jeritan seorang SANTRI

EMHA N AUTHOR
Karya EMHA N AUTHOR Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Maret 2016
jeritan seorang SANTRI

?Sinar matahari siang begitu menyengat tapi kami tetap beraktifitas seperti biasanya yang kebetulan kalo siang jamnya para santri beristirahat, ada yang duduk diemperan kamar sambil bergurau, tiduran, bermain bola, menghafal, bersiap untuk solat jam'ah ashar, bahkan ada yang baru pulang dari sekolah, gelak tawa terdengar dari sudut sudut kamar begitu lepas tawa mereka seperti tanpa beban pikiran, sunguh pemandangan dan suasana yang begitu indah.

tapi lepas dari semua itu aku masih berkutat dengan satu pertanya'an yaitu "apakah seorang santri harus menjadi kiai" yah memang kebanyakan kiai itu berawal dari santri.

menjadi seorang santri memang terlihat gagah karena memakai peci, pakaian rapi, sarung, tapi dibalik semua itu seorang santri memiliki beban yang begitu berat untuk di emban kenapa ? karena seorang santri dituntur agar bisa menguasai ilmu agama dan menjadi pedoman bagi masyarakat setelah lulus dari pondok pesantren.

dan sudah hampir empat tahun saya menjadi santri di ponpes FUTUHIYYAH mranggen demak. ah sebenarny tidak pantas gelar santri saya pakai karena sampai saat ini saya belum terlalu mengerti hakikat santri sendiri itu apa karena kebanyakan masyarakat memandang bahwa sanntri iyalah yang berdomisili di pondok pesantern, memakai bajju rapi, sarungan, berpeci, mengaji dan masih banyak lagi

"awakmu seng bener ngajine yo nang, gen iso ngenteni bapak ngesuk mben ne bapak wes ra ono, di priatin le urip neng pondok" perkataan bapak yang berkali kali diucapkan sebelum berangkat ke ponpes ketika waktu libur telah usai.

perkataan itu memang terdengar ringan tapi tidak bagiku karena aku tau bahwa bapak begitu mengharapkan aku agar bisa menjadi seperti beliau yaitu menjadi orang yang pandai mengaji seperti keluarga ku yah bisa di akui aku memang lahir dari kalangan seorang kiai mulai dari kake, nenek, pakde dan hampir semua keluargaku itu orang yang pintar mengaji, tapi entah mengapa dari latar belakangku itu justru aku tidak tertarik untuk menjadi seperti mereka. justru aku ingin membelakangi dari latar belakan keluarga yang kebanyakan bisa ngaji.

"bah kulo mboten pingin dados kiai" kata itu yang sangat ingin aku katakan kepada bapak saya karena benar benar tidak mudah menjadi seorang kiai, bahkan sampai saat ini aku masih membisu tak mengucapkan kata itu kepada bapaku, karena aku masih takut untuk mengatakanya. dan sampai saat ini aku masih memikirkan bagai mana cara mengatakanya.

apakah aku salah jika aku bertolak belakang dengan latar belakang keluargaku ? entahlah yang pasti aku akan tetap menjalani rutinitasku sebagai seorang santri walu sampai saat ini aku belum bisa apa apa setidaknya aku memenuhi kewajiban juga memenuhi keinginan orang tua.

entah sampai kapan aku seperti ini, dengan beban yang begitu berat, dan entah kapan waktunya yang pasti akan aku katakan yang sebenarnya yah karena aku ingin menjadi apa yang aku inginkan tanpa meningalkan latar belakang, tapi sunguh aku tak ingin menjadi seorang KIAI pah, aku ingin menjadi orang biasa yang bisa sedikit ilmu agama, itu saja.