9 Aturan BS yang Seharusnya Dilanggar dalam Menulis Novel Fantasi atau SF

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 08 Maret 2016
9 Aturan BS yang Seharusnya Dilanggar dalam Menulis Novel Fantasi atau SF

Saat ini saya sedang memulai menulis satu novel? fantasi dan satu fiksi ilmiah (scifi, SF). Banyak yang mengatakan menulis fantasi atau SF adalah gampang, karena apa pun bisa terjadi? selama penulis dapat membuatnya tampak masuk akal, dan selama kisahnya menarik. Tapi bukan berarti tidak ada aturan. Meskipun genre fantasi dan SF sangat terbuka, saya menemukan beberapa ?aturan? baik yang tak terucap maupun tertulis hitam di atas putih.

Namun, ada juga yang mengatakan bahwa melanggar aturan adalah salah satunya cara untuk menceritakan kisah yang benar-benar menarik. Berikut adalah 9 aturan SF dan fantasi yang harus dipertimbangkan untuk dilanggar jika memungkinkan. Bukan berarti bahwa dalam menulis kisah fantasi dan SF Anda wajib melanggar aturan-aturan tersebut. Suatu aturan dibuat dengan alasan tertentu (saya cukup ketat menerapkan aturan-aturan dalam menulis puisi yang justru memberikan kebebasan pada penyair, karena mematuhi aturan tersebut merupakan tantangan tersendiri).? Beberapa aturan di bawah ini mewakili hal-hal yang mungkin telah dilakukan berulang-ulang oleh banyak penulis di masa lalu sehingga untuk melakukannya lagi, Anda butuh sudut pandang yang sama sekali baru. Namun juga terlalu banyak aturan dapat membunuh kreativitas, dan kadang-kadang berbuat ?ilegal? memberi kesegaran baru untuk novel Anda.

1.?Tidak boleh ada orang ketiga yang mahatahu.

Bukan sekali dua saya menemukan ?aturan?: Jangan menulis dengan sudut pandang orang ketiga yang tahu segalanya. Pilihlah sudut pandang satu orang tokoh, dan jika perlu menampilkan pikiran tokoh lain, harus dalam set yang berbeda.

Setelah membaca novel-novel karya Jonas Jonasson, Douglas Adams dan Eoin Colfer, saya putuskan saya akan melanggar aturan ini jika perlu.

2. Tidak boleh ada prolog

Entah mengapa aturan ini muncul, karena saya sedikit sekali menemukan novel fantasi atau SF dengan prolog yang buruk (mungkin juga karena saya terlalu pemilih dalam membaca akhir-akhir ini.) Novel fantasi yang sedang saya tulis tanpa prolog, namun saya memutuskan memulai SF saya dengan prolog untuk menjelaskan latar belakang novel. George R.R. Martin memulai setiap judul seri Song of Ice and Fire dengan prolog yang konsisten. Jika prolognya buruk tentu kita takkan menemukan buku tersebut di daftar best seller.

3. Hindari infodump

Dalam menulis prosa sastra ada aturan, "tunjukkan, jangan katakan." Kira-kira sama dengan yang dimaksud dengan infodump dalam fantasi dan SF. Ide yang bagus, tetapi juga bisa mendapatkan Anda ke dalam kesulitan. Terkadang infodump berupa pendukung cerita atau skema teknis dapat membingungkan pembaca yang ogah dengan detail teknis. Tapi di lain waktu, penulis dapat akan kesulitan menyusun percakapan panjang dan teknis, dimana infodump lebih membantu. Saya menemukan teknik menggunakan infodump yang sukses pada novel terakhir Michael Chrigthon ?Next? dan juga novel singkat John Grisham terbaru ?The Tumor?.

4. Novel Fantasi dan SF harus berseri

Saya suka mengikuti seri fantasi atau SF. Sayangnya tidak semua mempunyai akhir yang memuaskan. Sering penulis dengan sengaja membuat penutup yang menggantung karena merencanakan buku lanjutan, dan buku lanjutannya mengecewakan. Trilogi Atlantis Gene A.G Riddle. Atau trilogi (yang dikembangkan menjadi pentalogi) Maze Runner James Dashner. Saya sudah menyelesaikan trilogi utama dan sama sekali tidak tertarik untuk membaca buku prekuelnya saking kecewa.

5. Tidak boleh ada portal

Portal alias pintu-kemana-saja ala Doraemon pernah menjadi andalan di fantasi dan FS. ?Seseorang dari dunia kita menemukan jalan menuju dunia lain, di mana ia menjadi penjelajah dunia asing itu dan kita menikmati melalui kisahnya. Karena sudah begitu banyak kisah tentang portal, maka banyak yang menyarankan untuk jangan lagi menggunakan tema ini.

Tapi menurut saya, masih banyak hal yang bisa digali untuk kisah portal ke dunia lain. Saya menikmati Stargate termasuk Stargate: Universe, dan mengharap akan ada lanjutannya. Oh ya, novel fantasi saya termasuk yang menggunakan portal antar dunia.

6. Tidak boleh ada kecepatan-melebihi-cahaya (faster-than-light, FTL)

Pemahaman kita tentang fisika bahwa tidak ada yang dapat melebihi kecepatan cahaya, menjadikan FTL barang haram dalam SF. Tapi tanpa FTL akan sulit menggambarkan penjelajahan luar angkasa. Untung saya belum berniat menulis novel tentang itu.

7. Sihir hanya?menjadi bagian kecil dari dunia fantasi

Aturan ini telah dilanggar oleh beberapa penulis fantasi dengan sukses. Sebut saja George RR Martin, J.K Rowling atau Trudi Cavanan. Maka saya memutuskan novel fantasi saya menggunakan sihir lumayan banyak.

8. Tidak boleh berkisah dengan present tense

Cukup sering saya menemukan aturan bahwa sangat terlarang untuk menulis kisah yang sedang berlangsung (present tense). Bahkan termasuk salah satu pantangan terbesar. Mungkin membingungkan ketika narator memberitahu Anda tentang hal-hal yang sedang berlangsung. Namun saya telah membaca beberapa novel/novella Star Trek yang dibuka dengan present tense menggunakan teknik penulisan flash back dan siklus yang bagus sekali.

9. Tokoh utama tidak boleh menyebalkan

Memang benar bahwa jika Anda akan menjadikan karakter utama Anda adalah seorang bajingan total, maka Anda akan harus bekerja lebih keras untuk memenangkan pembaca. Tetapi pada saat yang sama, tokoh protagonis?atau semua karakter utama Anda?sebagai orang baik-baik mungkin akan menjadikan kisah Anda terbelenggu. Anda terjebak mencoba untuk membuat karakter yang akan tampak bersimpati kepada semua pembaca Anda, tidak peduli konteks budaya atau sikap yang ingin Anda sampaikan. Tokoh Anda bisa tidak simpatik tapi benar-benar menarik dan memukau. Intinya, simpatik tidak selalu menarik.

?

Bandung, 8 Maret?2016

  • view 325