Aku, Kafka dan Lotka

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Juli 2016
Aku, Kafka dan Lotka

Sehabis tarawih, aku berniat untuk ngopi di kedai yang terletak di simpang empat tugu RW. Sebuah truk menghambat jalan, gagal melewati palang portal yang lebih rendah dari atap truk. Beberapa motor dan mobil ikut terhalang sehingga simpang empat menjadi semacet jalur Pantura saat mudik H-5 menjelang Lebaran.

Terpaksa aku memutar lewat jalan belakang, mencoba menyalip sepeda motor anak-anak tanggung yang melemparkan petasan. Mereka menyalakan petasan dengan nyala api dari rokok. Aku teringat akan anak yang mengadu kepada bapaknya yang tentara karena dicubit oleh guru. Sang guru diadukan oleh bapak anak itu ke polisi. Si anak kemudian ditolak masuk ke sekolah lanjutan. Kabar terakhir yang kubaca terjadi kesepakatan damai

Ternyata kedai kopi penuh dengan para pengojek. Tak ada bangku kosong sama sekali. Aku berpindah ke kedai susu murni di sebelahnya. Lama aku tak minum susu. Hanya ada penjualnya dan seorang laki-laki yang duduk sendiri. Aku belum pernah melihat laki-laki tersebut. Aku juga belum kenal penjual susu, karena baru kali ini aku masuk ke kedainya.

Aku duduk di samping lelaki itu, memesan segelas susu tanpa gula tanpa perasa apa-apa, karena aku suka susu yang murni.

Lelaki di sebelahku menoleh, lalu berkata:

“Sudah 300 tulisan kau di Kompasiana.” Logatnya mengingatkanku pada si Ucok, temanku di Jambi dulu yang kini menjadi pegawai negeri di Muara Bulian. Aku mengira ia berbicara dengan penjual susu, tapi tatapan matanya tertuju padaku.

“Betul, bang,” jawabku. “Maaf, di mana kita pernah jumpa?”

Aku berbicara dengan meniru logat si Ucok, kawanku yang kini menjadi pegawai negeri di Muara Bulian. Karena aku tak punya pendirian, aku selalu meniru cara bicara lawan bicaraku. Acapkali aku mengeong kepada kucing, atau balas menggonggongi anjing.

“Kau yang sering jumpa aku. Aku Kafka, Franz Kafka,” ujarnya mirip gaya Sean Connery menyebut ‘My name is Bond. James Bond’. Padahal tampangnya lebih mirip bang Dosman, seorang dosen di Makasar. Bukannya bang Dosman tak ganteng, hanya saja jika memerankan James Bond spion Inggris yang baru bercerai dengan Uni Eropa, maka akan menjadi film yang gagal sebelum tayang di bioskop.

“Kafka yang penulis?” tanyaku tak percaya.

“Iya lah. Kau pikir Kafka penjual batagor?” balasnya sedikit emosi.

“Mengapa abang Kafka kemari?” tanyaku lugu. Aku memang begini, lugu.

“Tadi awak tanya ke mbak yang jaga di pom bensin, di mana kau tinggal. Si mbak balik nanya: ‘Ngapain?’ Terus dia pergi ke toilet.”

Dari perkataannya, aku jadi yakin kalau memang yang sedang berbicara denganku adalah Kafka.

“Ngapain abang cari aku?”

“Karena awak kasihan sama kau. Kau terus menulis melawan hukum.”

Aku bingung. Sejak kapan menulis merupakan kejahatan?

“Hukum yang mana yang aku langgar, bang?”

 “Hukum Lotka,” jawabnya setelah meneguk susu yang meninggalkan bekas putih di atas bibir yang mulus tak berkumis.

“Apa? Hukum apa pula itu?” tanyaku tak percaya.

