10 Cara untuk Tidak Menang dalam Kontes Menulis Puisi

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Motivasi
dipublikasikan 03 Maret 2016
10 Cara untuk Tidak Menang dalam Kontes Menulis Puisi

?

Sebagai penyair, aku baru mulai menulis puisi sejak tahun 1980-an. Tidak pernah mengirimkan satu puisipun ke majalah atau koran. Yang tahu juga sebatas teman-teman. Tersimpan dalam cakram keras pentium dua yang kini tak jelas di mana bangkai rongsokannya.

Begitu era internet dimulai, aku menulis puisi di beberapa jejaring sosial dan blog gratisan yang saat itu baru marak, tapi kini situsnya sudah pada mati semua. Tinggal satu blog yang kuisi hanya saat?tak ada lagi yang perlu kukerjakan. Sampai enam bulan lalu, ketika seorang teman menyeretku ke lingkaran pengarang yang membuatku menulis baik prosa atau puisi seperti kesetanan. Dan entah mengapa, tiba-tiba syair-syairku tercantum dalam tiga buah antologi, satu dengan nama sendiri. Dan lebih tiba-tiba lagi, komunitas pengarang tempat aku muntahkan segala rupa ?coretan? mengadakan kontes penulisan, termasuk pula puisi di dalamnya. Dan yang paling gila, aku menjadi salah satu juri yang bertugas memberi penilaian,?saudara-saudara?sekalian!?

Aku optimis sekaligus pesimis. Optimisme yang berasal dari fakta bahwa begitu banyak orang yang benar-benar peduli tentang puisi sampai rela menulis dan mengirimkannya untuk kami nilai. Pesimisme yang berasal dari fakta bahwa banyak penulis yang tidak membaca atau mencari tahu tentang puisi kontemporer.

Ada banyak cara sederhana untuk menjadi pemenang kontes puisi. Tapi menurutku, yang paling penting untuk diketahui peserta adalah ?bagaimana caranya agar tidak memenangkan kontes menulis puisi?.

  1. Cobalah untuk mengisolasi diri dengan mengurung diri dalam kamar, jangan biarkan manusia lain masuk atau keluar. Jangan membaca puisi-puisi kontemporer karena kamu tidak ingin dipengaruhi.
  2. Sekali ditulis, jangan pernah direvisi. Jangan minta pendapat orang. Jangan terima kritik atau saran. Peduli amat, itu puisimu.
  3. Jangan baca dengan bersuara untuk tahu bagus atau tidak jika dibacakan dengan suara keras. Kalau nanti didengar tetangga, bagaimana?
  4. Abaikan majas segala rupa??rasa puisi? tak perlu citra atau metafora.
  5. Judul cukup satu kata.?Puisi Chairil Anwar hanya ?Aku?. "Kematian" atau "Cinta" sudah cukup.
  6. Muatan? Apa itu? Puisi harus telanjang!
  7. Abaikan aturan yang ditetapkan. Ah, mengapa juga harus dibatasi sekian baris. Mengapa kontes membatasi hanya puisi berima kalau yang kamu suka puisi bebas? Puisi favorit kamu, suka-suka! Tulisan tanganku indah. Apa salah menulis dengan spidol di kertas bergaris? Font gothic ukuran 6 pt itu indah, silakan juri menggunakan kaca pembesar atau mikroskop kalau ingin tahu keindahan puisimu?.
  8. Mengapa tak boleh SARA? Pornografi itu seni! Kata-kata kasar dan makian itu ekspresi diri! Ini negara bebas, bung!
  9. Jangan lupa tulis catatan untuk juri mengapa puisimu harus menang.
  10. Yang terakhir, jangan pernah ikut kontes.

?

Selamat! Kamu pasti tak menang!

?

Bandung, 3 Maret 2016