Mendadak Romantis

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 September 2016
Mendadak Romantis

Warna langit bulan September cenderung abu-abu kelabu, lebih dari 50 Shades of Grey. Mukidi duduk termangu di beranda rumah hanya berkain sarung dan singlet warna putih tua kedaluwarsa, karena keseringan dicuci dengan air PDAM yang keruh.

Bunyi dari gawai Android lapis legit buatan Shengzhen yang dijebol akarnya hanya dilirik untuk dicuekin dengan pelepasan bunyi mendesah gelisah:

"Aaaaah."

Sekali lagi gawainya berbunyi, tanda pengguna aplikasi ojek online sedang mencari tumpangan. Begitu melihat nama pemesan, Mukidi langsung menekan tombol terima, dan saking kuatnya, layar sentuh gawai malang itu nyaris bolong.

Ia buru-buru masuk kamar untuk memakai kemeja merek Errou garis-garis yang baru dibeli saat sale 50% di departement store menyambut hari kemerdekaan republik. Tak lupa menyemprotkan parfum ke sekujur tubuh termasuk telapak kakinya yang kapalan. Pomade tebal yang bisa digunakan untuk menggoreng telor ceplok karena sangat mirip margarin menidurkan rambut ijuknya yang tadi tegak layaknya tiang gantungan perkutut manggung.

Hatinya berbunga-bunga kembang setaman. Bibirnya menyiulkan lagu "Endaiwil olweis lopyu". Romantisnya ngalah-ngalahin kuntilanak merayu tukang sate. Tak lupa ia melipat mantel ponco dua lubang kepala, siapa tahu nanti akan hujan.

Tak lama, motor matik yang masih kurang cicilan 12 kali itu sudah berada di depan rumah Gina Markonah, pelanggan ojek online yang memang orderannya ditunggu-tunggu Mukidi.

"Siang, bang," sapa Gina langsung menempelkan bempernya di jok motor.

"Siang, mbak. Ke stasiun?"

"Iya, bang... Aye mau balik ke Jawa. Kangen anak sama laki aye."

Prang!

Hati Mukidi hancur berkeping-keping. Rasanya ingin ia berteriak:

"Makdikipeeeeee!"

Tapi rasanya kok tidak elit. Tidak profesional.

Akhirnya Mukidi hanya bisa menatap langit bulan September yang berwarna abu-abu kelabu namun gagal menghadirkan hujan. Sia-sia saja mantel dua kepalanya.

Ia menghibur hatinya yang pedih dengan ucapan dalam hati:

Masih ada Cita Citania yang biasa order ojek jam empat sore nanti.

  • view 396