Pengingat diri dalam kekacauan hati

upik japang
Karya upik japang Kategori Motivasi
dipublikasikan 02 Agustus 2017
Pengingat diri dalam kekacauan hati

Awalnya aku sepertimu, mengingkari kenyataan yang mengkhianati harapan. Marah. Bahkan sampai menghujat Tuhan yang memberimu takdir memilukan. Kau berteriak dalam doa. Tak habis pikir, bukan seperti ini semestinya. Kau telah merancang dengan nyaris sempurna bagaimana ke depannya. Mimpimu, cita-cita juga tentang rasa cinta. Apa salahnya bila Tuhan berpihak. Toh aku tak merusak kemaslahatan umat, tuntutmu.

Namun disanalah Tuhan menampakkan kuasa. Memperlihatkan padamu, bahwa sebesar zarahpun kau tak punya andil memaksa apa yang menjadi takdir. Kau bisa saja memberontak, menyalahkan semua orang, mengkambinghitamkan keadaan atau bahkan menuntut pada Dia yang menurutmu tak adil. Tapi pada akhirnya, kau hanya bisa pasrah. Kau tak punya pilihan selain berserah. Kau akan menyadari, dirimu tak sehebat yang pernah kau fikirkan. Alasan itu pula yang membuatmu mengadukan ketidakberdayaanmu. Kau sadar diri, kau bagian dari makhluk lemah tanpa daya.

Memang tak ada yang melarangmu bermimpi. Setinggi apapun itu. Sebanyak yang kau mampu. Namun ketika Tuhan punya rencana lain, sekeras apapun kau mengupayakannya, kau tak akan bisa mengelak dari takdir yang sudah tergaris. Begitu kiranya hakikat seorang hamba. Menerima jatah nasibnya masing-masing. Tapi bukan berarti tanpa hikmah Dia memutuskan setiap perkara. Termasuk yang terjadi padamu saat ini. Kau pun tak tahu takdir apa lagi yang menantimu. Tetaplah berbaik sangka. Iringi dengan kerelaan hati, belajar mengikhlaskan yang terjadi. Karena sebaik-baik penerimaan, tentu saja sebuah keikhlasan. Dan balasannya, tentu lebih baik dari yang kau miliki saat ini.

Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran yang kau jalani, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit. ~ Ali bin Abi Thalib.


  • view 71