, pokoknya bapak tenang aja. Semua yang bocor-bocor pasti beres,” jawab Bagong dengan santai sambil melirik ke arahku yang berdiri di samping Papa.

Hanya butuh waktu dua hari saja untuk Bagong menyelesaikan pekerjaannya. Papa membayarkan upahnya hari itu, ketika aku baru pulang sekolah. Aku melihat lelaki setengah baya berperut buncit dan lusuh itu menatapku tajam, kemudian pandangannya beralih pada bus sekolah yang baru saja mengantarku pulang. Aku melengos tak memedulikannya, aku tak suka cara menatapnya yang ganjil.

“Halo sayang Papa, sudah pulang ya? Ayo bergegas ganti pakaian, sebentar lagi kita jalan-jalan, ya.” Papa menggendong dan mencium pipiku.

“Iya Riana sayang, kamu kan letih. Lihat, badanmu basah berkeringat gitu, hehehe.” Tiba-tiba Bagong menimpali sembari terkekeh. Lipatan lemak di perutnya berguncang. Aku bergegas masuk mencari mama, aku tak nyaman berada di dekat lelaki itu.

---

“Ma, kapan Papa pulang? Sudah seminggu Papa pergi keluar kota.”

“Iya sayang, mungkin tiga hari lagi Papa sudah pulang dari dinasnya.” Mama mengelus kepalaku lalu memasukkan bekal makanan ke dalam tas sekolahku. Aku bergegas menuju bus sekolah yang sedari tadi menunggu.

Siang itu waktu berlalu sangat cepat. Tahu-tahu saja bunyi bel telah menggema di lorong kelas menandakan jam istirahat, tepat pukul sepuluh. Waktuku bermain ayunan! Penuh semangat aku setengah berlari menuju ke taman, ketika tangan Lily tiba-tiba menahan lariku.

“Riana, temani aku ke toilet dulu, yuk!” Wajah Lily teman sekelasku tampak meringis menahan pipis. Aku berdecak setengah kesal. Terlambat sedikit saja ayunan itu akan dikuasai anak lelaki. Tapi wajah Lily yang mulai memerah membuatku iba. Aku mengangguk mengiyakan dan menariknya agar berjalan lebih cepat ke toilet. Hari itu toilet terlihat sedikit aneh. Lengang dan gelap.

“Ly, cepetan ya…, aku juga mau pipis.”  Mendadak aku jadi  ingin buang air kecil saat itu.

“Tungguin ya Ly,” pesanku padanya sesaat setelah Lily keluar toilet. Lily mengangguk.

“Iya,  kutunggu di situ, ya?” kata Lily lagi sambil menunjuk bangku di bagian luar toilet.

Sesaat, hanya beberapa detik saja dari aku mengunci pintu toilet…

Tiba-tiba seseorang menuruni dinding ruangan toilet di mana aku berada saat itu, entah dari mana datangnya. Sepertinya dia sudah lama berada di plafond toilet. Toilet gelap saat itu, aku tak bisa mengenalinya. Aku berteriak kaget sekeras yang kubisa tapi telapak tangannya yang lebar dan kasar sangat cepat membekapku. Tubuhnya yang besar dan berat mendorong lalu menindihku  ke lantai. Aku meronta membabi-buta. Menggigit lengannya, mencakari wajahnya, kakiku menendang ke sana kemari. Tapi percuma, semua perlawananku seperti tenggelam redam dalam rangkulannya yang kuat.

Dengan cepat dan kasar dia menyumpal mulutku dengan kaus kakiku sendiri. Lamat-lamat kudengar suara Lily memanggilku tapi aku tak bisa menjawab dengan mulut tersumpal.

“Riana, kalau masih lama, aku duluan ya. Nanti aku kembali lagi.”

Suara Lily! Aku memberontak sekali lagi berharap menimbulkan kegaduhan yang akan terdengar oleh Lily. Tapi langkah Lily justru menjauh.

Oh, tidaaak! Lily… Lily, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!

Aku menjerit-jerit dalam hati dan mulai menangis ketakutan.

