Sulung, Ladang Pahala Kita Di Dunia

Laras Bening Ayuningtias
Karya Laras Bening Ayuningtias Kategori Renungan
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Sulung, Ladang Pahala Kita Di Dunia

Teringat sebuah cerita seorang teman mengenai anak sulungnya yang tantrum. Sikapnya saat tantrum, menjadi egois sehingga memancing emosi Ibu. Hal ini yang akhirnya mendorongku untuk menulis sebagai pengingat bagi diri sendiri.

Ketika seorang wanita baru saja menjadi Ibu, biasanya mereka akan belajar pola asuh untuk anak. Baik menggunakan insting, mencoba-coba pola asuh yang sekiranya cocok bagi Ibu dan anak.

Di bahu anak sulung, kita tempatkan impian pertama kita sebagai ibu. Di punggung anak pertama kita, mereka membawa beban keinginan kita sebagai ibu atau bahkan orangtua. Di tangan mereka, kita titipkan masa depan.

Ketika hadir kehidupan baru dalam bentuk seorang adik, Sulung yang tidak meminta adik, harus belajar berbagi. Mereka, yang terlahir sebagai anak pertama, harus belajar mengenal dan memilah emosi.

Menjadi Ibu memang sebuah kebanggan. Namun, ketika pekerjaan rumah menuntut tenaga Ibu, Cucian yang tidak ada habisnya, seterikaan menggunung dan cucian piring menumpuk, sedang anak-anak yang rewel menghabiskan energi, ketika itulah ladang pahala Ibu terbentang. Sulung yang rewel, egonya keluar dan tidak mau mandi atau maunya makan disuapin bahkan hal paling sederhana seperti tidak menaruh barang pada tempatnya, bisa memancing emosi Ibu.

Tapi ketika emosi datang, ingatlah hal ini. Merekalah yang pertama mengisi rahim kita. Tangan mungil merekalah yang kali pertama menggenggam jemari kita. Senyum pertama yang ditujukan pada kita, tawa berderai yang menghiasi hari-hari pertama kita sebagai ibu. Ingatlah perjuangan mereka menaklukan rasa takut akan kasih yang terbagi. Ingatlah senyum penuh cinta mereka. Mereka bukan egois, hanya perlu latihan untuk berbagi. Mereka bukan cari perhatian, hanya butuh cinta dan pelukan.

Hari ini jangan lupa peluk si sulung ya Bu. Berikan cinta kepada mereka bahkan jika mereka sedang merajuk dan tantrum. Karena sesungguhnya pelukan Ibu lebih mujarab dibanding obat apapun di dunia.

Dan jangan pernah henti mendoakan hal-hal baik untuk anak. Karena sesungguhnya doa Ibu mampu menembus langit.
(Ayas Ayuningtias)

  • view 250