Rahasia yang Mungkin Sama (bag. 2)

Ayin Elfarima
Karya Ayin Elfarima Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 April 2016
Rahasia yang Mungkin Sama (bag. 2)

Untuk kisah sebelumnya, baca di sini.

 

Sejak aku mengetahui nama lengkapmu, tak ada yang istimewa tentang kita. Yang ada hanyalah kekagumanku akan sosokmu, sedikit cerita dalam buku harianku, dan puisi-puisiku. Yang tersisa cuma mimpi-mimpiku untuk bisa berbicara lebih banyak denganmu; bukan hanya diskusi mengenai matematika, fisika, kimia, dan mata pelajaran lainnya, yang, ah, bahkan untuk ini pun kita jarang berbicara.

Selanjutnya, waktu dan jarak terus memisahkan kita. Aku hanya bisa menanti kabarmu dari media sosialmu. Bahagia ketika kamu ceria, sedih kala kamu disapa kecewa. Hingga akhirnya aku tahu kamu telah memilih seseorang untuk tempatmu berbagi. Aku tak ingin munafik dengan mengatakan aku baik-baik saja. Bagaimana tidak? Sudah sebelas tahun tujuh belas hari aku menjadi pengagum rahasiamu, namun baru hari itu aku menyadari bahwa aku tak sekadar kagum pada pribadimu yang sederhana. Aku kecewa. Kecewa karena tak sekalipun aku berani muncul dihadapanmu –walau hanya sebagai kawan-- sampai kau telah menentukan pilihan. Kecewa karena mengapa hal itu yang harus menyadarkanku tentang rasa yang istimewa kepadamu.

Sejak saat itu, aku pun makin larut dalam ‘aktivitas’ mengikuti perjalanan hidupmu tanpa ingin kamu tahu. Aku cemburu membaca tulisan-tulisannya tentang kamu. Aku cemburu karena kamu membagi semua tulisan itu di media sosialmu. Aku cemburu melihat kamu mengajaknya ke tempat-tempat yang selalu jadi favoritku. Aku cemburu melihatnya memajang foto-fotomu di media sosial miliknya. Aku cemburu saat kamu mendatanginya ke bandara, mengantar kepulangannya. Aku cemburu saat kamu mengajaknya bertamu ke rumahmu. Aku cemburu.

Kesibukanku kemudian membuatku lupa sejenak tentang kamu dan pilihanmu. Mungkin juga karena kamu tak lagi membagi kisah tentangnya, meskipun hal ini tak benar-benar kusadari hingga akhirnya kita ‘bertemu’.

 

 

*bersambung

 

 

-Mataram, 4 April 2016-