Mimpi Buruk

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Puisi
dipublikasikan 02 Maret 2016
Mimpi Buruk

Sebagai awal, apakah kau memberi tanda dengan simbol satu atau nol?

Sebuah pertanyaan yang bagus, tapi tak penting.
Karena tak memberi takwil arti mimpi serammu tadi malam dan malam-malam sebelumnya.
Tujuh sapi kerempeng bukan berarti tujuh tahun paceklik hama wabah kekeringan kelaparan bencana banjir sebagaimana mimpi Firaun yang ditafsirkan demikian oleh Yusuf, karena mimpimu hanya mimpi buruk, bunga telek ayam tidurmu.

Ada saatnya kau berpura-pura menyusun algoritma menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi?pseudovariabel, karena jika tahun kemarin minus sepuluh dan sekarang dari dua tahun lalu minus tiga kau sebut sebagai keberhasilan plus tujuh. Toh, mimpi burukmu menjadi sebelas sapi kerempeng ditambah sekolam bangkai berudu mati.

Diagram-diagram serupa kue bulan Imlek kemarin dicincang kau paparkan penuh warna-warni serupa gambar tempel bocah lucu riang gendut menggemaskan pengidap obesitas akibat konsumsi makanan sampah segera-saji, di ruang kelas anak usia dini dahulu garasi menyisakan penguk karbonmonoksida, bukan sianida. Nice, kata bu guru yang dipanggil Aunty Shanty. Clap your hands.

Mimpi terburukpun datang berbentuk jatuh tempo bunga hutang yang menggunung dari teluk tenang, magma meledak dari perut ibu Zeus menerjang jembatan, jalur kereta peluru dan danau buatan, menekuk jalan bebas hambatan. Hutan yang tinggal sedikit membara, hujan salah musim, kemarau terlalu panjang. Palmface.

Sebagai akhir, apakah kau tutup dengan lambaian sayonara atau berjongkok malu di pinggir selokan?

?

Bandung, 2 Maret 2016

  • view 109