Makna Pulang

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Puisi
dipublikasikan 13 Juli 2016
Makna Pulang

Setiap kembali dari pengembaraan ke titik nol tempat terlahir, aku merasa bagaikan gajah reot yang berjalan sendirian terseok-seok menuju gua kuburan para tetua untuk melepas nafas terakhir, berkalang sunyi menunggu penghakiman palu takdir.

Membawa luka-luka kering mengoreng dari setiap pertempuran yang ditarung dengan pedang tanpa sarung, tombak gagangnya patah buntung, perisai rompal berlubang hitam tanda berkabung, di garis kalah menang rugi untung.

Tak selalu kelana ziarah jauh mencari makna tersembunyi, kerap hanya mengantar aksara mati sebagai awal pembuka puisi pamflet orasi penohok tirani demokrasi, kibarkan panji-panji klandestin seterang hati nurani.

Menyusur sungai penghanyut nyanyi rindu hingga muara raya biduk berlabuh, seberangi samudra lepas ke negeri jauh bersemayam puing-puing masa lalu yang lama pudar punah runtuh, punguti serpihan cinta yang luluh jatuh.

O, penyair kelana kembara
saatnya jiwa pulang ke hariba-Nya
entah suara siapa
membetot sukma

Maka kembali dan selalu kembali pada tujuan titik nadir bersimbah ketuban terlahir, meski pada setiap mimpi yang hadir, hakikatku sebagai debu semesta terpanggil berserak di setiap kuadran alam raya tak bertepi, musafir tanpa akhir.

 

Jakarta, 12 Juli 2016

  

  • view 410