Lebaran Ini Aku Tak Mudik

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Juli 2016
Lebaran Ini Aku Tak Mudik

Sudah tiga jam lewat tengah malam. Aku melangkah menuju kedai nasi padang di simpang untuk sahur terakhir tahun ini. Angin mati. Dingin udara tak terlalu, hingga tanganku tak perlu dihangatkan dalam saku.

Jalanan sepi, karena sudah banyak yang mudik. Rumah-rumah di kiri-kanan jalan yang kulalui banyak yang tak berpenghuni, yang mungkin saat ini sedang kelelahan mengantre di jalan menuju kampung halaman yang macet berkilo-kilo meter panjangnya.

Gardu jaga di persimpangan juga tak ada orang. Biasanya selalu ada dua-tiga satpam atau warga yang insomnia berkumpul di situ. Papan catur tergeletak di meja peronda dengan beberapa bidak di atasnya. Aku tak terlalu memperhatikan apakah susunannya menunjukkan permainan telah slesai atau sebuah partai tunda.

Kedai nasi Padang itu hanya satu-satunya yang masih buka di hari terakhir ramadan. Hanya ada pasangan muda yang membeli untuk dibawa pulang. Aku memesan nasi rames dengan paha ayam goreng. Sebetulnya tak terlalu berselera, namun kupaksa juga mengunyah suap demi suap. Akhirnya suapan terakhir berhasil kutelan, meski harus dibantu dengan seteguk air hangat.

Kutinggalkan kedai nasi dengan perut kekenyangan  menuju rumah melalui rute yang sama seperti saat berangkat tadi. Seorang satpam duduk di gardu jaga. Aku lupa namanya. Mungkin Asep. Ada empat orang bernama Asep di lingkunganku, dua di antaranya petugas keamanan wilayah kami.

Suluk salam kuucapkan yang dibalasnya dengan semangat empat lima.

Teu mudik, kang?” ia bertanya.

“Tidak, kang,” jawabku terus melangkah. Perutku begah. Aku ingin segera tiba di rumah. 

Tapi pertanyaannya terus bergema di kepalaku. Teu mudik, kang... kang... ang....

***

“Lu enggak mudik?” tanya temanku lima hari yang lalu.

Aku ragu untuk menjawab

“Kenapa? Enggak punya duit?”

Aku tertawa sumbang.  

Kalo lu enggak punya duit, biar gue pesenin tiket.” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengutak-atik gawainya, memeriksa situs daring pemesanan tiket pesawat.

“Ini ada Citylink Bandung – Banda Aceh, satu juta tujuh ratus. Lu mau berangkat hari apa?”

Nyaris dua kali lipat harga normal. 

Aku tahu dia serius. Aku tahu dia tulus. Andaikata setiap budi baik adalah tetesan air, maka aku sudah tenggelam dalam kebaikannya. Padahal budi baik tak bisa ditakar sebagai volume.

“Enggak usah.”

“Kenapa? Mudik, dong!” katanya seakan-akan sebuah perintah.

“Orangtuaku rencananya mau ke sini,” jawabku. Aku tak bohong, hanya saja belum ada tanggal pasti kapan mereka akan datang.

Kalo gitu gue berangkat. Selamat Hari Raya. Mohon maaf lahir dan batin,” katanya menyalamiku. Ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkanku untuk berkumpul dengan keluarganya di Garut.

Aku menunggu hingga mobilnya menghilang dari pandangan.

Sekarang aku sendiri. Aku mendongak menatap langit. Bintang-bintang bertaburan. Kucoba meneruskan pandanganku sebagai netron teramat dingin yang melampaui kerlip gemintang, menembus membran-membran dimensi ruang, berharap menemukan rumah tempatku berpulang.  

 

Bandung, 6 Juli 2016

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437H

Mohon maaf lahir dan batin.