Pola Tuang Haiku 5-7-5

Ikhwanul Halim
Karya Ikhwanul Halim Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 07 Mei 2016
Pola Tuang Haiku 5-7-5

Haiku Jepang telah secara tradisional disusun dalam 5-7-5 morae (unit bunyi). Ketika para penyair barat mulai menulis haiku dalam bahasa Inggris di tahun 1950-an, mereka mengadopsi bentuk 5-7-5 ini sebagai pola suku kata, dengan anggapan menciptakan kondisi serupa untuk haiku bahasa Inggris. Gaya ini adalah apa yang umumnya dianggap haiku "tradisional" berbahasa Inggris.

Belakangan, penyair haiku di Amerika Utara menyadari bahwa 17 suku kata bahasa Inggris menyampaikan lebih banyak informasi dari 17 unit bunyi bahasa Jepang, dan mulai menulis haiku dengan suku kata lebih sedikit, paling sering dalam tiga segmen yang mengikuti pola baris pendek – panjang - pendek tanpa struktur yang kaku. Gaya ini disebut oleh beberapa haiku bebas.

POLA 5-7 UNIT BUNYI DALAM BAHASA JEPANG

Pola 5-7-5 unit bunyi dalam haiku Jepang bukanlah muncul secara sembarangan. Konfigurasi mnemonic ini sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat Jepang sehari-hari, seperti dalam pengumuman, iklan ataupun peringatan.

hoshigarimasen (7) katsumadewa (5): "kita tak ingin apa-apa sampai kita menang (perang)"

kono menyayangi-ni (5) Noboru-bekarazu (7) keishichou (5): "Jangan panjat tanggul ini – Departemen Kepolisian"

Demikian pula, banyak kata-kata mutiara Jepang dan peribahasa serta lirik lagu, termasuk terjemahan, mengambil bentuk yang mirip:

owariyokereba (7) subete yoshi (5): "Semua ini berakhir baik" *

hotaru-no hikari (7) mado-no yuki (5): "Cahaya kunang-kunang, salju jendela" (lirik sesuai dengan Auld should auld acquaintance be forgot(8) and never brought to mind(6)?" in Auld Lang Syne])

Berbagai kombinasi dari 5 dan 7 unit bunyi telah mendominasi panggung sastra Jepang. Tanka (5-7-5-7-7) menjadi contoh yang paling menonjol.

Karena strukturnya, haiku dan tanka Jepang mudah diingat, yang merupakan salah satu alasan utama mengapa mampu bertahan dalam sejarah sastra. Di sisi lain, tidak ada kualitas mnemonic dalam haiku 5-7-5 berbahasa Inggris, karena unit bunyi Jepang berbeda dari suku kata bahasa Inggris. (Kualitas mnemonic dari 5-7-5 frasa Jepang lebih dekat dengan yang meter sajak dalam bahasa Inggris.) Faktor-faktor ini dikombinasikan dengan fakta bahwa bahasa Inggris membawa informasi lebih per suku kata daripada bahasa Jepang menunjukkan bahwa menggunakan 5-7-5 bentuk tidak selalu memberikan kondisi analog untuk menulis haiku dalam bahasa Inggris.

PENUTUP

Bagaimana dengan haiku dalam bahasa Indonesia?

Secara umum, penyair haiku menulis mengikuti pola 5-7-5 suku kata. Namun perlu dipikirkan juga efek ‘unit bunyi’ untuk kata non-morfologi anaptiktis. Misalnya, ‘samudra’ adalah bentuk baku dalam KBBI. Namun jika mengikuti ‘unit bunyi’ maka kata tersebut terdiri dari 4 ‘suku kata’, karena bagaimanapun cepatnya lidah Anda mengucapkan  ‘SAMUDRA’, tetap akan terdengar sebagai ‘SAMUDeRA’.  

Yang jadi pertanyaan penulis, apakah sebuah pola tuang pakem misalnya pola 5-7-5 akan menghentikan kamu dari menciptakan puisi? Tentu tidak. Kamu bebas menulis baik puisi, prosa, essay, atau sekadar status atau cuitan di media sosial. Mungkin akan ada yang memujimu. Akan jauh lebih banyak yang yang mengritikmu. Apakah penting segala pujian? Ataukah kritikan akan membuatmu berhenti menulis? Terima kritikan dengan lapang dada, tapi ingat, bukan mereka yang memberimu makan.

Yang penting, teruslah menulis.

 

Kota Raja, 7 Mei 2016

 

*Disadur bebas dari artikel Forms in English Haiku (Keiko Imaoka)

  • view 385