Mataku mulai terbiasa di kegelapan wajah lelaki itu kini semakin jelas. Bagong!

Apa yang dia lakukan? Mengapa dia memperlakukan aku seperti ini.? Dadaku merasa sesak, dia menekan tubuhku sangat kuat. Sesuatu memasuki tubuhku dengan paksa. Aku merasa ngilu dan nyeri mendesak ke ulu hati, mendera tubuhku. Sakit sekali.

Mama… aku kenapa?

Papa… papa … tolong aku… tolong aku…

Selamat ulang tahun… kami ucapkan.

Selamat panjang umur dan sejahtera.

Tiup lilinnya… Riana!

Kelebatan keriuhan pesta ulang tahun datang dengan cepat berlomba dengan rintihan kesakitanku. Senyum mama, tawa lebar papa semua berputar cepat di kepala. Airmataku menderas tak berhenti sementara monster itu entah melakukan apa. Aku tak ingin melihat, kupejamkan mata rapat-rapat. Tubuhku remuk didera ngilu tiada putusnya. Begitu nyeri. Begitu menyakitkan. Mama…mama… panggilku tak putus disela isak tertahan dari mulutku yang tersumpal.

Entah kapan monster itu pergi meninggalkanku begitu saja. Aku masih memejamkan mata. Aku tak mau membuka mataku. Aku tak ingin melihat apapun!

Sayup-sayup aku mendengar suara langkah mendekati toilet.

“Riana…, kenapa lama sekali, Nak? Kata Lily kamu masih di toilet?” suara ibu guru terdengar memanggil namaku. Aku ingin menyahut, namun sumpalan di mulutku menahan sangat kencang. Perlahan kubuka mataku dan kulihat seberkas cahaya di balik pintu toilet yang setengah terbuka dan bayangan ibu guru yang semakin mendekat.

“Riana! Apa yang terjadi, Nak? Ya Tuhaanku!” Bu Guru menjerit setengah menangis.

Mataku berkedip lemah menatap wajah Bu Guru sebelum akhirnya gelap memerangkapku sekali lagi.

---

Secercah cahaya menyilaukan pandanganku, aku melihat cahaya begitu terang sekarang. Suara begitu riuh di sekitarku, begitu banyak suara tangis. Mama? Sepertinya itu suara tangis Mama yang meronta-ronta sambil memeluk Papa. Kulihat wajah Papa yang memerah padam, tangannya memukul-mukul dinding ruangan ini. Kulihat suasana kamar yang serba putih, dan jarum suntik sudah menempel di punggung tanganku. Aku masih hidup. Ya aku masih hidup, apakah aku bermimpi? Mungkin semuanya adalah mimpi buruk.

“Mama…,”panggilku dengan suara lirih. Tanganku menggapai-gapai dengan lemas. Papa dan Mama kaget mendengar suaraku, mereka bergegas menghampiri.

Aku berusaha mengangkat tubuhku sedikit, Arrggh..sakit sekali rasanya, seperti ada jarum panas yang tengah menusuki bagian bawah tubuhku. Ternyata semua bukan mimpi.

“Pa…Ma…, sakit sekali,” isakku menahan nyeri.

Mama memelukku erat sambil terus menangis. Papa tak sanggup menatapku, dia terus saja memukul-mukul meja di samping  tempat tidurku. Tak lama kemudian kulihat seorang lelaki berseragam polisi datang menjumpai Papa. Mereka berdua bercakap di luar kamar. Samar-samar kulihat siluet papa mengepalkan tinjunya berulangkali.

“Tolong berikan hukuman mati saja pada dia, Pak. Dia sudah memperkosa anak saya. Usianya baru lima tahun!” Suara Papa menggelegar lantang menembus dinding kamar rumah sakit.

Namaku Riana, usiaku 5 tahun saat itu. Kata mereka, aku telah diperkosa.

---

Sejak saat itu, Papa menjadi sosok yang emosional. Papa sering marah-marah pada siapa saja. Baginya semua orang tidak ada yang baik, semua hanya menginginkan untuk memenuhi nafsunya saja. Di mata Papa semua orang adalah musuhnya.

