ATM

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Juni 2016
ATM

Lewat tengah malam. Langit mendung. Sesekali listrik yang turun dari awan ke bumi menerangi batas cakrawala di kejauhan. Angin dingin berhembus menembus jaket buatan Korea, menusuk sampai ke tulang, bahkan selangkangan yang tertutup celana jins, menuntut kantung kemih untuk segera mengosongkan isinya.

Pasar Induk Gedebage sepi. Biasanya jam berapapun aku ke sini, selalu ramai orang yang berjualan. Ini seperti ditinggal mengungsi.

Aku mengutuk diriku sendiri yang sudah mulai pelupa, padahal belum lagi tua. Setengah abad masihlah usia muda dan ranum. Buktinya aku masih menggemari lagu-lagu di puncak tangga Bilboard 100. Atau masih menulis status di jejaring sosial dengan gaya anak alay. Atau jangan-jangan akunya yang tak sadar usia.

Seharusnya sore tadi aku sempatkan mentransfer uang ke sejumlah rekening. Pulsa internet dan telepon genggam, listrik prabayar, pemesanan toko online, dan juga tarik tunai. Tapi gerimis membuatku malas bergerak. Dan setelah lepas tengah malam baru tersadar bahwa suara denyutan dari meteran listrik, tulisan di layar monitor ‘kuota anda 0 kb’, pesanan tutup baterai kamera (yang jatuh entah di mana) di toko online batasnya jam 03:00 atau harus membuat order baru (stoknya terbatas), pembayaran pemesanan 2 jilid Kara ben Nemsi terbaru, isi di dompet tinggal tiga lembar Pattimura sementara untuk makan sahur setidaknya membutuhkan lima belas Pattimura.

Maka saat ini, lewat tengah malam, di depan mesin ATM Pasar Induk Gedebage yang sepi, aku berdiri.

Masukkan nomor PIN anda. Sukses.

Aku melakukan pembayaran tutup kamera. Sukses.

Lanjutkan transaksi lain? Ya

Masukkan nomor PIN anda. OK.

Aku melakukan pembayaran buku Kara Ben Nemsi IV. Beres. Entah mengapa, buku-buku terjemahan karya Karl May tidak lagi di jual di toko buku, hanya da di internet.

Lanjutkan transaksi lain? Ya

Masukkan nomor PIN anda. OK lagi.

Mengulangi untuk Kra Ben Nemsi V. Selesai. Harus melakukan dua order untuk dua buku. Sama sekali tak praktis.

Klontang!

Aku tersentak kaget. Segera aku melongok keluar. Tidak ada siapa-siapa. Biasanya selalu ada penjaga di dekat deretan ATM. Kali ini tidak ada siapa-siapa. Aku menegdarkan pandangan ke arah pasar yang remang-remang. Tidak ada gerakan.

Lanjutkan transaksi lain? Ya

Masukkan nomor PIN anda. Lagi-lagi OK.

Aku melakukan pembelian token listrik prabayar. Maaf, untuk saat ini transaksi tidak bisa dilakukan

Kucoba sekali lagi.

Masukkan nomor PIN anda.

Masukkan nomor pelanggan.

Maaf, untuk saat ini transaksi tidak bisa dilakukan

Tiba tiba...

Klontang! Gubraaak!

Aku melongok keluar. Lagi-lagi tidak ada siapa-siapa.

Segera kunyalakan sepeda motor yang kuparkir tepat di depan pintu gerai ATM dan melaju pulang. Tak kuhiraukan angin dingin malam yang menembus jaket buatan Korea. Yang kuinginkan adalah segera mencurahkan isi kantung kemih yang sudah memaksa untuk ditumpahkan.

Setelah menggigil lega karena berhasil memenuhi kebutuhan biologis yang bahasa eufimismenya ‘pipis’, aku duduk di depan televisi, hendak menonton siaran langsung sepak bola. Suara dari meteran listrik membuatku sadar: kartu ATMku ketinggalan.

Tanpa menghiraukan angin dingin malam yang menembus jaket buatan Korea, aku berpacu menuju gerai ATM pasar induk Gedebage yang berjarak 700 meter dari rumah. Tentu saja kartuku itu telah ditelan bulat-bulat oleh mesin ATM.

Klontang! Gubraaak! Gombyaaang!

 

Bandung, 24 Juni 2016

  • view 78