Bos Mau Datang

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juli 2016
Bos Mau Datang

Wahyu keluar dari ruangannya. Tampangnya panik, yang ditandai dengan kedua tangannya yang menarik-narik rambutnya yang sudah tipis dan setengah botak.

"Bos sedang menuju kemari. Kalian dengar? Bos sedang dalam perjalanan menuju ke sini."

Ia mondar-mandir melalui lorong labirin bilik. Kemeja putih yang dipakainya terlihat kusut seperti lupa disetrika. Sebagai manajer cabang PT Bintang Sebelas, ia memiliki alasan untuk khawatir. Produktivitas turun. Keuntungan turun. Hanya semangat Wahyu yang tetap tinggi. Sayangnya tak ada yang peduli dengan hal itu. Ia dianggap tak lebih sebagai tukang stempel oleh bawahannya.

"Yang bener! Serius? Bos datang?" tanya Dodi.

"Ya, saya serius. Menurutmu saya tak serius?" Wahyu balik bertanya.

Dodi mengamati wajah Wahyu. Roman muka itu selalu begitu: lelah, cenderung tertekan. Perlu ke konsultasi ke psikiater.

"SAYA SERIUS!" teriak Wahyu dan tanpa sadar menarik segumpal rambut dari kulit kepalanya sendiri.

Dodi memutar kursinya dan segera mengetik di laptop untuk log out dari facebook. Kemudian menghapus tautan-tautan profil teman, youtube, situs dewasa, situs game online dan berkas-berkas yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan dari riwayat perambah. Peraturan perusahaan menyatakan karyawan ketahuan menggunakan peralatan kantor untuk penggunaan pribadi akan dipecat.

Reni meletakkan gagang telepon. Dari percakapannya yang berlangsung selama 58 menit, jelas bukan menyangkut pekerjaan, karena terselip kata-kata ‘buaya darat’, ‘mata keranjang’ dan ‘rayuan gombal’.

“Wahyu, serius deh! Memang bos mau kemari?” tanya Reni sambil merapikan stocking-nya yang melorot. Mata Wahyu melotot, karena gerakan merapikan stocking itu dilakukan dengan gerak lambat.

Dodi ikut melotot, sementara tangannya meraba-raba mencari gelas berisi kopi di atas meja. Gelas itu tersenggol dan terguling di atas laptop. Isinya tumpah, meresap melalui sela-sela papan ketik. Layar LCD langsung padam.

"Bos bilang dalam waktu satu jam lagi akan sampai ke sini. Jadi, tolong kalian semua harus terlihat sibuk," jawab Wahyu sambil menggeledah lemari arsip mencari sesuatu. Hanya Tuhan yang tahu apa yang dicarinya.

Dodi berusaha mencabut kabel laptop dari stop kontak dalam upaya menyelamatkan barang inventaris kantor itu. Karena terburu-buru, malah kabel laptop tersangkut ujung sepatu dan menarik laptop sial itu hingga jatuh berdebam di karpet. Layar monitor terlepas dari engselnya sebelah.

"Hei, ngapain panik? Bos datang ke sini kan bukan untuk mengumumkan PHK," ucap Reni sambil memoles lipstik ke bibirnya.

Sebuah kepala nongol dari balik salah satu bilik.

"Apakah kamu tahu sesuatu yang kami tidak tahu?"

Yang bertanya adalah seorang karyawan magang. Tak ada yang ingat siapa namanya. Anak magang yang baru lulus dari salah satu perguruan tinggi terbaik, namun tak punya koneksi di pemerintahan hingga akhirnya mendarat di kantor cabang PT Bintang Sebelas.

Pertanyaan anak magang itu membuat semua mata tertuju ke arah Reni.

Semua karyawan di situ punya dugaan mengapa hanya dalam dua bulan Reni dari seorang resepsionis dipromosikan menjadi Wakil Manajer.

"Aku tidak tahu apa-apa," katanya.

"Kalian harus tanya Wahyu. Dialah yang paling mengerti tentang bos. Apakah kamu tahu sesuatu yang kami tidak tahu, Wahyu?"

Taktik lempar batu Reni dilanjutkannya dengan pura-pura menelpon dan berbicara ‘order’, ‘delivery’, ‘down payment’, ‘kontrak’. Tak sengaja jarinya yang mengetuk-ngetuk badan telepon menekan tombol pengeras suara. Terdengar nada sibuk.

Wahyu buru-buru masuk ke ruangannya, menutup pintu.

"Bos orangnya seperti apa?" tanya anak magang. Lulusan salah satu perguruan tinggi ternama itu berwajah lugu. Berkacamata bingkai plastik. Sepatunya disemir mengkilap. Orangnya mudah bergaul. Pintar. Namun jika terjadi PHK, mungkin namanya berada di urutan pertama.

Reni menaruh gagang telpon, lalu mengambil pena dari meja dan menggigit-gigit ujungnya.

"Lelaki jantan. Berani mengambil risiko. Itulah yang membuat dia sukses. Kamu takkan dapat menjalankan sebuah perusahaan tanpa bersedia melakukan apapun untuk memuaskan pelanggan, selama itu tidak ada ikatan apa-apa."

Kata-katanya lebih mirip cerita di situs dewasa, pikir Dodi.

"Apakah bos benar-benar ada?" tanya anak magang.

"Apakah perusahaan ini benar-benar ada?"

Wahyu keluar dari ruangannya. Dodi mengangkat laptop yang hancur dari lantai karpet dan meletakkannya di meja. Reni menggigit ujung pena.

"Tentu saja!" jawab mereka.

Anak magang itu semakin tak yakin.

Berusaha sewibawa mungkin, Wisnu memerintahkan semua orang untuk kembali bekerja.

"Tunjukkan kemampuan kalian. Banyak hal yang harus dikerjakan sebelum bos datang."

Hal apa yang harus dikerjakan tidak ada yang tahu. Termasuk Wahyu.

Semua kembali ke posisi masing-masing.

Wahyu meremas-remas kertas yang tadi diambilnya dari lemari arsip dan kemudian melemparkannya ke dalam tempat sampah. Dodi mengetik pada tombol papan ketik laptop yang tak menyala dan layarnya nyaris lepas. Reni berbicara dengan seseorang di telepon tentang ‘vasektomi’. Anak magang mengopi berkas-berkas yang tidak akan dibaca siapapun.

Hari ini semua orang bekerja.

 

Bandung, 2 Juli 2016

  • view 188