Mama menjadi sangat pendiam, Mama tidak mau keluar rumah. Setiap hari ia duduk mencakung dengan pandangan kosong. Mama tidak mampu menerima semua ini. Aku adalah anak mereka satu-satunya. Aku bahkan tak tahu hidup siapa yang usai. Hidupku atau hidup mama?

Dan Aku?

Hidupku selesai, padam dalam sekali tiup. Seperti lilin ulangtahunku yang ke-5. Kuhabiskan hidupku di sini. Di sebuah ruangan dingin dan sunyi. Dulu sesekali akan ada teman-teman yang datang kesini, tapi mereka hanya tertawa dan pergi. Aku benci anak lelaki, tawa dan mata mereka persis seperti Bagong. Aku benci semua laki-laki kecuali Papa.

Aku masih tak mengerti, mengapa aku harus habiskan waktu di ruangan yang sempit dan asing?

Mungkin karena aku terlalu sering tertawa setiap kali mengingat saat ulangtahunku yang ke- 5, kebahagiaan terakhirku. Nyala lilinku yang terakhir.

Atau mungkin karena aku suka sekali memperlihatkan bekas jahitan di selangkanganku kepada setiap orang yang kujumpai? Aku hanya ingin berbagi kisah pedih itu pada mereka. Aku tak lagi bisa bercerita. Luka itu akan berkisah banyak pada mereka.

Mungkin juga karena aku suka melemparkan batu kepada setiap laki-laki besar lewat di depan rumahku? Aku hanya ingin mengingatkan mereka, apa artinya sakit.

Entahlah…

Namaku Riana, usiaku kini 15 tahun. Kuhabiskan waktu di ruangan sempit dan dingin ini, karena mereka pikir aku gila.

 

 

 

*Writers: 

1. Chairunisa Eka

2. Dinan

3. Ken Aline

4. Vera

 

*Thumbnail by Asmaul Nurul

 

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    11 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Karya yang mewakili kegusaran di tengah maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur. Membaca ini memang pas sekali dengan topik ini, yang sungguh menyedihkan seadng marak terjadi di Indonesia. Riana menggambarkan betapa ia mengalami trauma sepanjang hidupnya, setidaknya hingga ia remaja dalam karya ini.
    Ibu dan ayahnya pun tak kalah menanggung penderitaan.

    Bahasa yang sopan, alur yang pelan sangat sukses menggiring pembaca menikmati alur, menangkap perihnya rasa Riana dan keluarganya. Akhir yang sangat tragis menjadi pamungkas yang wajar. Ada yang bisa bangkit namun ada pula yang mati-matian menjadi ‘gila’, seperti Riana. Salut bagi semua penulis di sini untuk konsep dan eksekusinya yang sungguh apik. Ditunggu kolaborasi berikutnya.

    • Lihat 1 Respon

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    11 bulan yang lalu.
    Merinding baca novel ini ...
    Ceritanya keren, berhasil menyentil emosi, singkat tapi mampu menyampaikan "perasaan Riana" dengan sangat baik ...
    Sukses terus untuk karya-karya selanjutnyaaaa

  • Rafi Wisnu
    Rafi Wisnu
    11 bulan yang lalu.
    Pedih rasanya sbg riana yg harusnya hidup bahagia seperti anak kecil lainnya,tp hidupnya dibuat menderitaaaaaa oleh laki-laki busuk itu!!! Apa ini disebut ketidakadilan takdir??? Ditunggu lanjutannya

    • Lihat 2 Respon

  • Ayin Elfarima
    Ayin Elfarima
    11 bulan yang lalu.
    Mau share tulisan ini ke fb, tapi thumbnail yang muncul malah foto profil saya.
    Udah dicoba berkali-kali masih sama. Mungkin ntar malam atau besok sudah normal kali, ya.

    • Lihat 3 Respon

  • Achmad Yudiar
    Achmad Yudiar
    11 bulan yang lalu.
    ini adalah representasi dari kondisi negeri saat ini. Terimakasih sangat menginspirasi