Fiksi Absurd

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 24 Mei 2016
Fiksi Absurd

Apakah Anda pernah merasa hampa? Kebanyakan orang di beberapa titik dalam hidup (misalnya usia remaja, beranjak dewasa, krisis paruh baya) umumnya mengalami titik terendah dalam hidup, yang dalam bahasa remaja disebut dengan galau. Tapi bagaimana cara mendapatkan manfaat dari kondisi ‘hidup tanpa tujuan’?

Semasa remaja, penulis pernah merasakan bahwa hidup ini tak bermakna. Untuk melawan kondisi ini, penulis sering mencoret-coret pikiran dalam bentuk puisi atau vignet, yang hasilnya aneh dan bahkan menakutkan, benar-benar absurd. Tapi coret-coret asal jadi tersebut adalah bahan perenungan penulis tentang misteri kehidupan.

Semasa kanak-kanak, penulis telah mengenal fiksi absurd. Alice's Adventures in Wonderland (1865) dan Through the Looking-Glass and What Alice Found There (1871) karya Lewis Carol, The Ingenious Gentleman Don Quixote of La Mancha (1612) karya Miguel de Cervantes, atau Baron Munchausen's Narrative of his Marvellous Travels and Campaigns in Russia (1785) oleh Rudolf Erich Raspe. Tentu saja yang penulis baca adalah karya terjemahan.

Kesukaan membaca juga memperkenalkan kepada sastra absurd abad 20.  

Kata absurd dapat berarti kurangnya tujuan, dan persis makna yang diambil dalam fiksi absurd. Fiksi absurd, sebuah genre sastra yang dibuat terkenal oleh Samuel Beckett, Franz Kafka, Nikolai Gogol, Albert Camus, Kurt Vonnegut, dan Paul Auster, fokus pada pengalaman tokoh yang tidak dapat menemukan tujuan hidup, diwakili melalui tindakan dan peristiwa yang mempertanyakan kepastian konsep eksistensial seperti kebenaran atau nilai. Di Indonesia, beberapa cerpen karya Danarto mungkin dapat dimasukkan ke dalam genre absurd.

Tujuan dari Absurdisme adalah untuk mendapatkan setidaknya langkah kecil lebih dekat dengan jawaban yang penting, yang menawarkan penghiburan kepada kerabat-hati, dan melahirkan penalaran individu penulis yang dapat berfungsi sebagai bantuan untuk orang lain.

Fiksi absurd jarang menilai tokoh atau tindakan mereka, tugas yang diberikan pada pembaca. Moral cerita umumnya tidak eksplisit, tema atau karakter—jika ada—ambigu. Selain itu, tidak seperti genre fiksi lainnya, karya absurd belum tentu memiliki struktur tradisional (plot, konflik, klimaks, dan lain-lain).

Psikolog di University of California, Santa Barbara, dan University of British Columbia menerbitkan sebuah laporan pada tahun 2009 yang menunjukkan bahwa membaca cerita absurd meningkatkan kemampuan subjek pengamatan untuk menemukan pola. Temuan mereka dirangkum bahwa ketika orang harus bekerja untuk menemukan konsistensi dan makna dalam cerita terfragmentasi, akan meningkatkan "mekanisme kognitif yang bertanggung jawab secara implisit untuk belajar keteraturan statistik."

Akhir kata, penulis menulis fiksi mini absurd berikut.

 ***

TANPA MAKNA

 

Andaikan daripada tidak. Namun jangan hanya akan, sebab yang kurang hendak.

 

Bandung, 24 Mei 2016

 

***

 

TANPA JAWAB



Artinya adalah ketika sesuatu tetapi bukan.

Bandung, 24 Mei 2016

  • view 221