Hari Berbuka

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Puisi
dipublikasikan 01 Juli 2016
Hari Berbuka

setiap kaum mempunyai hari raya,
sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita 

waktu lekas berlalu,
ramadan tertinggal di belakang
meski belum tuntas kaji Al-Qur’an,
shalat malam belumlah purna 

melaksanakan shiyam hanya sekadar
konon pula ibadah-ibadah lainnya
air mata mengalir menganak sungai,
sedih bergemuruh menyesak kalbu 

akankah ramadan depan masih bertamu
bersua malam seribu bulan?
para salafuna shalih dahulu,
air mata meleleh membasahi pipi

lantaran ramadan belum pasti kembali
dari lisan terucap doa, ungkapan kerinduan
akan kesedihan terus berlarut
sementara ajal tak tentu tiba 

Tuhan kami,
anugerahkanlah kepada kami ramadan,
anugerahkanlah kepada kami ramadan,
dan ramadan, dan bulan ramadan… 

berlarut hingga datang hening
malam yang fitri kian bening
meratapi ‘tamu istimewa’
sembab matanya, terlantar rindu 

hari raya umat segera tiba,
haruskan bersedih menangis perih
dianjurkan kita bergembira
pada hari raya nan fitri 

semoga Allah menjadikan kita
hamba-hamba-Nya kembali kepada fitrah
pemenang perang melawan nafsu
diterima seluruh amal ibadah 

kembali suci pada hari berbuka
setelah ditempa ibadah sebulan penuh
mendapatkan ampunan dan maghfirah
ungkapan syukur haram berpuasa 

setiap kaum mempunyai hari raya,
sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita 

qiyamul lail, malam hari raya
 kumandangkan takbir suka cita
 hati tidak akan pernah mati
 di hari bekunya rasa manusia

sepagi hari sejuk mandi,
sebelum beranjak beramai-ramai
minyak wangi berpakaian rapi
semua pergi, tiada kata halangan 

keraskan takbir kaum muslimin,
bertakbir mengagungkan asma Tuhan
berdoa panjatkan 'tuk umat muslim,
berharap berkah dan kesucian 

datanglah berduyun-duyun, mushalla lapang
 terkecuali rahmatnya turun berbentuk hujan
 saat matahari setinggi dua panah
 sunnah dilaksanakan waktu diakhirkan

pergi pulang, bedakan jalan
saling bermaaf-maafan seraya mendoakan
tak dilarang syair berdendang
telah memberikan ni`mat berlimpahan 

janganlah makan hingga kenyang terlalu
karena tak elok yang berlebih-lebihan,
demikian juga hal berpakaian berdandan
sehingga aurat lupa dijagakan 

berjabat tangan hanya yang mahram,
waktu shalat jangan diulur
tertawa bercanda jaga kesopanan,
pengeluaran harus diatur 

kita sebagai hamba-Nya
kembali kepada fitrah
setelah melawan hawa nafsu
semoga diterima seluruh amal ibadah 

setiap kaum mempunyai hari raya,
sesungguhnya hari ini adalah hari raya kita 

 

Bandung, 30 Juni 2016