Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen
Curhat Lelaki

Berulang kali kunyatakan isi hatiku bahwa aku sangat mencintaimu, tapi kau tetap tak peduli. Kau abaikan hadirku walau aku tak pernah jauh saat kau butuh. Pada akhirnya ku perlahan menjauh, mencoba memberi jarak agar kau merasa kehilangan aku. Namun tak sepertimu yang tetap biasa saja, aku justru semakin larut dalam gilanya mencintaimu.

Sekian lama berlalu, kau tetap tak mengacuhkanku. Tak peduli meski aku tetap menunggumu di gerbang depan sebelum bel tanda masuk kelas berbunyi, demi bisa menjadi orang pertama yang menyambutmu. Pun aku tak pernah melangkah pulang sebelum aku memastikan bahwa kau telah benar-benar tiba di rumah.

Aku yang mencintaimu. Aku yang selalu menyayangimu. Aku masih di sini berdiri tegar menunggumu menerima uluran tanganku. Bagaimana dengan kamu? Kamu tetap memalingkan muka saat tak sengaja bertatapan denganku. Kamu masih saja mengganti senyum di bibirmu dengan raut wajah tak suka tiap kali aku menyapamu.

Memang usia kita masih terlalu muda untuk bicara tentang cinta. Namun inilah kenyataan yang aku rasa. Hati yang berdebar tiap kali melihatmu, bahagia yang membuncah kala mendengar tawamu, sedih saat menemukanmu duduk sendiri di sudut kelasmu dengan wajah murung.

Setengah semester sudah aku habiskan waktu untuk tetap mengharapkanmu, sementara sikapmu masih saja seperti saat kali pertama aku mengutarakan perasaanku. Aku tak tahu harus dengan cara apa lagi untuk meyakinkanmu bahwa cintaku untukmu nyata, bahwa sayangku untukmu benar ada. Bahkan ketika ku tuliskan tiga huruf namamu di lenganku, kau tetap tak mau tahu. Padahal kau tahu aku tak menulisnya dengan spidol yang aku ambil dari laci meja guru, apalagi dengan bolpoin yang aku beli di koperasi sekolah. Kau tahu bahwa aku menulis namamu dengan tajamnya silet sehingga membuatku demam tinggi dan tak masuk sekolah selama tiga hari.

Kau bilang aku sudah gila. Aku memang gila, tergila-gila padamu, gila karena mencintaimu. Aku tak bisa membayangkan jika suatu saat nanti tak lagi bisa mendengar tawa riangmu dan mengagumi mata indahmu.

Luka di lenganku karena ukiran namamu, akan selalu menjadi pengingatku bahwa betapa aku pernah mencintaimu entah sampai kapan.

?

?

?

-Mataram, 6 April 2016-

?

?

*thumbnail

Karya : Ayin Elfarima