Kereta Terakhir

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Juli 2016
Kereta Terakhir

Segerombolan muda-mudi tidur beralas koran di sudut ruang tunggu stasiun, mahasiswa-mahasiswi yang hendak mudik. Gaya tidur mereka beragam: ada yang matanya tertutup rapat mulutnya terbuka, ada yang matanya setengah terbuka mulutnya setengah tertutup. Ada yang gelisah, tangannya menggapai mengelus-elus dinding, ada yang tenang tidur mengangkang, tak peduli kakinya menghalangi lalu lintas orang lain.

Satu keluarga suami istri dan dua orang anak tidur berhimpitan di bangku, mirip kue lapis dari ketan yang tiap lapisannya berbeda warna. Seluruh lantai stasiun penuh dengan para pemudik yang bergelimpangan kelelahan. Mereka sudah menunggu berjam-jam lamanya. Seorang anak memeluk bantal kecil tertidur di balik kios majalah.

Satu bangku panjang dikuasai seorang lelaki gondrong bertato. Tak ada yang berani mengusiknya, meski suara dengkurnya mengalahkan suara pengeras suara yang mengumumkan kereta akan masuk dari arah barat.

Semua tersentak dan menggeliat bangun. Manusia-manusia yang tadinya tergeletak di lantai  stasiun bergerak dalam koreografi flashmob. Jika saja ada yang merekam dengan kamera video dan mengunggahnya ke youtube dan memberi latar musik lagu dansa alih-alih suara pengumuman yang terus menerus diulang, mungkin video tersebut akan menjadi viral oleh jutaan pengunjung.

Hanya sedikit penumpang turun, namun terhalang oleh barikade para penumpang yang hendak berangkat, yang memagar betis, saling dorong mendorong berdesak-desakan meski dari pengeras suara diminta agar kepada yang hendak naik memberi jalan bagi yang mau turun. Tak lupa mengingatkan agar berhati-hati terhadap copet, dan barang bawaan jangan sampai ada yang tertinggal. Petugas kewalahan.

Dari pengeras suara diumumkan bahwa kereta akan segera berangkat.  

Setengah jam kemudian, stasiun sepi. Mendadak terdengar tangis anak kecil, sendirian, muncul dari balik kios majalah.  

 

Bandung, 3 Juli 2016

  • view 165