Bahkan Penyairpun Punya Aturan

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 24 Februari 2016
Bahkan Penyairpun Punya Aturan

Penyair dan Aturan

Pendapat umum, seniman terutama penyair memiliki kebebasan seluas-luasnya, yang dikenal dengan hak licentia poetica. Pendapat yang tak sepenuhnya salah, namun juga tak benar sama sekali.

Dalam menulis puisi, penyair tetap terikat pada beberapa kaidah penulisan tata bahasa; misalnya perbedaan penggunaan imbuhan, kata depan atau kata sambung. Bahkan, ketika seorang penyair memberi label suatu genre pada puisinya juga tidak bisa secara sembarangan, karena setiap genre mempunyai aturan tertentu. Meskipun bisa saja Anda memberi judul ?Ode untuk Ayam Jagoku?, jika tidak berkaitan dengan syair memuji kepahlawanan si ayam jago, maka Anda akan dianggap penyair ngaco belo, ngasal, bahkan mungkin dikritik dengan pedas level 10 oleh penyair-penyair yang mumpuni di bidang per-ode-an.

Sangat penting untuk memahami aturan genre puisi yang akan Anda tulis, kecuali Anda bersedia dikritik secara sadis oleh penyair lain, atau jika Anda tidak punya malu (seperti saya, mungkin).

Genre-genre dalam puisi umumnya mempunyai aturan mulai dari yang sederhana, kelihatannya sederhana padahal rumit, banyak aturan ternyata sederhana saja, sampai yang betul-betul rumit bikin jidat berkerut perut mulas susah buang angin kepala pusing rambut ketombean.

Untuk contoh saja, saya akan membahas sesingkat mungkin dua genre puisi pendek sepanjang yang saya tahu.

?

Haiku

Ketika seseorang menyebut puisinya sebagai haiku, maka para haikus (seniman haiku) secara otomatis akan menghitung jumlah baris dan suku-kata puisi tersebut, apakah berpola 5-7-5? Jika tidak, maka akan langsung ditolak sebagai haiku. Meskipun Matsuo Basho sendiri pernah menciptakan haiku dengan 18 "on" atau morae (unit bunyi). Sastrawan Barat menerapkan suku-kata?sebagai pengganti morae, namun saat ini timbul gerakan untuk memurnikan haiku dan mulai menggunakan?'unit bunyi' dalam menuliskan haiku mereka. Namun masih?banyak juga haikus (terutama haikus Indonesia) yang menolak penerapan 'unit bunyi' dalam menciptakan haiku. Misalnya, secepat apapun lidah Anda mengucap 'samudra' (tiga suku kata), tetap saja akan terdengar sebagai 'samudera' (empat unit bunyi).

Intinya: Tiga baris dan 17 suku-kata adalah prasyarat puisi Anda dapat disebut sebagai haiku.?

Setelah lolos dari pemeriksaan pola 5-7-5, maka tahap selanjutnya adalah inspeksi terhadap adanya 'kireji' dan 'kigo. Kireji adalah 'kata pemotong' atau penulis lebih suka menyebutnya 'titik balik'. Secara sederhana saja, baris atau lirik yang mengandung kireji seakan-akan puisi yang terpisah. Kigo adalah penanda musim (dan terkadang sekaligus penanda tempat).

Tanpa kireji atau kigo, puisi 5-7-5 bukanlah haiku atau hokku (haiku klasik), tapi mungkin renku (puisi komik) atau senryu (puisi tentang manusia). Atau hanya puisi 5-7-5 suku kata.

?

Sebetulnya masih ada beberapa 'aturan' lagi tentang haiku, misalnya tidak boleh menggunakan majas atau emosi. Namun beberapa haikus Indonesia setahu saya cukup longgar dalam hal ini.

?

Sonian

Contoh genre puisi baru yang sederhana namun mempunyai aturan yang cukup ketat adalah Sonian yang diciptakan oleh kang Soni Farid Maulana. Berikut adalah definisi ?sonian? menurut penciptanya:

SONIAN adalah puisi sepanjang empat baris yang dikreasikan dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik.Dengan menggunakan JUDUL.Dan diperkenankan membuat Sonian ber bait-bait dengan mencantumkan nomer pada setiap baitnya.

Semakin bawah seorang penyair menulis sonian, maka semakin sulit, karena kata-kata yang dibutuhkan semakin sedikit jumlahnya. Hal ini dimaksudkan, agar puisi yang ditulis dalam bentuk ini tidak pecah,melainkan kian fokus pada pengalaman batin macam apa yang ingin diekpresikan. Jika diibaratkan mata panah yang terbalik, maka jelas sudah, bahwa kian bawah kian runcing adanya. Walau demikian, meski nyaris sama pendeknya dengan haiku, sonian bukan haiku yang ditulis dengan pola 5-7-5 suku kata perlariknya, yang dikreasi oleh penyair epang kenamaan pada zamannya, B?sho.

Lebih lanjut, sonian bukan jenis puisi yang meluap-luap mengumbar emosi. Sonian adalah puisi yang menahan dan mengelola emosi dalam bentukan ungkapan yang ringkas,yang ingin menjangkau makna seluas mungkin. Dalam daya ungkap yang ditulis para penyairnya, sonian bisa imajis dan bahkan simbolis. Hal itu sangat bergantung kepada kemampuan para penyairnya dalam menulis puisi.

