Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 3 Mei 2016   02:38 WIB
[Fikber KOMPI] Idealisme dan Gadis yang Menunggu

Setahun yang lalu, di bawah langit yang bertabur bintang.

“Selama ini aku dikenal sebagai orang yang idealis. Do you know how it feels like? Untuk akhirnya aku harus menghadapi kenyataan yang perlahan menggerogoti keyakinanku,” ujar Juna pada gadis yang duduk di sampingnya. 

“Let’s just be happy,” balas gadis itu singkat dengan senyum yang selalu membuat Juna luluh.

Juna menatap lekat mata gadis itu. Juna tahu gadisnya itu menyembunyikan sesuatu di balik senyumannya. Dia tak pernah lupa bagaimana gadis mungil itu kerap mengingatkan bahwa terkadang sulit mempertahankan idealisme ketika sudah berhadapan dengan realita.

 “Aku mengagumi sosokmu yang setia pada cara berpikirmu. Itu yang kemudian membuatku menaruh hati padamu. Tapi, Juna, ketika kehidupan ini mulai menggoyahkan kesetiaanmu, idealismemu, aku tak pernah berniat untuk mengambil kembali sepotong hatiku yang telah kau miliki selama ini,” gadis itu menjawab tatapan mata Juna.

***

Gadis berparas manis itu masih duduk di bangku yang sama sejak satu jam lalu. Ia masih sendiri bersama ransel hitam kesayangannya. Memang hanya ransel hitam itu yang selalu setia di sisinya. Sama seperti sore ini ketika ia menunggu Juna untuk kesekian kalinya, di taman ini.

Juna tentu saja tahu bahwa gadisnya selalu mengajaknya berpikir realistis. Tetapi yang Juna tidak sadari adalah gadis itu sendiri tak mampu berpikir logis kala hatinya telah menggumamkan nama Juna. Sama seperti sore ini ketika ia menunggu Juna untuk kesekian kalinya, di taman ini.

Gadis itu tak peduli dengan tatapan penuh rasa iba, heran, dan takut dari orang-orang yang melintas di taman. Karena rasa pedulinya hanya untuk janji Juna yang selalu dipercayainya. Rasa pedulinya hanya untuk janji Juna yang menjelma menjadi harapan-harapan dalam setiap doanya. Gadis itu ingin menjadi alasan kepulangan Juna. Ia ingin membuat Juna menyadari bahwa ada seseorang yang menganggapnya begitu berarti, yang tak ingin bosan menunggunya. Ia tak ingin lelah meski malam telah datang. Ia ingin terus menanti Juna tanpa air mata.

Langit sore itu semakin gelap. Sepertinya hujan akan segera turun. Namun gadis itu tampaknya tak mau beranjak dari tempat duduknya. Bukan hanya karena dia mencintai hujan. Namun hujan selalu membangkitkan kenangan tentang Juna. Lelaki idealis yang tak pernah bisa berhenti ia pikirkan. Hujan mengingatkannya pada kali pertama perjumpaannya dengan Juna di Kampus Nusantara. Seperti penggalan sajak Sapardi Djoko Damono, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”. Maka seperti itulah cinta gadis mungil itu kepada Juna.

***

Juna masih tak berpaling dari kitab dalam genggamannya. Ia masih belum puas. Ia tak ingin menjadi pecundang. Juna terus berkutat dengan dunianya. Ia masih terus bercakap-cakap dengan dirinya sendiri, juga dengan Guru Durna dan Arjuna mengenai keresahan-keresahannya, sehingga ia lupa akan percakapan setahun lalu. Ia lupa akan hal lain di balik derasnya hujan sore itu.



-Fiksi Bersambung, Peserta yang Ketiga, Komunitas Pegiat Fiksi Inspirasi (KOMPI)-

Karya : Ayin Elfarima