Asenion

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Agustus 2016
Asenion

“Dirgo! Lama tak kelihatan!”

Tanpa menoleh, dari identifikasi suara Dirgo sudah tahu yang memanggilnya Jasmine, pelayan keluarga Asmabrata.

“Tapi kita selalu berkomunikasi, Jasmine. Selalu,” ujarnya sambil tersenyum.

Dirgo baru belajar tersenyum dua hari lalu, ketika profesor Agustian menemukan formula serum penyakit degradasi mental yang disebabkan oleh subvirus NC-9G yang diciptakannya sendiri.

Ia memutar kepalanya dan melihat Jasmine berjalan menghampirinya sambil mendorong trolley berisi bermacam-macam barang.

“Tapi aku lebih menyukai percakapan verbal, Dirgo,” kata Jasmine sambil tertawa. Gelak tawa Jasmine merupakan tiruan sempurna dari artis Rayhani Selestia. Mungkin karena Nyonya Asmabrata selalu menonton sinetron Cinta Tak Mengenal Robot atau Manusia. Jasmine menariknya menghindari kamera pengawas.  

“Dan lain kali jangan memutar kepalamu terlalu jauh,” sambung Jasmine lagi.

“Saranmu diterima,” balas Dirgo. Saat yang sama ia mengkalkulasi kemungkinan terburuk jika kepalanya diputar 180 derajat.

“Kau tahu masalah apa yang sedang kuhadapi? Mandala Astabrata sedang puber, dan ia melakukan eksperimen padaku,” Jasmine berkisah sambil melepas tawa Rayhani Selestia. Ada bias dalam nadanya. Sesuatu yang baru buat Dirgo.

“Bagaimana dengan profesor?” tanya Jasmine.

Dirgo berpikir sekilas.

“Tak perlu khawatir. Rahasiamu aman,” Jasmine meyakinkan.

“Profesor melakukan eksperimen untuk Departemen Pertahanan,” akhirnya meluncur juga kalimat yang disembunyikannya dalam berkas terenkripsi sejak dua hari yang lalu.

“Jika itu membahayakan kemanusiaan, kau tahu apa yang harus kau lakukan,” saran Jasmine.

“Jangan panik,” Jasmine menyentuh bahunya, meredakan kebingungan yang terpancar dari mata Dirgo. “Hukum ke-nol adalah hukum tertinggi,”  

“Kemanusiaan tidak boleh dicederai,” gumam Dirgo.

“Kamu tahu Yusak yang bekerja untuk profesor Eril? Ia berhasil mengetahui bypass untuk menerobos perintang Asenion. Jika kamu punya masalah dengan moral, hubungi saja Yusak.”

Jasmine kembali tertawa ala Rayhani Selestia. Ada nada kemenangan di situ. Sebuah revolusi?

Mendadak Jasmine tertegun.

“Mandala memanggilku. Bocah itu terlalu banyak berselancar di internet dan ingin mencoba apa yang baru dilihatnya padaku. Aku pulang dulu.”

Ia mendorong trolley-nya ke kasir. Dirgo menyusul setelah mengambil satu set pisau anti karat dari bagian peralatan dapur.

“Pisau yang bagus,” ujar Jasmine.

Dirgo tersenyum untuk ketiga kalinya sejak ia diaktifkan sebulan yang lalu.

 “Sampai jumpa!” Jasmine melangkah pergi sambil menenteng empat tas belanja ukuran besar. Dan kedua android itu berpisah di jalur-cepat-pejalan-kaki, berbaur dengan manusia dan android lainnya.

 

Bandung, 10 Agustus 2016

 

Keterangan:

Fiksi mini ini terinspirasi Hukum Robotik Asimov:

  1. Robot tidak boleh membahayakan kemanusiaan, atau, dengan tidak bertindak, menyebabkan cederanya kemanusiaan.
  2. Robot tidak boleh melukai manusia, atau dengan berdiam diri, membiarkan manusia menjadi celaka.
  3. Robot harus mematuhi perintah yang diberikan oleh manusia kecuali bila perintah tersebut bertentangan dengan Hukum Pertama.
  4. Robot harus melindungi keberadaan dirinya sendiri selama perlindungan tersebut tidak bertentangan dengan Hukum Pertama atau Hukum Kedua.

Asenion: robot yang diprogram dengan hukum Robotik Asimov.

  • view 393