SANTRI AZIMAT REZEKI

EMHA N AUTHOR
Karya EMHA N AUTHOR Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Mei 2016
SANTRI AZIMAT REZEKI

 

   “Santri iku jimateng rejeki[1] “ berkata seorang kiai pada santrinya

Semua santri binggung dengan perkataan kiainya, mereka berbisik-bisik menanyakan arti dari perkataan pak kiai suasana pun berubah menjadi sedikit rusuh karena suara bisik para santri

“wes to le ora usah ribut bakale awakmu ngerti opo seng tak maksud[2]” kembali pak kiai berkata menegur kerusuhan di majlis. Semua santri terdiam tapi semakin penasaran dengan perkata’an pak kiainya.

   “bissmillah......” pak kiai kembali membacakan kitab gundulnya untuk melanjutkan ngaji, selang beberapa menit ngajipun selesai, para santri beranjak untuk menjaba tangan pak kiai dan menciumnya sebagai tanda khidma mereka pada kiai atau gurunya. Setelah pak kiai kondur ke ndalem[3] para santri beranjak ke kamar masing-masing dengan membawa kitab yang tadi di pelajari beberapa sambil bergurau untuk melepas penat setelah beberapa jam berkutat dengan kitab.

Di pojok komplek pondok duduk seorang santri dia memandang kosong ke depan tanpa tahu apa yang sedang iya pandang, yang hanya ada dalam benak dan pikiranya adalah perkata’an pak kiai tadi. lama dia melamun adzan dzuhur berkumandang dia bergegas melangkah ke masjid untuk mengambil air wudu dan melaksanakan sholat berjama’ah dan dilanjutkan wirid seperti biasanya.

Setelah jam’ah selesai dia membaranikan diri untuk soan[4] ke kediaman pak kiai untuk menanyakan maksud dari perkataan tadi yang kebetulan pula pada saat itu acara ngaji setelah dzuhur libur.

     Lama dia menunggu pak kiai akhirnya beliau menemuinya di ruang tamu, sembari melangkah dengan lutut dia mendekat pada pak kiai untuk mencium tangan sebagai penghormatan.

“ono opo lek tubenmen nemoni  aku[5]” tanya pak kiai

“njih pak kiai kulo tengmriki salah setungal ipun tujuan nipun kulo kaping setungal ingih meniko silaturahmi kaping kalih ipun bade tangled[6]” sambil duduk takhyat dan kepala setengah menunduk dia menyampaikan tujuanya ke kediaman pak kiai

“meh teko opo[7]?” pak kiai bertanya padanya

“maksud saking ngendiko nipun pak kiai wau nopo ngih kulo mboten paham yai[8]?” dengan nada gerogi di memberanikan diri untuk bertanya

“wes saiki awakmu muliho neng umah, awakmu wes cukup le’e mondok neng kene tur masyarakat lagek mbutohke awakmu[9]” jawab pak kiai

“loh kog ngoten pak kiai, kulo tangled kog maleh diken wangsul[10]” bantahnya

“wes kono muliho bakale ngko awakmu ngerti jawabane[11]” jawab pak kiai dengan nada wibawanya

Diapun tak membantah dengan sedikit kekecewa’an karena tidak medapatkan jawaban melaikan mendapat perintah untu pulang dia kembali mengecup tangan pak kia sambil pamit dan meminta ridho pak kiai agar ilmu yang di dapatnya selama beberapa tahun dipesantren nantinya bisa bermanfaat.

    Setelah beberapa tahun keluar dari pondok pesantren dan mengabdikan dirinya untuk masyarakat dia menikahi gadis anak dari guru ngajinya dulu suaktu kecil. kini diapun sudah berkeluarga tingal dirumah yang begitu sederhana di temani istri tercinta dan dikaruniai 4 anak 3 laki-laki dan 1 perempuan . Dia tidak kaya pekerjaan seehari-harinya selain sebagai guru ngaji yang tidak digaji dia juga berprofesi sebagai buruh tani untuk mencukupi kehidupanya , mulai dari membiyayai kedua anaknya yang masih duduk dibangku SD, dan anak pertamanya yang sudah lulus dari bangku SMP dan akan melanjutkan ke bangku SMA. Diapun memberanikan diri untuk memasukan putranya ke pondok pesantren meski dia sadar bahwa penghasilanya pas-pasan tapi karena niatan yang begitu kuat untuk memesantrenkan anaknya akhirnya sang anakpun bisa masuk pondok pesantren.

     Dengan pengasilanya yang pas-pasanpun dia tetap bisa menyekolahkan anaknya yang kedua untuk masuk kebangku SMP dan juga membiyayai sekolah juga pondok untuk anak pertamanya. Lama dia menjalani kehidupan sederhananya dan seperti profesinya pagi sebagai buruh tani dan sore sebagai guru ngaji. Pada suatu sore setelah mengajar ngaji dia duduk dihalaman sambil melihat anak bungsunya yang sedang asyik bermain diapun  teringat akan perkataan pak kiainya dulu bahwa “santri adalah jimat rejeki” dia berfikir apakah ini maksud dari perkata’an pak kiai. Dia terdiam lama lalu timbul pemikiran bahwa memang benar apa yang dikatakan pak kiai dulu karena dia berfikir kenapa saya bisa menafkahi istri memberi uang jajan pada anaknya dan membiyayai semua sekolah dan pondok anaknya tanpa meras kelaparan dan kekurangan sandang dan pangan padahal dia berprofesi sebagai petani yang gajinya tak seberapa mungkin hanya 500 ribu perbulanya itupun kalo musim panen.

   “sekarang aku tahu maksud dari perkata’an pak kiai” dia berkata dalam hati sambil menganguk-angukankepala

 “ya memang perkataan pak kiai benar bahwa santri adalah jimat rezeki karena anakku menjadi santri aku bisa menafkahi keluarga tanpa kekurangan sandang dan pangan meski pas-pasan” lanjutnya meyakinkan akan pemikiranya

 

[1] Santri itu jimatnya rezeki

[2] Sudah nak ngausah ribut nanti kalian juga tahu

[3] Pulang ke rumah kediaman

[4] bertamu

[5] Ada apa nak tumben banget bertamu

[6] Iya pak kiai tujuan saya di sini karena yang pertama adalah silaturahmi dan yang kedua mau bertanya

[7] Mau bertanya apa

[8] Maksud dari perkata’an pak kiai tadi apa ya saya tidak paham

[9] Sudah sekarang kamu pulang ke rumah, sudah cukup kamu mondoknya , dan juga masyarakat sedang membutuhkanmu

[10] Loh ko gitu pak kiai saya hanya bertanya kenapa saya malah disuruh pulang

[11] Sudah sana pulang nanti juga kamu bakal tahu jawabanya

  • view 205