Perwujudan pengalaman batin dalam menulis sonian menuntut para penyairnya peka terhadap setiap makna kata yang hendak dituliskan, sehingga apa yang ingin diungkap terwujud dengan jelas. Dengan demikian jelas bahwa imajinasi, simbol, dan metafor sebagai kendaraan utama dalam menulis puisi, dalam hal ini, menulis sonian sangat dibutuhkan. Apa sebab? Karena yang disebut semua itu merupakan mekanisme psikis, dalam melihat, melukis, membayangkan, atau memvisualkan sesuatu dalam struktur kesadaran yang menghasilkan sebuah citra (image) pada otak.

Ditulisnya puisi dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik dimaksudkan antara lain untuk meninggikan harkat dan derajat manusia, dan malah bukan merendahkannya dengan mengangkat tema porno,cawokah dan cabul. Sonian bisa diisi dengan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai agama yang dianut oleh para penyairnya, nilai-nilai budaya setempat,renungan terhadap alam, dan sebagainya, yang tidak bertentangan dengan hukum mana pun yang berlaku di muka bumi. Sonian sangat berpihak kepada etika, moral, nilai-nilai kemanusiaan, dan nilai-nilai religious, termasuk persoalan-persoalan hokum di dalamnya. Paling tidak, demikian dasar-dasar penulisan sonian dituliskan. (Soni Farid Maulana)

Sebagai tambahan, sonian boleh dibuat berbait-bait, asal setiap bait diberi nomor/angka. (-pen)

Tetapi, ada hal yang tak disebutkan dalam perihal sonian di atas, bahwa sonian berbahasa Indonesia menuntut penggunaan kata-kata baku yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jikapun menggunakan bahasa asing, maka dituntut adanya catatan kaki yang menjelaskan makna kata-kata asing tersebut (suatu hal yang tak wajib dalam puisi umumnya.)

Aturan penggunaan kata-kata baku yang mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia menutup penggunaan kata-kata non-morfologis, sesuatu yang sangat umum terjadi dalam puisi sebagai hak penyair ber-poetica licentia.

?

Penutup

Poetica licentia memang memberi kebebasan kepada penyair. namun kebabasan itu tak boleh digunakan semena-mena.?Bentuk puisi yang (katanya) paling longgar aturannya adalah prosa liris. Seloroh para pakar puisi, prosa liris didefinisikan sebagai puisi tanpa baris. Sederhana, kan? Tapi tetap saja untuk dapat disebut sebagai prosa liris harus ada ?rasa? sebagai sebuah puisi, yaitu ?puitis?. ?Kalau tidak, akan sulit mendapat pengakuan sebagai puisi.

Tujuan saya menulis ini adalah untuk menyampaikan bahwa?ada aturan baku yang tidak bisa diabaikan. Jika aturan itu dilanggar maka akan ada konsekuensi bagi para pihak (pelaku). Anda menulis sebuah puisi dengan pola 5-7-5 ?tanpa kireji dan kigo, jangan coba-coba menyebut puisi Anda sebagai haiku. Atau jika Anda mencintai sesama jenis jangan menuntut untuk menikah secara agama yang (masih) Anda anut, karena setahu saya yang namanya syarat menikah itu dalam agama manapun harus beda jenis kelamin. Tidak ada ?jalan pedang? atau ?jeruk makan jeruk?. Tidak ada perkecualian. Bahkan sepanjang pengetahuan saya, tidak hanya?agama saja yang mensyaratkan pernikahan species manusia harus beda kelamin, ideologi yang tidak mengakui agamapun demikian pula adanya.

Mengapa mengharapkan menikah secara agama untuk cinta sejenis? Sungguh, Anda tidak butuh segala tetek bengek upacara menikah sama sekali.

?

  • view 286

  • Den Bhaghoese
    Den Bhaghoese
    1 tahun yang lalu.
    Terima kasih Pak Halim. Tulisan yang sangat bermanfaat dan mencerahkan untuk dijadikan perenungan sambil menikmati kopi pagi. Salam Takzim.

  • Den Bhaghoese
    Den Bhaghoese
    1 tahun yang lalu.
    Masalah tata bahasa awalnya juga menjadi momok bagi saya pribadi karena (mungkin) karena saya hanya berpaku pada proses kreatif tanpa memperhatikan kaidah penulisan tata bahasa dan dan dalam proses kreatif saya kadang suka bereksperimen dalam setiap judul yang saya garap. Dan saya tak berani menyebut hasil tulisan berpaham atau beraliran 'tanda kutip' untuk memberi ruang gerak saya agar tetap luwes berkarya.

  • Den Bhaghoese
    Den Bhaghoese
    1 tahun yang lalu.
    Sarapan pagi yang bervitamin. Saya dulu sering meyakinkan diri sendiri kalau yang saya tulis bukanlah puisi, melainkan hanya sebuah catatan harian pendek yang diberi judul. Alasannya saya merasa apa yang saya tuliskan belum pantas disebut sebagai puisi, karena : 1. Saya mulai menyukai puisi karena faktor terkagum-kagum dengan melihat karya-karya puisi sastrawan dalam kreatifitasnya mengolah kata. 2. Saya jadi terinspirasi menulis puisi (saya lebih suka menyebutnya sebagai catatan harian pendek) karena mulai menikmati 'kepuasan tersendiri' ketika satu puisi berhasil dilahirkan dan diberi judul.