Bangga bernama EMHA

EMHA N AUTHOR
Karya EMHA N AUTHOR Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Juli 2016
Bangga bernama EMHA

   Kata pepatah nama adalah sebah do’a dan banyak orang jawa menamai anaknya dengan nama bahasa arab seperti sidik untuk anak laki-laki yang artinya jujur  dengan harapan kelak anaknya akan menjadi orang yang jujur dan amanah untuk anak perempuan yang artinya dapat dipercaya dengan harapan kelak anaknya menjadi orang yg dapat dipercaya baik dalam keluarga masyarakat dan lain sebagainya. Memang masalah nama orang jawa seringkali berhati-hati dalam memberikan nama terhadap anaknya karena mereka percaya kekuatan do’a sehinga mereka seringkali menamai anaknya dengan nama yang menurut orang zaman sekarang adalah nama yang sangat kuno atau jadul

  Zaman sekarang memang  sering kali orang tua memberi  nama anaknya tanpa tahu arti  namanya terlebih dahulu karena yang meraka cari bukan do’a dari sebuah nama melainkan keeksisan dari nama bahkan ada orang tua yang memberi nama anak mereka dengan nama yang artinya menyamai dengan nama yang artinya (naudzubillah). Juga jarang  sekali orang tua sekarang memberi nama dengan nama jawa karena menurut mereka akan sangat kuno jika anak mereka pada zaman sekarang di beri nama dengan nama jawa seperti contoh ahmad.

  Dan pada zaman dahulu setiap orang tua sebelum meberikan sebuah nama pada anaknya mereka selalu datang ke sesepuh atau ulama yang menurut mereka ahli dalam ilmu agama dan tahu makna makna dalam bahasa jawa atau arab, berbeda sekali dengan zaman sekarang dimana orang tua memberikan nama anaknya dengan nama aktor terkenal atau idola mereka tanpa tahu arti dan makna yang terkandung di dalamnya.

   Emha nailul author itu namaku  nama yang diberikan oleh seorang kakek yang belum sempat aku lihat wajahnya dan kakekkupun belum melihat pula tampang wajah cucunya. Dulu aku merasa malau dengan namaku karena menurutku namaku sangatlah tidak bagus tidak seperti nama teman-teman sekolahku yang lainya , bahkan aku dulu sering menganti namaku dengan nama rama aditya jika ada orang yang bertanya siapa namaku.

Dulu aku sangat malu dengan namaku yang sedikit aneh dengan tambahan e didepan m dan a dibelakan h karena kebanyakan dari temanku hanya mengunakan huruf m dan h atau m saja sebagai singkatan dari nama muhammad. Ditambah lagi dengan kata nailul yang kedengaranya seperti nama perempuan, apalagi dengan nama pangilan author yang sering kali membuatku merengek malu dan meminta pada ayahku untuk menganti namaku karena sering kali di ejek teman-temanku dan dislewengkan pula ketika memangil namaku dengan sebutan : astor lah, traktor lah, motorlah.

Sangat menyiksa bagiku dengan nama pangilan itu karena dulu aku belum mengerti betul nama yang diberikan oleh kakek ku karena yang aku tau hanya nama-nama yang keren kece dan kekinian.

“pak kenapa namaku jelek tidak seperti nama teman-temanku” tanyaku pada ayahku

“jelek apanya nama kamu itu sangat bagus nak” jawab ayahku

“kamu tahu nak siapa yang memberikan nama itu?” tanya ayahku

Aku mengeleng kepala mengisyaratkan aku tidak tahu

“nama itu adalah nama pemberian dari bapak yai (sebutan keluarga untuk kakekku) “ jawab ayahku

“bukanya bapak yai sudah meningal sebelum bapak menikah” tanyaku keheranan

“benar nak dulu bapak yai sebelum meninggal memerintahkan bapak agar memberikan nama tersebut untuk anak pertama bapak jika anak itu laki-laki” jawab ayahku

“kenapa begitu pak” tanyaku lagi

“bapak juga tidak tau yang bapak tau hanya nama nailul authornya yaitu nama sebuah kitab fiqih, kamu tau ilmu fiqih kan nak?”

Aku mengagukan kepala tanpa berkata “mungkin bapak yai berharap kelak cucunya menjadi ahli dalam ilmu fiqih” lanjut ayahku.

  Orang tua dulu sangat memperhatikan nama anaknya dengan sangat detail bahkan pernah  dulu saat aku masih di bangku SD ayahku  protes terhadap wali kelasku karena namaku tidak sesuai.

“ maaf bu ini nama anak saya bukan mh nailul author melainkan emha nailul author” protes ayahku di ruangan kantor

“loh apa bedanya pak saya menulis juga mh “ jawab sang guru

“yang ibu tuliskan adalah mh bukan emha kurang huruf edi depan m dan a dibelakang h” jawab ayahku, meski aku sedikit agak malu terhadap guruku karena prilaku bapaku yang menurtku pada saat itu sangat tidak perlu untuk di permasalahkan, tapi apalah daya saat itu aku masih anak ingusan yang belum tahu apa-apa dan belum tahu mengapa

Tapi itu dulu, berbeda dngan sekarang. Karena sekarang  aku tahu makna sebuah nama meski tidak semuanya tahu dan yang paling membuatku banga yaitu namaku dibuatkan oleh kakeku. yang  mana seorang kakek menyiapkan nama untuk cucunya sebelum bapaknya menikah. Sesepeial itukah diriku sehinga kakekku menyiapkan nama itu untukku meski belum tahu akan seperti apa wajah dan bentukku. Dan juga ayahku yang begitu memperjuangkan namaku .

 Terima kasih kakek telah memberikan nama yang begitu indah dan syarat akan sebuah do’a dan terimakasih pula ibu bapak yang telah memperjuangkanku dan namaku  tanpa kalian namaku hanya sebuah nama tidak ada makna apa apa dan namaku mungkin hanya sebagai formalitas saja

 

 

 

 

  • view 397

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    emha itu siapa sih?? *pura-pura gak kenal deh #eh

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    agak sulit dalam pengejaan?
    aku bisa lancar kok ngejanya

    • Lihat 3 Respon