Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 2 Februari 2018   15:30 WIB
Status Sosial

   Sore itu aku duduk sendiri di ruang tamu mbah putri. Sambil memandang bingkai poto wisuda yang tersusun rapi di dinding. Ada perasaan sedih berbalut kesal. Kenapa harus ibuku yang tidak dikuliyahkan, diantara sekian anak mbah? Tapi ungkapan ini hanya kusampaikan pada mama.  Mama tdk akan menyalahkan mbah, yang saat itu keadaannya masih susah. Justru pengertian yang disampaikanya, serta harapan besarnya padaku untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yg lebih tinggi. "Mama tidak punya banyak harta untk diwariskan, tapi jika kamu mau gigih menimba ilmu, biayanya akan diusahakan. Sebanyak ilmu itulah yg nantinya akan menjadi warisanmu"

   Meski mama anak ke 2, ia yg rela ada mendampingi mbah berjualan, mencuci, dan mengurus adik2. Hingga yang lain bisa melanjutkan sekolahnya ke tingkat sarjana. Kian waktu bergulir aku mulai ikhlas, meski bukan gelar yang bersanding pada namanya saat ini. Bagiku mama yg punya peran besar hingga yg lainnya bisa mencapai gelarnya masing2.

   Meski demikian, status sosial memang melulu menjadi tolak ukur masyarakat. Mama sering bercerita padaku tentang sikap orang2 bermuamalah dengannya. Hingga terbesit dalam hatiku, " aku ingin buktikan pada mereka, bahkan dari seorang mama yg pendiam (tak bnyak bicara) ini bisa terlahir seorang aku" adapun aku, bukanlah siapa2. tp stidaknya karakter dan pendidikan yg kupunya saat ini terbentuk dari madrasah ula ialah 'ibuku'. Hingga suatu hari ada pengajian ibu2 yang diminta untuk mengisi. Alhamdulillah banyak yg respek, bahkan setelah aku balik ke mesir diminta untuk mengisi acara besar (maulid nabi).  tapi diluar dr pd itu, setelah itu mama bercerita padaku kalau mama merasa lebih disegani setelah tahu aku anaknya. Meskipun awalnya ibu2 itu tdk percaya. Yang malah mengira aku anaknya bude.

   Kini umurku sudah menginjak kepala dua, mama sudah sering mengingatkan untuk segera mencari teman hidup dari jauh2 hari. Karna pencarian untuk perjalanan ibadah yang panjang tidak bisa instan. Siapa yang tdk mengharapkan bisa bersanding dengan seseorang yg baik akhlaknya, baik nasabnya, baik ilmunya. Iyanya aku juga demikian. Alangkah indahnya Jika seorang yang dikagumi juga diam2 berjalan kearah kita. 

   Namun begitu, aku sering mengungkapkan pada mama tantang rasa minderku, "jika orang yang kukagumi itu nasabnya baik. Otomatis kedua orangtuanya pun baik, baik dr segi pendidikannya atau akhlaknya" lagi lagi status sosial, mama mengerti arah pembicaraanku. Pada undangan misalnya, nama ortu yg tertera. Tapi tanpa bnyak fikir mama balik menjawab. "Kalau lihat dr status sosial mba aya akan minder, tapi kalau mama lihat dari mba aya-nya. Mama justru percaya, siapapun nantinya yg akan jd teman hidup, mba aya mampu mendampinginya, yang penting saat ini isi dulu diri dengan kebaikan2. InshaAllah dikasih yg baik juga". 

Karya : aya faradisa