Sax

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Tokoh
dipublikasikan 29 Juni 2016
Sax

1894

Lelaki tua berusia 80 tahun itu terbaring lemah di ranjangnya dalam sebuah apartemen kumuh di Paris.

“Kita tak bisa membiarkannya seperti ini,” bisik Emmanuel Chabrier kepada dua temannya yang ikut datang menjenguk.

Jules Massenet yang sedikit lebih muda dari Chabrier mengangguk setuju.

“Aku akan mengajukan petisi kepada Menteri. Sungguh memalukan jika seorang seniman besar yang telah berjasa kepada Perancis dilupakan begitu saja,” ujar Camille Saint-Saëns, yang tertua di antara mereka, namun tetap lebih muda dari lelaki yang terbaring sakit.

Mes amis,” tiba-tiba lelaki tua itu berkata.

“Meski aku sakit begini, telingaku masih tajam. Tak perlu kalian mengganggu sang Menteri. Kehadiran kalian saja sudah sangat berarti bagiku.”

***

1820

“Papa, masih adakah yang harus kulubangi lagi?” tanya bocah berusia 6 tahun kepada ayahnya, setelah mencoba flute yang barus saja dibolonginya itu. Flute itu masih belum dipernis, tapi Adolphe kecil telah melubanginya dengan presisi. Bengkel musik Charles Sax di Dinant, Belgia termasyhur sampai ke mana-mana.

Charles mengelus kepala rambut ikal putranya.

“Beristirahatlah, nak. Cukup untuk hari ini,” senyumnya. Adolphe anak ajaib, pikirnya. Sulit membayangkan setelah berbagai kemalangan yang nyaris merenggut nyawa, anaknya malah mampu melebihinya keahliannya dalam membuat alat musik seperti flute, klarinet, horn dan berbagai alat musik tiup lainnya.

“Bengkel ini nanti kau juga yang mewarisinya,” kata Charles sambil tertawa.

“Suatu hari kita akan menciptakan sebuah alat musik yang mengeluarkan suara begitu indah dan memakai nama kita, Papa,” ucap Adolphe kecil yakin. Charles tertawa.

“Tentu, nak. Tentu.”

Adolphe anak ajaib, pikirnya.

***

1841

“Bagaimana jika kita pindah ke Paris, Papa?” tanya Adolphe. Meski dua tahun lalu, ia telah mendapat paten untuk bass clarinet ciptaannya, Adolphe tak pernah merasa bahagia.

“Mengapa, nak?”

“Paris lebih menghargai kita, para seniman, Papa.”

Charles membayangkan kegetiran Adolphe saat alat ciptaanya ditolak seorang peniup klarinet. Belum lagi tak pernah satupun karyanya memenangkan kompetisi.

Mereka pindah ke Paris.

Pada tanggal 28 Juni 1846 Adolphe menerima hak paten untuk alat musik cipataannya yang bernama saxophone.

*** 

1894

“Maafkan kami, pak tua,” Emmanuel Chabrier berbisik dihadapan sebuah makam yang masih baru. Di sisinya Jules Massenet menangis tanpa suara. Camille Saint-Saëns hanya berdiri terpekur. Mungkin ia membayangkan kelak ia akan berakhir seperti Adolphe: tua, miskin dan terlupakan.

Vive la France,” ia mendesis lirih.

Angin musim dingin bahkan berhenti di Cimetière de Montmartre, turut larut dalam keduka citaan yang sunyi. Seorang maestro telah pergi, menuju auditorium di mana sebuah orkestra windwood dan brass keabadian menanti kedatangannya.

***

Sekarang

Jika anda ke Belgia, jangan lupa untuk mengunjungi The House of Mr Sax di kota Dinant. Sebuah museum yang berbeda dari museum lainya. Anda akan mengenal tempat kelahiran musisi multi-talenta, Adolphe Sax yang terlahir sebagai Antoine-Joseph pada tanggal 6 November 1814, pencipta saxophone, alat musik modern paling terkenal. Jangan mengaku sebagai penikmat musik sejati jika Anda belum berkunjung kemari!

 

Bandung, 29 Juni 2016

Didedikaskan untuk Adolphe Sax (6 November 1814 - 7 Februari 1894), pencipta saxophone

 

Keterangan:

  • Mes amis (fr.): sahabat-sahabatku
  • Vive la France (fr.): Hidup Perancis.