Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 6 Maret 2016   02:41 WIB
Lelaki Berpayung Amarah

Butir-butir air yang menghunjam deras memerihkan kulit muka jika terkena tak berpengaruh apa-apa pada lelaki yang melangkah tak perduli menyusur trotoar sepi berlubang sana-sini mengantar anak sungai ke dalam pelimbahan, menyeret sisa-sisa tanah dan debu, mengikis tumpukan dosa-dosa di sempadan jalan aspal yang setiap harinya menanggung beban dilindas roda-roda menuju ke sini, ke sana, ke situ, ke mana.

Setiap butir hujan yang mengena rambut, kulit bahkan jaket parasut hitam dan celana jins yang sudah pudar dan sobek di sana-sini saking tuanya, langsung menguap mengepul menjadi kabut putih dan melayang menjauh, pergi berpayah-payah mendaki kelembaban udara, didera akumulasi polusi puluhan tahun, ekstraksi tak sempurna panas dalam karbon fosil jutaan tahun, dan uap mengikat asam tak kunjung basa.

Jangan tatap matanya, lelaki itu. Merah saga laksana api semburan naga yang membakar desa, ladang, istana, menculik putri berambut keemasan dan mengurungnya di ceruk liang gua di gunung tinggi yang hanya dilintas rajawali dan matahari. Jangan tatap matanya, lelaki itu. Yang meski hujan angin menderu kering kerontang hati kelam merana membelasah tulang mengukir nama yang tak disebut dalam kitab akhir zaman, jangan tatap matanya.

Di ujung jalan, di bawah pohon asoka yang menampung pucuk-pucuk rindu, seorang gadis kecil bermata teduh memperhatikan dengan iba. Seruling nada yang meliuk menghampiri gunung dan lembah, menyusup ke jendela-jendela kaca tebal pencakar langit, adalah bisikan lirihnya, empati tak berbatas tidak hanya pada manusia, juga fauna dan tumbuhan ?seluruh isi alam semesta. Gadis kecil yang memandang lelaki itu jauh ke dalam jiwanya.

?Ayah.?

Nada termerdu, kata tersyahdu, mengantar butir-butir hujan menari dan perlahan iapun berhenti. ?Lelaki bertudung emosi membuka pintu dunia tadinya terkunci, menatap gadis kecil yang matanya bintang terang langit pagi, dan terduduk. Lutut yang menonjol dari celana sobek menyentuh keras paving block bergerigi tak dirasakannya luka.

Tataplah mata lelaki itu, tlah sirna murka di api matanya. Merah saga tak lagi, berganti perigi tenang tak bertepi, mata yang telah menatap dunia hitam dan putih pada kanvas pelangi. Jiwa yang membenci dan hati terus mencinta.

Dari pucuk-pucuk daun asoka rindu jatuh berguguran, disambut lelaki dengan tangan membentang. Ia bangkit dan memutar langkah, pulang.

?

Bandung, 6 Februari 2016

Karya : Ikhwanul Halim