“Hukum Lotka mengenai infometrik, berdasarkan Alfred J. Lotka: frekuensi publikasi oleh penulis dalam bidang tertentu; menyatakan bahwa jumlah penulis membuat kontribusi dalam suatu periode tertentu, di mana jumlah penulis menerbitkan sejumlah artikel adalah rasio tetap untuk jumlah penulis menerbitkan satu artikel. Jika jumlah artikel yang dipublikasikan meningkat, maka penulis yang menghasilkan banyak artikel menjadi berkurang.”

Aku mengangguk-angguk seakan-akan faham apa yang dikatakannya. Untuk mengakui bahwa aku tak mengerti aku masih malu.

“Terus salahku di mana, bang?”

“Salah kau banyak! Pernah kau menulis hal yang sedang menjadi trending topic, misalnya politik, kopi sianida atau sepak bola? Tidak, kan? Menurut Lotka, untuk sebuah tema yang ditulis oleh orang banyak, maka seharusnya semua penulis ikut membahasnya juga!” bentaknya.

“Kau menulis tema dan genrenya selalu berganti-ganti. Kadang kau menulis sketsa. Kadang kau menulis misteri, kadang fiksi ilmiah. Pernah juga kau menulis tentang teknologi, lingkungan dan ekonomi. Tapi tak pernah kau menulis tentang Ahok ataupun Messi!

Kau juga menulis puisi. Puisipun asal lantak saja kau bikin. Yang sonnet, lah. Yang sijo, lah. Yang blues, lah. Yang keroncong, lah. Tak punya ciri khasnya kau ini!” ia nyerocos layaknya Eminem ngerapNot Afraid’. Mati kita!

“Aku kan tak faham tentang politik atau sepakbola, bang!”

“Memangnya kau mengerti rekayasa genetika? Emisi karbon? Brexit? Offshore banking?”

“Lha, karya-karya abang sendiri bikin pening kepala awak. Payah kali dimengerti. Absurd, bang. Absurd!” aku melakukan serangan balik. Enak saja dia menjelek-jelekkanku. Memang tulisanku tak bagus-bagus amat, tapi janganlah terus-terusan dicaci-maki. Botak kepalaku memikirkan apa yang hendak kutulis, kini enak saja dia ngomong bahwa aku tak punya ciri khas. Memang betul aku tak punya ciri khusus dalam menulis, tapi janganlah diinjak sampai penyet!

“Macam mana pula kau ini? Ciri khasku memang absurd! Sudah kubilang bahwa bacaan yang layak dibaca adalah yang membuat kita merasa ditikam.” bantahnya.

Aku terdiam sejenak. Berpikir.

“Iya pula. Betulnya abang ini.”

“Kau pikir kenapa aku suruh si Max Brod membakar Amerika, Das Schloss dan Der Process?”

“Kenapa, bang?”

“Karena aku absurd.

Dan oleh sebab itu aku mencari kau,” jawabnya. Ia menatapku serius.

“Kau sibuk menulis, sampai kau lupakan hal yang lebih penting daripada membuat tulisan,” ucapnya sungguh-sungguh.

“Aku lupa apa, bang?”

“Kau lupa untuk menyanyi dan menari dalam hujan,” jawabnya.

“Apa?” aku terbatuk-batuk karena tersedak susu. Bisa kalian bayangkan jika saat itu nyawaku putus, maka epitaphku akan berbunyi: mati karena tersedak susu murni.

“Kau lupa untuk menyanyi dan menari bersama hujan,” ia mengulangi perkataanya.

 Aku terdiam. Dia diam. Penjual susu ikut berdiam.

Alam semesta mulai menurunkan rinai gerimis. Terdengar lagu Hujan di Malam Minggu, dinyanyikan oleh Freddy Mercury. Bukan..., bukan Freddy Mercury, tapi Freddy Tamaela.

Kafka menoleh padaku.

“Tunggu apa lagi?” katanya sambil melangkah ke luar. Di jalan gerimis beralih rupa menjadi tarian hujan.***

 

Bandung, 3 Juli 2016

*Didedikasikan untuk Franz Kafka (3 Juli 1883 - 3 Juni 1924)

 

  • view 211